EtIndonesia. Sebuah gereja di Grand Blanc, Michigan, Amerika Serikat pada 28 September menjadi lokasi penembakan dan pembakaran yang menewaskan 5 orang dan melukai 8 lainnya. Pelaku kemudian ditembak mati polisi di area parkir.
Dalam insiden itu, seorang mantan marinir menabrakkan mobilnya ke pintu depan gereja, lalu melepaskan tembakan ke arah jemaat dan dengan sengaja membakar bangunan. Saat kejadian, ratusan orang berada di dalam gereja. Polisi menerima laporan dan tiba di lokasi hanya dalam 30 detik. Delapan menit kemudian, pelaku dilumpuhkan di area parkir.
Pelaku diidentifikasi sebagai Thomas Jacob Sanford (40tahun), warga Burton, kota dekat Grand Blanc. Motif penyerangan masih dalam penyelidikan. Polisi pada Senin (29 September) mengkonfirmasi bahwa Sanford pernah ditangkap karena pencurian dengan pembobolan rumah serta mengemudi dalam keadaan mabuk (OWI).
“Ini adalah kejahatan keji! Saat ini ada 5 korban tewas dan 8 orang terluka. Seperti saya katakan, ini adalah perbuatan jahat. Tapi ini tidak bisa mendefinisikan Grand Blanc maupun komunitas kita,” ujar Kepala Polisi Grand Blanc, William Renye, menyebut insiden ini sebagai tindakan jahat.
Bangunan gereja sebagian besar hangus terbakar.
Presiden Trump pada 28 September menyatakan bahwa serangan ini adalah “serangan terarah lainnya terhadap umat Kristen Amerika,” dan menegaskan bahwa kekerasan semacam ini harus “segera dihentikan.”
FBI kini mengambil alih penyelidikan, dan mengklasifikasikan kasus ini sebagai tindak kekerasan yang bersifat terarah.
Gubernur Michigan, Gretchen Whitmer, mengatakan sudah berbicara dengan Presiden Trump dan memerintahkan agar seluruh negara bagian mengibarkan bendera setengah tiang.
“Saya ingin mengingatkan semua orang, sementara kami sedang bekerja keras, spekulasi tidak akan membantu, bahkan bisa berbahaya. Jadi saya harap semua pihak bisa menurunkan tensi pernyataan,” katanya.
Faktanya, kasus ini adalah penembakan massal ketiga di AS hanya dalam waktu 24 jam, setelah sebelumnya terjadi di North Carolina dan Texas.
Sebuah penelitian dari lembaga nonpartisan Center for Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan bahwa pada tahun 2025 jumlah serangan yang dilakukan kelompok sayap kiri di AS diperkirakan mencapai titik tertinggi dalam 30 tahun, untuk pertama kalinya melampaui serangan dari kelompok sayap kanan.
Para analis menilai, pada paruh pertama 2025 aksi teror dan konspirasi dari kelompok kiri meningkat, melanjutkan tren tajam dalam sepuluh tahun terakhir. Namun setelah Trump kembali ke Gedung Putih, kekerasan dari kelompok kanan justru menurun.
Penelitian ini dirilis saat Presiden Trump berjanji akan menyelidiki sumber pendanaan aksi protes sayap kiri, dan telah mengeluarkan perintah eksekutif untuk menetapkan kelompok “antifasis” sebagai organisasi teroris domestik.
Sumber : NTDTV.com


