Dari serangan fisik hingga ejekan verbal, bagaimana praktisi Falun Gong menghadapi intervensi berkelanjutan Partai Komunis Tiongkok di ibu kota Australia
EtIndonesia. Apa yang seharusnya menjadi hari damai bagi Nancy Dong di Festival Floriade Canberra berubah menjadi pengalaman buruk.
Sekitar pukul 15.30 pada 20 September 2025, Dong bersama dua warga Canberra lainnya mengaku didatangi sekelompok pemuda Tiongkok yang melontarkan ejekan.
Dong, bersama Floria Mao dan Alice Lu—ketiganya praktisi Falun Gong—sedang memperagakan latihan dan membagikan selebaran di Floriade, festival tahunan bunga dan hiburan di ibu kota Australia.
Menurut kesaksian, seorang pemuda mendekati Mao dan dalam bahasa Mandarin berkata: “Kami datang untuk menyerang kalian!”

Dong mengatakan para pemuda itu mengulang tuduhan fitnah yang sebelumnya disebarkan media resmi partai komunis Tiongkok, lalu bergema di media sosial Tiongkok dan sebagian media Barat.
Ejekan tersebut menyinggung Falun Gong, pendirinya, serta Shen Yun—grup seni pertunjukan yang mempromosikan budaya tradisional Tiongkok.
Peristiwa itu berlangsung sekitar 10 menit dengan para pemuda merekam kejadian tersebut. Kasus ini dilaporkan ke Kepolisian Wilayah Ibu Kota Australia (ACT Policing), namun karena tidak ada kekerasan fisik, proses hukum tidak dilanjutkan.
Lu, yang sudah tinggal 14 tahun di Australia, menilai komentar para mahasiswa terdengar seperti hasil hafalan.
“Dia terus mengulang fitnah PKT terhadap Falun Gong dengan nada yang konsisten,” ujarnya.
Falun Dafa, atau Falun Gong, adalah latihan spiritual yang memadukan meditasi dengan ajaran berbasis prinsip kejujuran, belas kasih, dan toleransi. Sejak diperkenalkan Master Li Hongzhi di Tiongkok pada 1992, praktik ini berkembang ke lebih dari 100 negara dengan jutaan pengikut.
Namun, popularitas tersebut dianggap ancaman bagi otoritas Beijing. Pada Juli 1999, mantan pemimpin PKT Jiang Zemin melancarkan penindasan brutal terhadap Falun Gong, termasuk pelanggaran HAM luas seperti pengambilan organ paksa. Represi juga merambah ke luar negeri melalui kelompok komunitas Tionghoa di diaspora dan sejumlah institusi Barat.
Diserang karena Spanduk Kritik PKT
Pada Floriade 2022, Dong pernah diserang dua pria Tiongkok setelah memergoki mereka merusak mobilnya yang memasang spanduk mengkritik PKT. Ia mengalami memar di lengan dan cedera di bagian bawah tubuh hingga harus berjalan dengan tongkat.
Pelaku, Kang Zhao, ditangkap polisi saat hendak meninggalkan Australia pada Desember 2022. Pengadilan Magistrat ACT menjatuhkan denda 3.000 dolar Australia pada Maret 2023.
Meski sempat trauma dan mengalami sakit dada, Dong tetap berharap pelaku menyadari kesalahannya.
“Saya berharap Anda bisa memahami bahwa PKT bukanlah Tiongkok. Tolong jangan lagi menyakiti orang lain atas nama patriotisme, dan hormati kebebasan berekspresi,” kata Dong kala itu.
Kekhawatiran Global soal Represi Transnasional
Insiden Floriade terbaru terjadi di tengah peringatan Kelompok Tujuh (G7) soal “represi transnasional” (TNR), bentuk intervensi asing yang kian agresif.
Strategi ini menimbulkan efek jera bagi mereka yang berbicara menentang pelanggaran HAM atau mengkritik rezim luar negeri yang melakukannya.
“TNR sering menyasar pembangkang, jurnalis, pembela HAM, kelompok minoritas agama, serta komunitas diaspora,” bunyi pernyataan G7.
Sementara otoritas Selandia Baru secara tegas menyebut PKT sebagai rezim asing paling aktif berupaya memanipulasi pemerintahan dan masyarakatnya.
“Negara asing menggunakan berbagai taktik untuk mengintimidasi pembangkang, mulai dari memotret terang-terangan, pelecehan daring, hingga memasukkan bisnis mereka ke daftar hitam,” menurut laporan Threat Assessment terbaru.
Mahasiswa Tiongkok Mengancam Pemilik Toko Agar Menyingkirkan Epoch Times
Rekam jejak represi semacam ini di Canberra bukan hal baru. Pada 2015, seorang mahasiswa Tiongkok di Universitas Nasional Australia menekan apotek kampus agar menghentikan distribusi gratis koran berbahasa Mandarin Epoch Times—media yang berdiri pada 2000 untuk mengungkap penindasan Falun Gong.
“Dia bilang mahasiswa Tiongkok akan memboikot kami,” ujar Kim Nguyen, pemilik apotek, kepada Australian Financial Review. “Sikapnya sangat agresif, bahkan mengancam bisnis kami akan hancur jika tidak menyingkirkan koran itu.”
Nguyen menuturkan, ironisnya, sangat sedikit mahasiswa Tiongkok yang benar-benar membaca atau mengambil koran tersebut.
“Itu sebabnya saya kaget dengan reaksinya,” katanya.
Mahasiswa yang memaksa penghapusan koran itu diketahui menjabat sebagai ketua Perhimpunan Mahasiswa dan Sarjana Tiongkok (CSSA). Organisasi yang semestinya mendukung pelajar Tiongkok ini kerap dikritik karena membantu Partai Komunis Tiongkok memata-matai mahasiswa, serta mengerahkan mereka melawan pandangan berbeda.
Laporan ini disusun oleh Rachel Qu, Daniel Y. Teng, dan Alfred Bui.


