Pengakuan Palestina Jadi Bola Api: Inggris Diguncang Tuntutan, Italia Rusuh, Israel Ancam

EtIndonesia. Sidang Majelis Umum PBB ke-80 resmi dibuka di New York pada 22–30 September dengan agenda utama membahas perdamaian Timur Tengah, khususnya isu pembentukan negara Palestina. Namun, momen ini langsung diguncang dinamika diplomatik yang mengejutkan.

Inggris dan Sekutu Barat Akui Palestina

Pada 21 September 2025, Inggris, Kanada, Australia, dan Portugal secara resmi mengumumkan pengakuan atas Negara Palestina. Keputusan ini langsung memicu protes keras dari Israel dan Presiden Amerika, Serikat Donald Trump.

Langkah tersebut menambah daftar panjang negara yang mendukung Palestina—hingga kini 144 negara anggota PBB telah mengakui Palestina, sementara sekitar 46 negara termasuk AS, Israel, Jerman, dan Italia tetap menolak. Analis memperkirakan Prancis dan Belgia akan segera mengikuti jejak Inggris, yang bisa menambah tekanan internasional terhadap Israel.

Namun, hanya beberapa jam setelah pengumuman Inggris, Otoritas Palestina menuntut kompensasi sebesar £2 triliun (sekitar Rp40.000 triliun) sebagai ganti rugi atas “hilangnya tanah dan penderitaan rakyat Palestina” selama periode mandat Inggris di Palestina (1917–1948). Tuntutan ini langsung menambah ketegangan baru dalam diplomasi global.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menanggapi tegas: “Negara Palestina tidak akan pernah ada. Pengakuan ini adalah hadiah besar bagi ekstremisme.”

Washington sejalan dengan Tel Aviv. Gedung Putih menyebut langkah sekutu Barat itu sebagai “hadiah diplomatik untuk Hamas.” Sebaliknya, Inggris dan Kanada menegaskan bahwa pengakuan Palestina dimaksudkan untuk membuka jalan menuju perdamaian abadi dan solusi dua negara.

Protes di Italia

Di Italia, kebijakan Perdana Menteri Giorgia Meloni yang menolak pengakuan Palestina justru memicu kerusuhan besar pada 21 September 2025 malam. Ribuan demonstran pro-Palestina turun ke jalan di Milan. Bentrokan pecah di sekitar Stasiun Pusat Milan, memaksa polisi antihuru-hara menggunakan gas air mata dan water cannon. Puluhan orang dilaporkan terluka, termasuk aparat kepolisian.

Hubungan Israel–Tiongkok Memburuk

Seiring memanasnya isu Palestina, hubungan bilateral Israel–Tiongkok juga mengalami guncangan. Pada 22 September, beredar video pekerja konstruksi asal Tiongkok yang ditolak masuk ke lokasi proyek di Tel Aviv. Mereka bahkan dijaga ketat oleh polisi Israel, memperlihatkan tanda-tanda keretakan hubungan ekonomi kedua negara.

Ketegangan semakin diperburuk oleh hubungan Israel–Taiwan yang makin erat. Anggota parlemen Israel, Boaz Toporovsky, dari Partai Masa Depan, melakukan kunjungan keduanya ke Taipei sepanjang 2025. Beijing menuduh Israel “mengacaukan hubungan diplomatik” dan memperingatkan konsekuensi serius.

Taiwan baru saja merilis sistem pertahanan rudal balistik Qiang Gong (Strong Bow). Analisis militer AS menyebut teknologi itu sangat mirip dengan rudal Israel Gabriel Mk2, memunculkan dugaan adanya kerja sama pertahanan rahasia antara Israel dan Taiwan. Media Beijing menilai langkah ini sebagai “Xi Jinping sedang bermain api” yang membuat Israel murka.

Trump, Hamas, dan Panggung PBB

Presiden AS Donald Trump menegaskan sikapnya pada 22 September melalui juru bicara Gedung Putih, Leavitt: “Mengakui Palestina sama saja memberi hadiah pada Hamas.”

Trump dijadwalkan menyampaikan pidato di Majelis Umum PBB pada 23 September 2025, dan menggelar pertemuan dengan sejumlah pemimpin Arab—termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Mesir, Yordania, dan Turki—untuk membahas peta jalan perdamaian Timur Tengah.

Sementara itu, Netanyahu dijadwalkan bertemu langsung dengan Trump di Washington pada 29 September 2025.

Di sisi lain, Hamas mengirimkan surat resmi ke Washington yang berisi tawaran gencatan senjata selama 60 hari dengan imbalan pembebasan setengah jumlah sandera yang masih ditahan. Tawaran ini datang meski Gaza hampir rata akibat serangan udara Israel dalam beberapa pekan terakhir.

Kesimpulan

Pengakuan Palestina oleh Inggris dan sekutunya pada 21 September 2025 menjadi titik balik baru dalam konflik berkepanjangan Timur Tengah. Namun, alih-alih mendekatkan jalan menuju perdamaian, langkah itu justru memicu gelombang reaksi keras: dari tuntutan triliunan pound oleh Palestina, penolakan Israel–AS, kerusuhan di Italia, hingga ketegangan diplomatik Israel dengan Tiongkok.

Majelis Umum PBB ke-80 yang berlangsung 22–30 September di New York pun dipastikan akan menjadi ajang pertempuran diplomasi global paling panas dalam beberapa tahun terakhir.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine