EtIndonesia. Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) diwarnai kejutan besar ketika Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, secara terbuka menyatakan dukungan terhadap keamanan dan stabilitas Israel. Pernyataan ini datang di tengah pertemuan penting yang juga dihadiri Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan para pemimpin delapan negara Arab dan Muslim.
Pertemuan Trump dengan Pemimpin Arab–Muslim
Donald Trump pada 24 September 2024 bertemu dengan para pemimpin negara muslim, dari Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), Mesir, Yordania, Turki, dan Indonesia. Dalam pertemuan tersebut, Trump menegaskan komitmen bahwa Amerika Serikat tidak akan membiarkan Israel mencaplok Tepi Barat. Dia menyebut langkah itu penting demi tercapainya gencatan senjata di Gaza sekaligus membuka jalan bagi rekonstruksi pascaperang.
Rencana Trump mencakup beberapa poin utama:
- Gencatan senjata sementara selama beberapa pekan,
- Pembebasan 48 sandera yang masih ditahan,
- Penarikan bertahap pasukan Israel,
- Penempatan pasukan perdamaian dari negara-negara Arab,
- Rekonstruksi Gaza dengan pendanaan kolektif dari negara peserta.
Meski begitu, rencana tersebut tidak melibatkan Hamas secara langsung. Negara-negara peserta menyambut baik inisiatif itu, namun mereka tetap menolak keras kemungkinan Israel menduduki Gaza, mengusir warga Palestina, ataupun mencaplok Tepi Barat.
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan menyebut pertemuan ini “produktif,” sementara media UEA menekankan bahwa pembebasan sandera dan bantuan kemanusiaan menjadi prioritas utama.
Insiden Konvoi Erdoğan di New York
Di tengah agenda diplomatik, insiden terjadi pada pagi hari ketika konvoi Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan menuju markas PBB di Manhattan. Konvoinya dihentikan oleh polisi New York karena jalan sedang diprioritaskan untuk rombongan Trump.
Pengawal Erdoğan mencoba menyingkirkan barikade dan memaksa maju, namun polisi menolak dengan tegas. Situasi sempat memanas dan ekspresi Erdoğan terlihat kesal, tetapi akhirnya rombongan mematuhi prosedur. Polisi menegaskan langkah itu adalah prosedur standar pengamanan VIP.
Peristiwa serupa juga dialami Presiden Prancis, Emmanuel Macron pada 22 September, ketika iring-iringannya terhenti akibat jalur yang diprioritaskan untuk Trump.
Indonesia Mengejutkan Dunia
Momen paling mengejutkan datang dari pidato Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, di hadapan Sidang Umum PBB.
Prabowo menegaskan: “Kita harus mengakui, menghormati, dan menjamin keamanan serta stabilitas Israel. Hanya dengan itu, perdamaian sejati dapat terwujud.”
Prabowo bahkan menawarkan lebih dari 20 ribu pasukan penjaga perdamaian untuk ditempatkan di Gaza atau wilayah konflik lain, sesuai mandat Dewan Keamanan PBB.
Pidato ini disambut delapan kali tepuk tangan meriah di ruang sidang, termasuk apresiasi terbuka dari Presiden Trump. Media utama Israel, The Times of Israel menyebut langkah Indonesia sebagai “momen keberanian dari negara Muslim terbesar di dunia.”
Namun, sikap tersebut juga memicu perpecahan di kalangan negara-negara pro-Palestina, yang menilai langkah itu sebagai pergeseran besar dalam posisi diplomatik Indonesia.
Dampak Geopolitik
Pengamat menilai pernyataan Prabowo bukan sekadar soal isu Palestina–Israel, melainkan sinyal penguatan aliansi strategis antara AS dan Indonesia. Langkah ini dipandang sebagai upaya menghadapi ekspansi pengaruh Tiongkok di kawasan Asia-Pasifik.
Dengan dukungan politik yang mengejutkan dari Jakarta, Trump kini memiliki pijakan baru dalam mendorong inisiatif perdamaian Timur Tengah. Namun, tantangan terbesar tetap pada implementasi rencana tersebut, terutama karena absennya Hamas dalam proses ini.


