Mengapa Wanita Taiwan Merayakan Festival Pertengahan Musim Gugur dengan Mencuri Daun Bawang di Kebun Tetangga

EtIndonesia. Menjelang Festival Pertengahan Musim Gugur, sebuah tradisi kuno dan unik kembali muncul di Taiwan. Tradisi ini dilakukan oleh wanita lajang yang menyelinap ke kebun tetangga untuk mencuri sayuran, dengan keyakinan bahwa hal ini akan membantu mereka menemukan suami idaman.

Dikenal sebagai “mencuri sayuran untuk calon suami”, atau tou cai qiu lang dalam bahasa Mandarin, tradisi ini berlangsung pada malam Festival Pertengahan Musim Gugur.

Pada malam hari, wanita lajang, yang seringkali berdandan cantik, keluar di bawah sinar rembulan dan menyelinap ke kebun sayur tetangga.

Namun, tujuan mereka bukanlah camilan tengah malam; melainkan, mereka diam-diam memetik daun bawang atau sayuran lainnya sebagai bagian dari ritual simbolis untuk mendoakan suami idaman.

Tindakan ini berakar kuat pada kepercayaan lokal tentang pernikahan dan kesuburan.

Seperti pepatah Taiwan kuno mengatakan: “Curi daun bawang, nikahi suami yang baik; curi sayuran, dapatkan menantu yang baik.”

Bagi wanita yang sudah menikah dan belum memiliki anak, tradisi ini memiliki makna yang unik: alih-alih mencuri daun bawang, mereka justru mencuri melon, berharap dikaruniai bayi yang sehat dan montok di tahun mendatang.

Tradisi ini juga memiliki padanan romantis di Tiongkok daratan.

Meskipun versi Taiwan berfokus pada pencarian pasangan hidup di masa depan, tradisi romantis serupa juga berkembang di kalangan etnis minoritas Dong, salah satu kelompok etnis terbesar di Tiongkok dengan populasi 3,5 juta jiwa, yang sebagian besar tinggal di Guizhou timur, Hunan barat, dan Provinsi Guangxi utara.

Di desa-desa Dong di Hunan, penduduk setempat merayakan festival ini dengan tradisi unik yang dikenal sebagai “mencuri sayur bulan”, yang biasanya merujuk pada sejenis kacang pipih.

Ritual ini berakar pada legenda bahwa para peri Istana Bulan akan menaburkan embun yang baik hati pada tanaman, dan buah serta sayuran yang direndam di dalamnya akan menjadi pembawa keberuntungan.

Pada malam suci ini, para gadis Dong yang belum menikah, seringkali membawa payung bunga, diam-diam memasuki kebun sayur milik para pemuda yang mereka kagumi.

Mereka secara khusus ingin memetik kacang yang tumbuh kembar, karena kacang ini melambangkan tercapainya cinta yang bahagia dan harmonis.

Namun, tidak seperti pencurian pada umumnya, para gadis diharapkan mengumumkan kehadiran mereka dengan lantang.

Mereka sengaja berteriak: “Hei, sayuranmu sudah kupetik. Datanglah ke rumahku untuk minum teh minyak.”

Jika gadis tersebut dimarahi oleh pemilik kebun saat mencuri, konfrontasi ini dianggap sebagai pertanda baik atau berkah.

Hasil curian juga harus mengikuti aturan ketat: harus segera dimasak dan dimakan di luar ruangan dan tidak boleh dibawa pulang.

Sementara itu, para pemuda juga berkumpul di bawah sinar rembulan untuk “mencuri labu”, berharap tindakan simbolis ini akan membawa kebahagiaan dan keberuntungan.(yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine