EtIndonesia. Dalam pidato yang mencuri perhatian di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-80, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump melontarkan serangan frontal terhadap PBB. Dia menuduh organisasi dunia itu sebagai lembaga yang “hanya minta uang tanpa bekerja nyata” dan mempertanyakan relevansinya di kancah diplomasi global.
Suasana dan Kontes Teknis di Lokasi
Pidato Trump berlangsung sekitar jam 9:50 pagi waktu New York, sesuai jadwal sesi tingkat tinggi Sidang Umum.
Namun, momen dramatis ikut mewarnai acara: Trump menyebut eskalator gedung PBB tiba-tiba macet, dan teleprompter yang akan membantunya membaca naskah pidato juga mengalami gangguan.
Dalam pidatonya dia menegaskan bahwa insiden itu menurutnya mencerminkan betapa PBB “gagal bekerja.”
Namun, PBB membantah bertanggung jawab atas kendala teknis tersebut. Juru bicara PBB menyatakan bahwa eskalator berhenti karena mekanisme keamanan dipicu, sementara masalah teleprompter berada di bawah penanganan tim Amerika Serikat sendiri.
Isi Pidato: Kritik Terhadap PBB dan KPI Trump Sendiri
Dalam pidatonya yang berdurasi hampir satu jam, Trump tidak menahan diri dalam mengkritik lembaga dunia dan kebijakan internasional. Beberapa poin inti dari pidatonya:
- Trump menyebut bahwa diplomasi sejati bagi Amerika tidak berasal dari PBB, melainkan dari tindakan langsung AS, yang menurutnya telah “mengakhiri tujuh perang.”
- Dia menuding bahwa negara-negara yang mengambil langkah pengakuan terhadap Palestina pada dasarnya memberi “hadiah kepada Hamas.”
- Trump mempertanyakan fungsi PBB: “PBB gagal menghentikan perang. Justru AS yang berulang kali harus turun tangan. Pertanyaannya, untuk apa sebenarnya PBB ada?” (parafrase dari retorikanya)
- Selain itu, dia mengkritik agenda perubahan iklim sebagai “hoax” dan menyebutnya sebagai “the greatest con job ever.”
- Trump juga memperingatkan negara-negara agar tidak terlalu bergantung pada “kebijakan hijau global” yang menurutnya merugikan ekonomi mereka.
- Dia menegaskan bahwa AS mendukung PBB “100 %” meski sering berbeda pandangan — dalam sebuah pertemuan bilateral setelah pidato, Trump mengatakan kepada Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres bahwa negara itu “tetap berada di belakang PBB” meskipun ada kritik tajam.
Reaksi Dunia dan Penilaian
Pidato Trump ini menuai beragam reaksi keras dari diplomat, pengamat, dan media internasional:
- Banyak diplomat luar negeri menyebut pidato ini sebagai retorika kampanye yang dilekatkan ke panggung diplomasi.
- Mantan juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Ned Price menegaskan bahwa pidato tersebut “bukan pidato kebijakan luar negeri melainkan sekadar MAGA madlibs”.
- Beberapa analis menganggap paduan sikap agresif Trump terhadap PBB dan agenda iklim bisa memperburuk posisi AS dalam kerjasama multilateral.
- Laporan media juga mencatat bahwa insiden teknis (escalator, teleprompter) ditangkap sebagai simbol kegagalan organisasi PBB dalam menyediakan fasilitas dasar, meskipun pihak PBB membantah keterlibatan mereka.
Analisis: Strategi Politik atau Tanda Keretakan Multilateralisme?
Langkah Trump ini bisa dilihat sebagai upaya membingkai narasi bahwa AS berdiri sendiri sebagai aktor global yang efektif — tanpa bergantung pada institusi dunia. Dengan sengaja “menembak” PBB dari podium, Trump memperkuat citra skeptisnya terhadap kerjasama antarnegara dan institusi multilateral.
Namun, kritik bahwa tindakan semacam ini bisa melemahkan diplomasi global juga punya bobot. Bila negara adidaya secara terbuka meremehkan lembaga dunia, risiko krisis kepercayaan dan isolasi meningkat. Apalagi PBB selama ini menjadi platform lintas negara untuk menangani isu perdamaian, iklim, kesehatan, dan hak asasi manusia.
Penutup
Insiden di PBB pada 23 September 2025 ini akan tetap dikenang sebagai salah satu momen paling konfrontatif dalam hubungan AS dengan lembaga dunia. Bagi Trump, pidato di podium PBB adalah panggung simbolik untuk menyampaikan ambisinya: memperkuat “Amerika terlebih dahulu” dan meredam lembaga yang menurutnya tidak lagi relevan. Bagi dunia, ini membuka bab baru dalam ketegangan antara nasionalisme dan multilateralisme di era pasca-pandemi.


