EtIndonesia. Sejak Presiden AS Donald Trump menulis unggahan di media sosial yang secara tegas berpihak pada Ukraina dan menyatakan dukungan penuh terhadap penyediaan persenjataan, dinamika perang Rusia–Ukraina mengalami perubahan drastis. Nada pernyataan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin pun terdengar jauh lebih berani.
Foto di Sidang Umum PBB Jadi Simbol Perubahan
Pada 27 September 2025, Zelenskyy mengunggah sebuah foto di media sosial. Foto itu diambil saat Sidang Umum PBB, memperlihatkan Trump dan istrinya, Melania, tersenyum hangat. Sementara Zelenskyy dan istrinya tampak sedikit kaku, namun ekspresi mereka jelas menunjukkan kegembiraan.
Dalam unggahannya, Zelenskyy menulis:
“Amerika dan Ukraina berdiri bersama. Kami merasakan dukungan ini. Kami berterima kasih kepada rakyat Amerika, Presiden Trump, dan Ibu Negara Melania atas perhatian mereka terhadap rakyat Ukraina, anak-anak kami, dan bangsa kami. Kita berjalan bersama, ini berarti kehidupan akan terlindungi, dan perdamaian serta keamanan akan semakin dekat.”
Ungkapan “kami merasakan dukungan ini” dianggap sebagai pengakuan politik terbesar yang pernah diterima Zelensky dari Trump.
Permintaan Rudal Tomahawk Generasi Baru
Menurut laporan media Barat, dalam pertemuan tertutup dengan Trump, Zelenskyy secara khusus meminta Amerika Serikat mengirimkan rudal jelajah Tomahawk generasi keempat. Rudal ini baru dikerahkan pada 2021, memiliki jangkauan 2.000 km, akurasi 10 meter, dan dilengkapi sistem navigasi berlapis anti-jamming—menjadikannya salah satu senjata paling ditakuti di dunia.
Target utama disebut-sebut termasuk markas komando Rusia hingga Kremlin.
Zelensky Ancam Pejabat Tinggi Rusia
Segera setelah bertemu Trump, Zelenskyy menyampaikan peringatan tegas:
- “Perang Ukraina harus segera diakhiri, jika tidak, para pejabat Rusia akan menjadi target.”
- Ia mengingatkan bahwa Moskow hanya berjarak 450 km dari perbatasan Ukraina, sementara Ukraina kini memiliki drone tempur berjangkauan 3.000 km.
- Zelensky menegaskan Ukraina tidak akan menyerang warga sipil, tetapi pejabat tinggi Rusia masuk dalam daftar sasaran.
Bahkan ia menyindir, “Jika mereka tidak mengakhiri perang, maka sebaiknya tahu di mana lokasi bunker, karena cepat atau lambat akan dipakai.”
Paket Bantuan Baru AS
Meski belum ada konfirmasi soal Tomahawk, Departemen Pertahanan AS pada 27 September mengumumkan tiga kontrak senjata senilai 200 juta dolar untuk Ukraina:
- 65 unit MSFV – kendaraan lapis baja modern dengan mobilitas tinggi dan perlindungan ranjau.
- 1.900 senapan runduk M110 – berjangkauan hingga 1.000 meter, dilengkapi teleskop, night vision, dan peredam suara.
- Sistem anti-drone C-UAS – teknologi terbaru untuk melindungi laut Ukraina, bisa diintegrasikan dengan sistem NATO.
Bantuan Israel
Dalam konferensi pers, Zelensky secara tidak sengaja mengungkap bahwa sistem pertahanan udara Patriot buatan Israel sudah ditempatkan di garis depan Ukraina, memperkuat benteng pertahanan Kyiv.
Situasi di Medan Perang
- Donetsk: Ukraina merebut kembali 168,8 km² wilayah strategis, ditambah 187,7 km² dari kelompok sabotase Rusia.
- Kerugian Rusia: diperkirakan 3.000 tentara tewas.
- Taktik Ukraina: mengepung lewat serangan sayap, memutus logistik dengan drone swarm, dan menciptakan kantong isolasi yang membuat pasukan Rusia terjebak tanpa suplai maupun jalur mundur.
Video yang beredar memperlihatkan drone Ukraina menjatuhkan ranjau anti-tank ke fasilitas Rusia hingga memicu ledakan besar. Namun Rusia juga terus melancarkan serangan drone ke jalur logistik Ukraina.
Seorang tentara Rusia bernama Smirnov mengaku, dari timnya yang berjumlah 20 orang, kini hanya dirinya yang tersisa.
Serangan Udara dan Kerugian Rusia
Pada 25 September 2025 dini hari, Ukraina menembak jatuh pesawat tempur pembom Su-34 Rusia di Zaporizhzhia. Pesawat ini termasuk andalan AU Rusia. Sejak perang pecah, Rusia sudah kehilangan lebih dari 300 pesawat, termasuk sekitar 40 unit Su-34, melemahkan kemampuan udara mereka secara signifikan.
Selain itu, sebuah kapal selam serang Rusia di Laut Tengah dilaporkan mengalami kebocoran bahan bakar besar. Kapal yang mampu membawa hulu ledak nuklir ini terpaksa muncul ke permukaan di Selat Gibraltar, membuat posisinya terekspos dan berada dalam pantauan ketat NATO. (***)


