Singa dan Banteng

EtIndonesia. Seekor singa lapar melihat sekawanan banteng yang sedang asyik merumput. Dengan tubuh merendah, punggung melandai, singa itu merayap pelan, memanfaatkan rerumputan tinggi sebagai penyamaran.

Langkah demi langkah, dia semakin dekat. Namun kawanan banteng sama sekali tidak menyadari bahaya, masih dengan santai menikmati rumput hijau.

Saat jaraknya sudah cukup dekat, singa pun melompat. Bagai anak panah, dia menerjang ke arah kawanan banteng. Seluruh kawanan mendadak panik dan berlarian.

Singa segera mengincar seekor banteng muda yang tubuhnya belum begitu kuat. Banteng itu berlari sekencang-kencangnya. Setiap kali singa hampir menyergap, dia berbelok tiba-tiba, memberi jarak. Namun, kekuatan banteng itu tidak bertahan lama. Nafasnya semakin berat, jarak dengan singa semakin menyempit.

Perlawanan yang Mengejutkan

Tiba-tiba, banteng itu berhenti, berbalik, dan mengarahkan tanduk tajamnya ke arah singa. Singa pun terhenti, berputar-putar mencari celah untuk menyerang, tetapi tanduk banteng selalu siap menghadangnya.

Keduanya terjebak dalam duel tegang, saling menunggu siapa yang lebih dulu lengah.

Lalu, banteng itu maju selangkah. Anehnya, singa justru mundur selangkah, bahkan menjatuhkan diri ke tanah dengan keempat kaki menghadap ke langit, seolah-olah seekor kucing kecil tak berdaya. Hanya matanya yang menyipit tetap menatap tajam ke arah banteng.

Melihat itu, banteng tiba-tiba diliputi rasa percaya diri yang berlebihan. Dia menyerang dengan tanduk, menusuk-nusuk tubuh singa yang terbaring.

Tiga Detik Penentu Nasib

Kamera program Manusia dan Alam dari dari progam stasiun TV  menangkap momen ini. Tubuh besar banteng menutupi layar penuh, bergerak ganas menusuk ke bawah. Tiga detik—sunyi, menegangkan, seolah waktu berhenti.

Namun tiga detik itu cukup untuk menentukan hidup dan mati.

Tiba-tiba, tubuh sang banteng raksasa goyah lalu roboh. Tanpa sempat meronta, dia tumbang. Gigi tajam singa telah mencengkeram lehernya dengan kuat.

Pesan Kehidupan

Hukum rimba memang sederhana: yang lemah dimangsa yang kuat. Tapi dari kisah ini, ada makna lebih dalam.

Singa menang bukan hanya karena taring dan kekuatannya, tetapi juga karena kelicikan dan kesabaran dalam berpura-pura lemah. Banteng kalah bukan hanya karena kurang tajamnya gigi, tetapi juga karena kesombongan yang lahir dari tertipu dan percaya diri berlebihan.

Keberanian adalah sebilah pedang yang bisa menebas lawan. Namun, kesombongan adalah pedang yang justru menusuk diri sendiri.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine