EtIndonesia. Perang Rusia–Ukraina yang sudah berlangsung selama tiga setengah tahun akhirnya memasuki babak baru. Meski lama berada dalam kebuntuan, kali ini titik balik yang mengguncang bukan datang dari garis depan di Donbas, melainkan dari sebuah postingan media sosial Presiden AS, Donald Trump. Postingan itu muncul sesaat setelah pertemuan tertutupnya dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy di sela Sidang Umum PBB di New York.
Unggahan Setara “Bom Nuklir Politik”
Trump menulis sebuah unggahan panjang yang segera dipandang sebagai “bom nuklir politik”. Dalam pernyataannya, dia menegaskan keyakinannya bahwa Ukraina, dengan dukungan Uni Eropa dan NATO, mampu merebut kembali seluruh wilayahnya yang dikuasai Rusia, termasuk Krimea yang dicaplok sejak 2014.
“Dengan waktu, kesabaran, serta sokongan finansial dari Eropa—terutama NATO—kembali ke batas asli sebelum perang bukanlah sesuatu yang mustahil,” tulis Trump pada 24 September 2025.
Untuk pertama kalinya, Trump secara terbuka menyatakan dukungan penuh pada kemungkinan kemenangan total Ukraina.
Sindiran Pedas untuk Moskow
Trump tak hanya memberi semangat bagi Kyiv, tetapi juga melontarkan sindiran keras kepada Rusia:
- Rusia yang dulu percaya bisa menguasai Ukraina hanya dalam hitungan hari, kini terjebak dalam perang lebih dari tiga tahun.
- Alih-alih menunjukkan kekuatan, Rusia justru memperlihatkan kelemahan dan disebut Trump sebagai “macan kertas”.
- Rakyat Rusia kini harus antre panjang demi bensin, sementara ekonomi negara mereka kian terkuras.
Trump menyebut momen ini sebagai saat terbaik Ukraina untuk melakukan langkah besar di medan perang.
“Tampar dan Balut Luka” ala Trump
Meski keras, Trump menutup pernyataannya dengan gaya khas:
“Bagaimanapun, saya berharap kedua negara bisa baik-baik saja. AS akan terus memasok senjata ke NATO, dan bagaimana mereka menggunakannya, itu bukan urusan kami. Semoga beruntung.”
Dengan kata lain, dia tetap berupaya tampil seimbang: menyindir Putin habis-habisan, namun tetap menampilkan sikap “menginginkan perdamaian”.
Reaksi Zelenskyy dan Kremlin
Zelenskyy terlihat antusias, meski menahan diri dalam komentar resmi.
“Saya berterima kasih kepada Trump. Kami berbagi informasi rahasia tentang situasi garis depan, namun saya tidak bisa membeberkannya sekarang,” ujarnya.
Sebaliknya, Kremlin menunjukkan kegelisahan. Juru bicara Dmitry Peskov menyebut Rusia “tak punya pilihan selain melanjutkan perang”. Ironisnya, dia menambahkan, “Kami lebih mirip beruang, bukan macan,” yang justru memancing gelombang ejekan di media Barat.
Ketegangan di Udara
Beberapa jam setelah pernyataan Trump, NORAD (Komando Pertahanan Udara Amerika Utara) melaporkan dua pesawat pembom strategis Tu-95 dan dua jet tempur Su-35 Rusia memasuki wilayah identifikasi pertahanan udara Alaska.
AS langsung mengirim empat jet F-16 dan satu pesawat peringatan dini E-3 untuk mencegat. Meski tak sampai melintasi wilayah udara resmi AS, insiden ini dianggap provokasi serius.
Menariknya, Tu-95 adalah pesawat peninggalan era Perang Dingin dengan suara bising khas, sehingga lebih dinilai sebagai unjuk gigi ketimbang ancaman nyata.
Insiden NATO pada 24 September
Tanggal 24 September 2025 juga diwarnai serangkaian insiden yang menargetkan negara-negara NATO:
- Spanyol: Pesawat Menteri Pertahanan Margarita Robles terganggu sinyal GPS ketika melewati dekat Kaliningrad.
- Denmark: Drone tak dikenal muncul di bandara militer dan fasilitas F-16/F-35, diduga bagian dari “serangan hibrida” Rusia.
- Polandia: Sedang menyiapkan undang-undang agar militer dapat menembak jatuh drone atau rudal Rusia tanpa menunggu persetujuan NATO/UE.
- Rumania: Memberi kewenangan baru bagi komandan garis depan untuk langsung menembak jatuh pesawat asing militer yang melanggar wilayah udara.
Manuver Besar AS dan NATO
Sebagai respons, Amerika Serikat memperlihatkan keseriusan melalui operasi militer besar:
- 24 September 2025: Pesawat komando E-6B Mercury (dikenal sebagai “pesawat kiamat”) mendarat di Jerman.
- Armada kapal induk USS Gerald R. Ford berlatih di Laut Barents, bersama Jerman, Prancis, dan Norwegia.
- B-2 Spirit Stealth Bomber diterbangkan ke Eropa untuk ikut dalam latihan nuklir “POKER 2025-3” bersama jet tempur Inggris dan Prancis.
Latihan ini mencakup simulasi tiga tahap serangan nuklir: persiapan, serangan jarak jauh, dan eksekusi. Sejarah mengingatkan, latihan seperti ini sangat berisiko. Pada 26 September 1983, sistem peringatan dini Soviet sempat salah mendeteksi serangan nuklir AS—hanya diselamatkan oleh keputusan Kolonel Stanislav Petrov yang menolak melaporkannya.
Rusia Ancam Balik
Duta Besar Rusia untuk Prancis, Aleksey Meshkov, menegaskan:
“Jika NATO berani menembak jatuh pesawat Rusia, itu sama saja dengan deklarasi perang.”
Pernyataan ini semakin memperkuat dugaan bahwa drone misterius di langit Eropa belakangan memang dikendalikan Rusia.
Kesimpulan
Perang Rusia–Ukraina yang sempat buntu kini kembali bergejolak. Lewat satu unggahan, Trump mengubah wacana global: mendukung penuh kemenangan Ukraina, menyindir Rusia sebagai “macan kertas”, sekaligus membuka ruang eskalasi militer NATO.
Dunia kini menghadapi pertanyaan serius: apakah ini awal kemenangan Ukraina, atau justru awal konfrontasi langsung Rusia–NATO yang bisa menyeret dunia ke krisis lebih besar?


