“Ini tampaknya merupakan serangan yang kembali menargetkan orang Kristen di Amerika Serikat,” kata presiden.
EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Minggu (28/9/2025) menyerukan diakhirinya “epidemi kekerasan” di seluruh Amerika Serikat setelah penembakan yang menimbulkan korban jiwa di sebuah gereja Mormon di Michigan, dengan menyebutnya sebagai “serangan terarah” terhadap orang Kristen.
Trump dalam unggahan di Truth Social mengatakan bahwa ia telah “mendapat laporan tentang penembakan yang mengerikan” dan bahwa FBI “segera” berada di lokasi setelah insiden tersebut.
“Ini tampaknya merupakan serangan terarah lainnya terhadap orang Kristen di Amerika Serikat,” tulis Trump dalam unggahan itu. “Pemerintahan Trump akan terus memberi informasi kepada publik, seperti yang selalu kami lakukan. Sementara itu, BERDOALAH bagi para korban dan keluarga mereka.”
Presiden itu menambahkan dengan huruf kapital bahwa “epidemi kekerasan di negara kita harus segera diakhiri.”
Trump tampak merujuk pada sejumlah penembakan besar-besaran yang terjadi baru-baru ini, termasuk penembakan massal di sebuah gereja Katolik bulan lalu, pembunuhan komentator konservatif Charlie Kirk awal bulan ini, serta penembakan di gedung Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) di Dallas beberapa hari lalu yang menewaskan satu orang. Penembakan di sebuah marina di North Carolina pada Sabtu malam juga menewaskan tiga orang dan melukai delapan lainnya.
Ratusan orang berada di dalam Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir di Grand Blanc Township ketika seorang pria berusia 40 tahun menabrakkan kendaraannya ke pintu depan, keluar dari mobil, lalu mulai menembak, kata Kepala Polisi William Renye kepada wartawan dalam konferensi pers.
Tersangka diduga juga membakar gereja tersebut, kata Renye. Api dan asap terlihat selama berjam-jam sebelum akhirnya berhasil dipadamkan. Tim penyelamat kemudian terlihat menyisir puing-puing bangunan.
“Kami meyakini akan menemukan korban tambahan setelah mencapai area yang terbakar,” ujar Renye.
Tersangka menggunakan senapan serbu dalam penembakan itu, tambah Renye.
Senapan serbu umumnya merujuk pada senjata api otomatis penuh (fully automatic) yang dapat dipilih mode tembakannya. Senjata mesin sendiri pada dasarnya dilarang sejak diberlakukannya Undang-Undang Perlindungan Pemilik Senjata Api tahun 1986, yang hanya memperbolehkan kepemilikan senjata mesin buatan sebelum 1986 bagi warga sipil, sehingga menjadi barang langka dan sangat mahal.
Polisi menyebutkan mereka belum memiliki motif jelas terkait kebakaran atau penembakan itu. Gereja tersebut, yang dikelilingi oleh area parkir dan halaman luas, berada di dekat kawasan perumahan dan balai Saksi Yehuwa.
Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir, yang juga dikenal sebagai Gereja Mormon, menyatakan bahwa penembakan Minggu itu menyebabkan “banyak orang” terluka dalam “tindakan kekerasan yang tragis.”
“Gereja berkomunikasi dengan aparat penegak hukum setempat seiring berjalannya penyelidikan dan kami terus menerima pembaruan mengenai kondisi mereka yang terdampak,” kata juru bicara gereja, Doug Andersen. “Kami berterima kasih kepada para petugas darurat yang membantu korban dan keluarga mereka.”
“Tempat ibadah seharusnya menjadi tempat damai, doa, dan kebersamaan,” tambah Andersen.
Pejabat negara bagian maupun federal juga mengeluarkan pernyataan terkait penembakan tersebut, termasuk Direktur FBI Kash Patel dan Jaksa Agung Pam Bondi.
Patel, yang mengatakan pejabat FBI sedang menangani insiden itu, menulis di X bahwa “kekerasan di tempat ibadah adalah tindakan pengecut dan kriminal” serta menambahkan bahwa “doa kami bersama para korban dan keluarga mereka dalam tragedi mengerikan ini.”
“Kekerasan di tempat ibadah sungguh memilukan dan mengerikan,” tulis Bondi. “Mohon bergabunglah dengan saya dalam mendoakan para korban tragedi ini.” Ia menambahkan bahwa dirinya terus menerima laporan perkembangan kasus tersebut.
Gubernur Michigan, Gretchen Whitmer, dalam sebuah pernyataan menyampaikan rasa terima kasih kepada petugas tanggap darurat yang hadir di lokasi serta menegaskan bahwa kekerasan di tempat ibadah “tidak dapat diterima.”
The Associated Press turut berkontribusi pada laporan ini.


