EtIndonesia. Pendiri perusahaan Panasonic, Konosuke Matsushita, dikenal sebagai “Dewa Manajemen” berkat keterampilan bisnisnya yang luar biasa dan metode kepemimpinan yang maju.
Hotoi Seiichi, yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Ketua di Sanyo Electric, kemudian bergabung dengan Matsushita. Saat dia menjabat sebagai kepala pabrik, terjadi kebakaran besar yang menghanguskan fasilitas. Hotoi ketakutan luar biasa, dia yakin dirinya pasti akan diberhentikan atau setidaknya diturunkan pangkatnya.
Namun, ketika Matsushita menerima laporan tentang kebakaran tersebut, dia hanya berkata singkat: “Kerja yang baiklah ke depannya.”
Hal ini sungguh mengejutkan. Sebab biasanya, bahkan untuk kesalahan kecil saja—seperti salah cara menggunakan telepon—Matsushita bisa langsung menegurnya dengan keras.
Mengapa dalam kasus kebakaran besar ini Matsushita justru tidak marah?
Jawabannya ada pada rahasia manajemennya.
· Saat seseorang melakukan kesalahan kecil, umumnya dia tidak terlalu menyadarinya. Karena itu, perlu ada teguran tegas agar dia waspada dan belajar memperbaiki diri.
· Sebaliknya, saat seseorang membuat kesalahan besar, bahkan orang paling ceroboh pun akan sadar diri dan merasa sangat bersalah. Dalam situasi itu, teguran keras hanya akan memperparah tekanan batin. Yang lebih efektif justru adalah pendekatan emosional—memberinya kesempatan untuk menebus dengan kerja keras dan loyalitas.
Contohnya pada kasus kebakaran tadi: karena tidak dihukum, Hotoi malah semakin diliputi rasa bersalah, sehingga dia menjadi lebih setia kepada Matsushita dan bertekad membalas kepercayaan itu dengan bekerja dua kali lebih giat. (jhn/yn)


