EtIndonesia.Pertama kali saya melihat kuda sungguhan, rasanya seperti menatap layar perak di bioskop. Kehadiran kuda itu mengguncang desa. Meski saat itu musim panen, orang-orang dari desa sekitar tetap berbondong-bondong datang. Rumah si pemilik kuda, Qüe sang tukang jagal, dipenuhi keramaian. Setiap tamu yang datang, kalau belum sempat menepuk pantat kuda, rasanya enggan pulang.
Kuda itu gagah dan tinggi, kulit dan bulunya putih bersih. Meski sudah tua, tetap tampak indah—pasti dulunya seekor kuda perang. Namun di tangan Qüe, dia diperlakukan tak ubahnya hewan ternak biasa. Dia dipaksa mengerjakan pekerjaan kasar yang bahkan sapi pun enggan melakukannya. Tak pernah dimandikan, tak pernah disisir, tubuhnya penuh lumpur dan kotoran. Bekas cambuk baru berlapis di atas luka lama. Dia dihina, disiksa, dilecehkan.
“Jangan sakiti kuda ini!”
Tak ada seorang pun berani mengatakan itu kepada Qüe yang galak. Tapi saya, bocah tiga belas tahun dengan suara gemetar, memberanikan diri bersuara—meski keluar hanya seperti bisikan.
Tekad Seorang Bocah
Hari itu musim panas, udara panas membara. Diam-diam, saya mengikuti kuda itu. Entah karena dia tak terbiasa bekerja di sawah, atau karena merasa dipermalukan mencangkul di depan banyak orang, kuda itu sering berontak, berusaha melepaskan bajak yang membebani tubuhnya.
Qüe makin marah, makin brutal. Kata-katanya dingin: setelah musim panen usai, dia akan menyembelih kuda itu, membagi dagingnya ke orang sekampung.
Hati saya seperti diiris seribu pisau. Saya pun mengambil keputusan: saya harus menyelamatkannya.
Aksi Tengah Malam
Suatu malam, saya memberanikan diri. Dengan hati berdebar, saya mengalihkan perhatian anjing penjaga, lalu menyelinap masuk ke kandang. Saya membuka pintu, melepaskan tali pengikat leher kuda.
“Pergilah! Kamu bebas sekarang. Berlarilah sejauh mungkin,” bisik saya.
Bagaimana mungkin seekor kuda perang yang mulia harus merendahkan diri di tangan seorang tukang jagal kejam?
Namun kebebasan yang datang tiba-tiba rupanya terlalu asing. Kuda itu hanya berdiri termangu, matanya kosong. Saya bahkan harus menariknya keluar dari kandang dan menutup pintu kembali, agar dia tak bisa lagi mundur.
“Sampai di sini yang bisa kulakukan. Jalan menuju kebebasan ada di depanmu,” saya menunjuk arah jalan setapak yang menembus keluar desa. “Jangan kembali. Jangan biarkan dirimu terhina lagi.”
Namun dia hanya menggeleng pelan, berdiri kaku di depan kandang. Matanya tak menunjukkan kerinduan pada kebebasan, seakan jiwanya sudah lama dipenjara.
Kesempatan yang Hilang
Saya memberi isyarat dari jauh, berulang kali menggerakkan tangan, berdesis pelan: “Lari! Cepat lari!”
Tapi kuda itu tetap tak bergerak.
Di dalam rumah, dengkur Qüe mendadak terhenti. Tak lama kemudian, lampu menyala. Saya panik. Aksi penyelamatan berhenti seketika. Kuda itu tetap diam di tempat.
Beberapa minggu kemudian, setelah musim panen selesai, Qüe menjual kuda itu ke tukang jagal lain di desa sebelah.
Akhir yang Pahit
Tak lama, di jalan, saya mendengar orang-orang bercakap tentang daging kuda. Saya berharap mendengar sesuatu seperti: “Saat makan dagingnya, gigi kami membentur peluru yang tertinggal di tubuhnya,” sebagai bukti bahwa dia memang seekor kuda perang.
Namun, yang saya dengar hanya satu kalimat datar: “Rasanya tidak enak. Ada bau keringat asam.”
Dan di situlah, cerita seekor kuda yang tak pernah bisa diselamatkan, berakhir.
Kisah ini menusuk hati—tentang kebebasan yang tersedia, namun tak sanggup diambil; tentang jiwa yang terlalu lama dikekang, hingga lupa bagaimana bermimpi.(jhn/yn)


