Dialog Indah Antara Gadis 24 Tahun dan Pria Dewasa

EtIndonesia. Cahaya lilin temaram. Di meja makan, duduk berhadapan seorang pria dan seorang wanita.

“Aku suka padamu,” kata sang wanita sambil memainkan gelas anggur di tangannya, suaranya tenang.

“Aku sudah punya istri,” jawab pria itu sambil menatap cincin di jarinya.

“Aku tak peduli. Aku hanya ingin tahu… perasaanmu. Apakah kamu juga menyukaiku?”

Pria itu mengangkat wajah, memperhatikan gadis di depannya. Usianya baru 24 tahun, muda, penuh semangat. Kulitnya putih, tubuhnya bugar, matanya bening dan berbicara. Gadis yang menawan—sayang sekali.

“Kalau kamu juga menyukaiku, aku tak keberatan jadi kekasihmu,” kata gadis itu, tak sabar menunggu jawaban.

“Aku mencintai istriku,” jawab pria itu dengan tegas.

“Cinta? Cinta apa? Dia sekarang pasti sudah menua, tak secantik dulu lagi. Buktinya, di acara-acara perusahaan, kamu tak pernah membawanya…”

Ucapan gadis itu terhenti saat bertemu tatapan dingin pria itu. Suasana pun hening.

Lalu pria itu bertanya:  “Kamu suka padaku karena apa?”

“Karena kamu matang, tenang, penuh wibawa. Sikapmu menunjukkan kejantanan, tahu cara memperhatikan orang, banyak sekali alasannya. Intinya, kamu berbeda dengan pria-pria lain yang pernah kutemui. Kamu istimewa.”

Pria itu menyalakan rokok, lalu berkata:  “Kamu tahu, tiga tahun lalu aku sama saja seperti pria-pria biasa yang kamu bicarakan.”

“Tidak tahu, dan aku tidak peduli. Bahkan kalaupun kamu pernah dipenjara.”

Pria itu melanjutkan tanpa memandangnya: “Tiga tahun lalu aku baru lulus kuliah, pekerjaanku berantakan. Aku pemarah, pemabuk, cuek pada wanita. Aku sering melampiaskan kekesalan dengan cara-cara kotor. Bahkan pernah ke klub malam mencari wanita, sampai ditangkap polisi.”

“Lalu apa yang mengubahmu? Apakah dia?” tanya sang gadis.

“Iya.”

“Dia orang yang bisa melihat jauh ke dalam, selalu mengajarkanku hal-hal penting. Dia mengingatkanku untuk tidak terlalu menghitung untung rugi, untuk tidak terjebak pada hal-hal kecil. Dia mengajariku agar berusaha ramah pada orang lain. Di hadapannya, aku seperti anak kecil yang butuh bimbingan. Mungkin, rasanya sama seperti yang sekarang kamu rasakan padaku.”

Pria itu tersenyum samar, lalu meneruskan: “Dengan kata-katanya, aku belajar menerima kenyataan. Aku tahu aku bukan siapa-siapa, jadi aku bekerja lebih keras. Akhir tahun itu, pekerjaanku mulai membaik. Kami menikah.”

Dia menghembuskan asap rokok, lalu teringat kembali: “Hidup waktu itu sangat susah. Hanya ada satu ranjang, sedikit perabot. Pernah, setelah setahun menikah, aku memberinya cincin berlian pertama—hasil menabung diam-diam selama berbulan-bulan. Kalau dia tahu, pasti dia akan melarangku membeli.”

“Karena rokok dan minumanku, tubuhku sering sakit. Saat musim dingin, tiap malam sebelum tidur dia selalu membuatkan sup hangat. Rasanya… hanya dia yang bisa membuatnya begitu.”

Pria itu tenggelam dalam kenangan, berbicara panjang lebar, sementara gadis muda itu hanya diam mendengarkan, tanpa memotong sedikit pun.

Saat dia sadar waktu sudah berlalu, jam telah menunjukkan pukul 10 malam.

“Ah, maaf, aku tidak sadar sudah begitu malam,” dia tersenyum menyesal.  “Sekarang kamu mengerti, kan? Aku tidak akan pernah, dan tidak mungkin, berkhianat padanya.”

Gadis itu menghela napas: “Baiklah. Kalah dari wanita seperti itu, aku ikhlas.” 

Dia lalu menambahkan: “Tapi saat aku seusianya kelak, aku akan lebih baik darinya.”

Pria itu tersenyum: “Kalau begitu, kamu pasti akan menemukan pria yang lebih baik dariku. Bukan begitu?”

Dia pun bangkit berdiri.

 “Malam sudah larut, di rumah sup hangat pasti sudah dingin. Biar aku antarkan kamu pulang.”

“Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri. Kamu pulanglah, jangan biarkan dia menunggu.”

Pria itu tersenyum penuh arti, berbalik untuk pergi.

Sebelum benar-benar berlalu, gadis itu bertanya pelan: “Apakah dia cantik?”

Pria itu terdiam lama, lalu menjawab pelan: “… Ya, sangat cantik.”

Sosok pria itu pun menghilang dalam kegelapan malam, meninggalkan gadis itu termenung di bawah cahaya lilin.

Malam itu, pria itu pulang ke rumah. Dia masuk ke kamar, menyalakan lampu, duduk di tepi ranjang, lalu berkata lirih:  “Sayang, ini sudah yang keempat kalinya. Kenapa kamu membuatku jadi pria sebaik ini, hingga begitu banyak wanita menyukaiku? Bagaimana kalau suatu hari aku benar-benar tergoda? Kenapa kamu membuatku jadi lebih baik, tapi kamu sendiri justru pergi lebih dulu? Aku… aku sangat kesepian.”

Suaranya tercekat. Air mata jatuh setetes demi setetes, membasahi bingkai foto yang digenggamnya. Dalam temaram lampu kamar, foto lama itu menampilkan wajah lembut seorang wanita yang telah tiada.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda tentang Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

Lima Tanda di Pagi Hari yang Menunjukkan Tubuh Anda dalam Kondisi Baik

Banyak masalah kesehatan kronis tidak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menunjukkan keberadaannya. Menit-menit setelah bangun tidur dapat menjadi jendela yang memperlihatkan apa yang dilakukan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine