Para ahli mengimbau agar tidak menepuk atau menghancurkan serangga ini, melainkan menyingkirkannya dengan hati-hati dan segera mencuci kulit jika terjadi kontak.
EtIndonesia. Kasus luka kulit parah akibat tomcat (rove beetle) bermunculan di berbagai wilayah Provinsi Shandong, Tiongkok, sehingga membuat pihak berwenang dan masyarakat setempat waspada.
Serangga yang di Tiongkok dijuluki “asam sulfat terbang” dan dikenal internasional sebagai “acid bug” ini mengeluarkan racun kuat bernama pederin, yang dapat memicu reaksi serius bila terkena kulit manusia.
Tomcat bukan serangga agresif dan tidak menggigit atau menyengat. Namun, ketika merayap di kulit, orang sering secara refleks menepuk atau menghancurkannya, sehingga cairan tubuh beracun terlepas.
Dengan tingkat keasaman pH hanya 1–2, pederin sangat asam dan bisa menyebabkan dermatitis akut. Gejalanya meliputi kemerahan, bengkak, lepuh, dan pustula. Pada kasus lebih parah, racun ini bisa menimbulkan luka borok atau perubahan warna kulit yang menetap.
Menurut Qilu Evening News, media utama di Shandong, yang dikutip oleh The Epoch Times (25/9/2025), seorang warga Jinan bernama Li (50 tahun) menemukan puluhan tomcat di rumahnya. Karena panik, ia menghancurkan beberapa dengan tangan kosong. Tanpa mencuci tangan, ia kemudian menyentuh wajah dan leher. Dalam beberapa jam, kulit di area itu memerah, bengkak, dan muncul lepuh. Ia didiagnosis dermatitis akibat tomcat di rumah sakit setempat. Gejalanya membaik setelah seminggu perawatan.
Dalam kasus lain, seorang bocah 8 tahun terluka saat tidur. Keluarganya mengaku melihat tomcat di rumah malam sebelumnya, tetapi tidak menyingkirkannya. Keesokan pagi, anak itu bangun dengan bercak merah menyakitkan, lepuh, dan pustula di leher, kelopak mata, serta pergelangan tangan. Dokter menduga ia menghancurkan serangga saat tidur. Meski kondisinya membaik setelah perawatan, kulit yang terkena masih meninggalkan noda gelap.
Wang Chuanzhen, dokter kulit di Jinan Institute of Dermatology, mengatakan kliniknya melihat peningkatan signifikan dalam beberapa minggu terakhir. Kini, rata-rata dua hingga tiga pasien per hari dirawat akibat dermatitis tomcat, sebagian dengan gejala parah.
Di Tiongkok utara, serangga ini paling aktif antara Agustus–September, terutama pada malam hangat dan lembap atau setelah hujan. Wabah lebih sering muncul di daerah dengan kelembapan tinggi dan vegetasi lebat.
Sejumlah warga Jinan mengunggah foto di media sosial yang memperlihatkan kulit mereka. Ada yang menunjukkan kumpulan papula dan lepuh, sementara lainnya menampakkan bercak cokelat besar di leher, menandakan kerusakan kulit yang lebih serius daripada gigitan serangga biasa.
“Tomcat tidak menyerang manusia,” jelas Wang. “Bahaya muncul ketika serangga dihancurkan dan racunnya terkena kulit.”
Ia menyarankan, bila menemukan tomcat di tubuh, jangan ditepuk atau dibunuh. Sebaiknya ditiup pelan atau diangkat dengan tisu atau selotip. Jika kulit sudah terkena, segera cuci dengan air mengalir. Jika muncul gejala, segera cari pertolongan medis.
Tomcat berukuran kecil, sekitar 3 mm, dengan ciri khas warna tubuh: kepala hitam, toraks kuning, sayap hitam, perut depan kuning, dan ujung ekor hitam.
Serangga ini biasa bersembunyi di tempat lembap dan teduh seperti rerumputan atau kebun sayur pada siang hari. Malamnya, mereka tertarik pada cahaya lampu dan sering masuk ke rumah. Tomcat paling banyak ditemukan di iklim hangat, termasuk Asia, Afrika, dan Amerika Selatan, yang kerap mengalami wabah dermatitis musiman.


