EtIndonesia. Pada malam 30 November 1874, Istana Blenheim di London dihiasi cahaya gemerlap. Sejumlah bangsawan pria dan wanita sedang menari dengan anggun. Tiba-tiba, seorang wanita bangsawan yang cantik dan penuh pesona berteriak kesakitan karena perutnya mendadak mulas. Orang-orang segera membawanya ke sebuah ruang ganti wanita darurat. Dari peristiwa luar biasa itulah, lahirlah seorang bayi prematur bernama Winston Churchill.
Churchill berasal dari keluarga bangsawan Marlborough, salah satu dari tidak lebih dari 20 keluarga bergelar adipati di Inggris (di luar keluarga kerajaan). Keluarga Marlborough sendiri menempati urutan ke-10 dalam silsilah adipati. Ibunya, Jennie Jerome, adalah putri seorang jutawan asal Amerika. Pada 1873, Jennie menikah dengan Randolph Churchill, namun pada 24 Januari 1895, Randolph meninggal dunia pada usia 46 tahun akibat sakit. Saat itu, Jennie sudah berusia lebih dari 40 tahun, namun masih tetap mempesona, anggun, dan memikat banyak pria. Tak lama kemudian, dia berniat menikah lagi dengan seorang pria berusia 25 tahun.
Kabar ini langsung menimbulkan gelombang penolakan dari keluarga dan sahabat. Jennie pun mulai ragu.
Namun, yang mengejutkan, anaknya yang kala itu juga berusia 25 tahun, Winston Churchill, dengan tegas menggenggam tangan ibunya dan berkata: “Ibu tersayang, sekalipun seluruh dunia menentang, aku akan selalu berdiri di sisimu. Karena itu, Ibu juga harus berani.”
Tatapan penuh keteguhan itu membuat Jennie berani melangkah ke pelaminan dalam balutan gaun putih. Meski akhirnya pernikahan tersebut tidak bertahan lama, keberanian ibunya jelas diperkuat oleh restu anaknya.
Lebih dari sepuluh tahun kemudian, Jennie yang berusia 60 tahun kembali memutuskan untuk menikah. Lagi-lagi, hampir semua orang, terutama lawan politik putranya, menentang. Jennie sempat goyah karena takut langkahnya bisa menghambat karier Winston yang saat itu sedang menanjak di dunia politik.
Tapi, sekali lagi, Churchill memegang tangan ibunya dengan keteguhan luar biasa: “Jika aku harus memilih antara karierku atau kebahagiaan Ibu, aku rela memilih yang kedua. Jangan ragu, kebahagiaan Ibu adalah kebahagiaanku.”
Jennie pun kembali menikah dengan penuh sukacita, kali ini dengan pria berusia 36 tahun—bahkan lebih muda daripada putranya sendiri. Pada hari pernikahan itu, Churchill berdiri tegak di samping ibunya, memberikan dukungan seperti sebelumnya.
Dua kali menerima pria sebaya dirinya sebagai ayah tiri, di bawah tekanan keras masyarakat, menunjukkan betapa lapang dada dan besar hati Churchill. Dia bukan hanya putra berbakti, tetapi juga manusia dengan jiwa yang penuh kelapangan.
Tahun 1908, London dikejutkan dengan kabar gembira: Winston Churchill yang berusia 33 tahun bertunangan dengan Clementine Hozier yang berusia 23 tahun. Hari pernikahan mereka berlangsung meriah dengan kehadiran banyak tamu terhormat.
Menariknya, saksi pernikahan mereka adalah David Lloyd George, Menteri Keuangan saat itu, sementara pengiring pria yang dipilih Churchill justru adalah lawan politiknya di parlemen, Lord Hugh Cecil.
Di sanalah tergambar satu budaya khas politik Inggris: di ruang politik, mereka bisa saling serang layaknya musuh; namun di kehidupan pribadi, mereka bisa tetap bersahabat, saling menghormati, bahkan menjadi keluarga.
Seperti pernah dikatakan Engels dalam pidatonya di makam Marx: “Marx mungkin punya banyak musuh politik, tetapi dia tidak punya musuh pribadi.”
Itulah salah satu daya tarik mendalam dari budaya Barat modern.
Kesimpulan:
Keluasan hati lebih penting daripada kebebasan.
Keluasan hati itu lahir dari penghormatan terhadap hak setiap orang:
· Aku mungkin tidak sepakat dengan pendapatmu, tapi aku akan mati-matian membela hakmu untuk menyampaikannya.
· Aku mungkin tidak mendukung tindakanmu, tapi aku akan menjaga kebebasanmu untuk melakukannya selama itu sah.(jhn/yn)


