Kantor Administrasi Dunia Maya Partai Komunis Tiongkok (Cyberspace Administration of China) mengumumkan akan meluncurkan operasi khusus penertiban media sosial, dengan fokus menindak penyebaran kekerasan, kebencian, pesimisme, serta emosi negatif lainnya. Analis menilai, dengan memburuknya ekonomi dan meningkatnya ketidakpuasan rakyat, semakin banyak orang memilih “tiarap” (tidak peduli), bahkan menunggu rezim berganti. Karena ketakutan ekstrim inilah, PKT memperluas lingkup penertiban.
EtIndonesia. Pada 22 September, situs resmi CAC menyatakan operasi ini menargetkan platform sosial, video pendek, siaran langsung, dengan pemeriksaan ketat terhadap topik, komentar, hingga kolom pesan. Fokus utamanya termasuk menindak penyebaran “rumor” terkait ekonomi, keuangan, kesejahteraan sosial, dan kebijakan publik.
“Yang mereka sebut rumor ekonomi, keuangan, atau sosial itu justru fenomena nyata yang diciptakan oleh sistem PKT. Ketika orang membagikan kenyataan ini, tentu membuat rakyat sadar. Kesadaran itu menjadi ancaman bagi rezim, inilah logikanya,” ujar penulis Tionghoa-Kanada, Sheng Xue.
Analis menilai, semakin luasnya penertiban menunjukkan ketakutan rezim yang semakin besar.
Sheng Xue menambahkan: “Semua kebijakan keras ini lahir karena rezim kini menganggap seluruh masyarakat sebagai musuh. Ketakutan mereka terhadap runtuhnya kekuasaanlah yang mendorong kebijakan semacam ini.”
Menurut Sheng, isi penertiban berkaitan erat dengan situasi besar di Tiongkok: ekonomi merosot tajam, pasar properti lesu, pengangguran anak muda meningkat, dan keluhan rakyat terhadap tekanan hidup makin banyak. “Banyak orang sudah melihat jelas sifat rezim otoriter ini. Karena itu, makin banyak yang memilih ‘berbaring’: tidak konsumsi, tidak kerja, tidak melakukan apa-apa, hanya menunggu perubahan rezim.”
CAC juga menargetkan hal-hal seperti “menghasut pertentangan ekstrem”, “menyebar kepanikan dan kecemasan”, hingga “menciptakan peristiwa darurat palsu yang mengganggu ketertiban umum”.
Sheng menjelaskan: “Apa yang mereka sebut ‘menghasut pertentangan’ sebenarnya adalah rezim sendiri yang sadar rakyat dan pemerintah sudah saling berseberangan. Maka, mereka melabelinya sebagai ‘pertentangan jahat’, untuk mencegah rakyat mengambil tindakan terhadap sektor yang mereka kendalikan ketat.”
Seorang netizen di platform X menilai, istilah “menghasut pertentangan” merujuk pada komentar seorang blogger daratan, Hu Chenfeng, yang membagi orang menjadi “manusia Android” dan “manusia Apple”. Sedangkan “menyebar kekerasan” mengacu pada jutaan warganet yang terus mengejar bukti kasus dugaan pembunuhan aktor Yu Menglong.
Netizen itu menambahkan, rezim ini tidak pernah mengakui kesalahan, selalu menutup-nutupi kebenaran dengan kekerasan. Kasus wanita berantai, kasus barbeku Tangshan, hingga kematian Hu Xinyu semuanya demikian.
“CAC, Departemen Propaganda, hingga Kantor Informasi Dewan Negara, semua adalah ‘Kementerian Kebenaran’ yang memonopoli wacana. Jika mereka bilang benar itu salah, maka itu salah. Mereka bisa seenaknya menyebut rusa sebagai kuda. Apa yang disebut rumor atau bukan, semuanya mereka yang tentukan,” kata pengacara HAM Tionghoa di AS, Wu Shaoping.
Wu menegaskan, kontrol opini PKT justru mendistorsi realitas masyarakat Tiongkok. Tanpa kebenaran, pasti timbul berbagai bencana sosial.
“Beberapa tahun ini, banyak kasus brutal: orang menggunakan mobil menabrak warga secara acak, penusukan di jalan, bahkan serangan karena hasutan nasionalisme, seperti membunuh orang Jepang atau warga asing. Karena internet, dunia jadi tahu. PKT malah menganggap penyebaran informasi inilah penyebab meningkatnya kekerasan sosial.”
Fokus lain penertiban adalah tuduhan “menghasut kekerasan online”, menyebarkan teori “melawan kekerasan dengan kekerasan”, menyebar pesimisme, menggaungkan “usaha sia-sia”, “belajar sia-sia”, hingga menyebar pandangan hidup putus asa yang bisa memicu tren meniru.
“PKT terus menekan kebebasan berpendapat, membuat masyarakat semakin tertekan. Hidup rakyat sudah berat dan penuh ketidakadilan, mereka butuh tempat untuk meluapkan emosi. Rezim mengira jika suara-suara di internet dibungkam, anak muda tidak akan berbaring, tidak akan bergantung pada orang tua, dan tidak akan putus asa. Mereka mencoba menghapus kebenaran demi menutupi masalah, demi stabilitas semu dan kelangsungan rezim,” tambah Wu Shaoping.
Pada September ini, CAC sudah menindak platform Weibo, Kuaishou, Xiaohongshu, serta memberi sanksi pada tiga platform besar. (***)


