Kesalahan Umum dalam Rutinitas Perawatan Rambut yang Harus Dihindari

Rambut berada pada kondisi paling sehat ketika kutikulanya utuh dan sisiknya tertutup rapat. Rutinitas perawatan rambut yang salah dapat merusak kutikula dan menyebabkan rambut patah

Flora Zhao

Rambut paling sehat saat pertama kali tumbuh dari folikel—ibarat sweater kasmir baru. Seiring waktu, tanpa perawatan yang tepat, sweater itu akan berbulu dan kehilangan kilaunya. Sama seperti sweater, batang rambut menjadi rentan terhadap kerusakan kumulatif, akhirnya berubah kusut, rapuh, dan lebih mudah patah—yang berujung pada kerontokan rambut.

“Beberapa kebiasaan dapat membuat rambut lebih mudah patah, sehingga terlihat seperti Anda mengalami kerontokan rambut,” kata Dr. Cameron Rokhsar, dokter kulit sekaligus profesor klinis dermatologi di Mount Sinai Hospital, kepada The Epoch Times.

Menyisir, mencuci, mengeringkan, dan menggunakan kondisioner dengan benar adalah dasar untuk menjaga keutuhan batang rambut. Sayangnya, banyak orang tanpa sadar melakukan rutinitas perawatan rambut yang justru merusaknya. Berikut beberapa kesalahan umum—dan cara menghindarinya:


1. Terlalu Sering Mewarnai dan Melakukan Perm

Salah satu penyebab paling umum kerusakan rambut adalah overprocessing, termasuk perawatan kimia berulang seperti pewarnaan, perm, serta terlalu sering menggunakan pengering rambut.

Praktik ini sangat merusak rambut, kata Rokhsar. Namun banyak orang tetap mewarnai atau melakukan perm tiap dua hingga tiga bulan—bahkan setiap bulan—yang menurutnya terlalu sering.

Rambut terdiri dari tiga lapisan. Kutikula—lapisan terluar dan pelindung batang rambut—tersusun atas lebih dari enam lapisan sel bersisik yang saling bertumpuk. Rambut berada pada kondisi terbaik saat kutikula utuh dan sisiknya tertutup rapat, menciptakan permukaan halus yang memantulkan cahaya sehingga rambut tampak berkilau dan lembut.

Proses perm (permanent wave atau pengeritingan permanen) dan pewarnaan dengan sengaja mengganggu lapisan kutikula agar bahan kimia bisa masuk. Akibatnya, rambut yang sudah diproses secara kimia tidak akan pernah kembali selembut atau sekuat sebelumnya.

Pada perm, misalnya, penelitian dengan pelacak fluoresen menemukan bahwa rambut yang diperm memungkinkan penetrasi hingga rata-rata 25 mikrometer, dibandingkan hanya 5 mikrometer pada rambut sehat yang tidak diolah.

Berbeda dengan penataan sementara, perm melibatkan pengangkatan sisik kutikula lalu memutus dan membentuk ulang ikatan kimia di dalam korteks untuk mengubah struktur rambut secara permanen. Perawatan kondisioner hanya memberi perlindungan sementara—begitu rambut dicuci, lapisan tersebut hilang.

Seiring waktu, dengan pengulangan perawatan kimia, sel-sel kutikula menjadi rusak dan tidak beraturan. Rambut pun tampak kasar dan kaku. Paparan panas saat perm juga membuat rambut kehilangan kelembapan dan asam amino, sehingga lebih rapuh. Dalam pelurusan kimia, misalnya, setidaknya 35 persen sistein terurai untuk mengubah rambut keriting menjadi lurus.

Dalam pewarnaan, zat warna menembus kutikula dan masuk ke korteks, menghancurkan pigmen alami lalu membentuk molekul warna baru. Reaksi oksidatif ini menimbulkan kerusakan permanen pada batang rambut. Zat alkali dan oksidator dalam pewarna juga mengurangi kekuatan rambut.


2. Salah Menggunakan Sampo

Banyak orang mengoleskan sampo hingga ke seluruh batang rambut lalu menggosoknya dengan keras.

Cara yang benar adalah dengan membusakan sampo di telapak tangan terlebih dahulu, fokus membersihkan kulit kepala, lalu biarkan busa mengalir melalui batang rambut sambil dibimbing dengan lembut menggunakan jari.

Dr. Armen Nikogosian, dokter pengobatan fungsional, merekomendasikan penggunaan sampo dua hingga tiga kali seminggu. Dalam banyak kasus, keramas setiap hari terlalu berlebihan. Bilas dengan air biasa sudah cukup, katanya.

Kebanyakan sampo cenderung mengeringkan kulit kepala dan rambut, serta sering menyebabkan iritasi. Sampo juga menghilangkan sebum—kondisioner alami yang membantu menghaluskan kutikula dan mengurangi listrik statis.

Pembersihan lembut dengan air membantu kulit kepala “bernapas,” mengurangi peradangan, dan memulihkan kemampuan alami kulit kepala mengatur produksi minyak.

Namun, bagi orang yang tinggal di lingkungan tercemar atau memiliki kulit kepala berminyak, keramas setiap hari mungkin perlu dilakukan.

“Dengan sampo bebas sulfat, kulit kepala Anda tidak akan meradang,” kata Dr. Manish Mittal, ahli transplantasi rambut sekaligus pendiri Mittal Hair Clinic di London. Sulfat adalah bahan pembersih keras yang bisa mengikis minyak alami.

Shu Rong, praktisi pengobatan tradisional Tiongkok di Cambridge, Inggris, merekomendasikan sabun hitam Afrika dan sabun buatan tangan berbahan minyak alami seperti minyak zaitun.

Jika berenang di laut atau kolam, gunakan sampo khusus yang diformulasikan untuk menghilangkan garam dan klorin, karena keduanya dapat mengikis kelembapan dan melemahkan rambut.


3. Melewatkan Kondisioner

Sebagian orang—terutama pria—menganggap kondisioner merepotkan atau membuat rambut berminyak. Namun, menggunakan kondisioner setelah keramas adalah langkah penting yang tidak boleh dilewatkan.

Batang rambut tidak bisa memperbaiki dirinya sendiri. Saat rambut menua dan rusak, lapisan pelindung kutikula terkikis, meninggalkan celah permanen dan mengurangi kekuatan rambut. Perubahan pH setelah keramas juga bisa mengangkat kutikula, membuat rambut mudah kehilangan kelembapan dan protein.

Kondisioner membantu menutup kembali kutikula, mengisi celah, dan memberi perlindungan tambahan setelah setiap keramas.

Rokhsar menyarankan penggunaan kondisioner bahkan untuk rambut berminyak. Umumnya, minyak berlebih di akar bukan disebabkan oleh kondisioner.

Bagi yang ingin menghindari kondisioner sintetis, Rokhsar merekomendasikan minyak alami seperti minyak zaitun, kelapa, dan almond. Minyak ini dapat masuk ke batang rambut dan mengisi kembali protein yang hilang.

Minyak dapat dioleskan pada batang rambut atau kulit kepala, dan sebaiknya didiamkan minimal 5–10 menit sebelum dibilas.

Bahan rumah tangga lain yang bermanfaat adalah cuka. Shu menyarankan membilas rambut dengan larutan cuka encer (1:10 cuka putih atau cuka apel dengan air hangat) setelah keramas. Bilas kembali dengan air hangat untuk menghilangkan sisa cuka. Keasaman alaminya membantu menutup kutikula, membuat rambut lebih halus dan berkilau.

Untuk rambut dan kulit kepala kering, lanjutkan dengan serum atau minyak rambut. Oleskan pada rambut lembap agar kelembapannya lebih terkunci.


4. Menyisir dan Mengeringkan Rambut dengan Cara yang Salah

Cara Anda mengeringkan dan menyisir rambut setelah keramas berpengaruh besar. Rambut basah sangat rapuh. Banyak orang menarik dan meluruskan rambut basah sambil meniup dengan panas tinggi—kebiasaan ini bisa memutus ikatan kimia rambut dan membuatnya mudah patah.

Cara terbaik adalah menepuk rambut dengan handuk, biarkan kering alami, lalu rapikan dengan sisir bergigi jarang.

Alat penata rambut berbasis panas seperti hair dryer, catokan, dan pengeriting dapat merusak batang rambut. Panas tinggi membuat air dalam batang rambut menguap menjadi uap, menciptakan gelembung di dalam batang rambut (bubble hair).

Jika tetap ingin menggunakan alat panas, gunakan pengaturan suhu rendah dan jaga jarak sekitar 15 cm dari rambut.


5. Mengabaikan Pijat Kulit Kepala

Pijat kulit kepala sederhana bisa membantu merangsang pertumbuhan rambut sehat dengan meningkatkan aliran darah dan mengaktifkan folikel rambut.

“Pijat bisa membantu mencegah kerontokan,” kata Alexandra Roach, praktisi kesehatan holistik bersertifikat. Konsistensi adalah kunci—pijat sesekali tidak akan memberi dampak nyata.

Sebuah penelitian pada 327 orang dengan kerontokan rambut permanen menemukan bahwa setelah rata-rata tujuh bulan pijat harian (11–20 menit per hari), hampir 70 persen melaporkan kerontokan berhenti atau tanda-tanda pertumbuhan rambut baru.

Studi lain selama 24 minggu pada pria Jepang sehat menunjukkan pijat kulit kepala meningkatkan ketebalan rambut dan memengaruhi lebih dari 5.000 gen dalam sel folikel rambut.

Banyak orang secara alami memijat kepala saat keramas, tapi biasanya terlalu singkat. Nikogosian menyarankan pijat selama 2–4 menit dengan tekanan sedang menggunakan ujung jari.

Mary Helen Lee, herbalis klinis, menyarankan cara lain: mandi dengan air hangat lalu bergantian dengan air dingin. Perubahan suhu ini melancarkan sirkulasi darah ke kulit kepala.


Dari Luar dan Dari Dalam

Tips ini bisa membantu menjaga kesehatan rambut dari luar. Namun, perawatan jangka panjang juga bergantung pada kondisi dalam tubuh.

“Rambut lebih dari sekadar penampilan luar—itulah cerminan kesehatan dan vitalitas Anda,” kata Shu.

Asupan gizi seimbang, manajemen stres, tidur yang cukup, serta hubungan sosial yang sehat semuanya berperan penting agar rambut tetap sehat, berkilau, dan kuat.

Flora adalah seorang reporter kesehatan untuk The Epoch Times. Ia meraih gelar master dalam bidang demografi dan pernah menjabat sebagai editor jurnal ilmu sosial selama tujuh tahun.

Mengalihkan fokusnya dari isu-isu makro seperti perubahan populasi dan pembangunan ekonomi ke bidang kesehatan pribadi, Flora merasakan kegembiraan dan kepuasan besar dalam pekerjaannya. Ia mendasarkan artikelnya pada telaah literatur yang mendalam serta wawancara mendetail dengan para ahli, dengan tujuan memberikan konten yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.

Email: [email protected]

INSPIRASI ERABARU

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

Lima Tanda di Pagi Hari yang Menunjukkan Tubuh Anda dalam Kondisi Baik

Banyak masalah kesehatan kronis tidak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menunjukkan keberadaannya. Menit-menit setelah bangun tidur dapat menjadi jendela yang memperlihatkan apa yang dilakukan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine