EtIndonesia. Ada seorang pemuda yang hidupnya penuh dengan kemalangan. Saat berusia 10 tahun, ibunya meninggal karena sakit. Dia terpaksa belajar mencuci, memasak, dan mengurus dirinya sendiri, sebab ayahnya adalah sopir bus jarak jauh yang jarang berada di rumah.
Tujuh tahun kemudian, ayahnya pun meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Sejak itu, dia benar-benar tidak punya siapa pun untuk diandalkan. Dia harus belajar mencari nafkah dan bertahan hidup sendirian.
Di usia 20 tahun, sebuah kecelakaan kerja membuatnya kehilangan kaki kiri. Dia pun harus beradaptasi dengan kenyataan baru—belajar berjalan dengan tongkat, dan dengan keras kepala menolak untuk terlalu sering meminta bantuan orang lain.
Dengan tabungan yang berhasil dia kumpulkan, akhirnya dia membuka usaha ternak ikan. Namun, sebuah banjir besar tiba-tiba datang dan menghancurkan seluruh jerih payahnya, menyapu bersih harapannya tanpa sisa.
Tak tahan lagi, dia pun mendatangi Tuhan, dengan marah bertanya: “Kenapa Engkau begitu tidak adil padaku?”
Tuhan balik bertanya: “Kenapa kamu bilang Aku tidak adil?”
Pemuda itu pun menceritakan seluruh kemalangannya.
Tuhan mendengarkan, lalu berkata dengan tenang: “Oh, begitu… memang kisahmu terdengar menyedihkan. Tapi kalau begitu, kenapa kamu masih hidup hingga sekarang?”
Pemuda itu tersulut emosi dan menjawab tegas: “Aku tidak akan mati! Setelah mengalami begitu banyak kesulitan, tidak ada lagi yang bisa membuatku takut. Suatu hari nanti, aku pasti akan menciptakan kebahagiaan sendiri!”
Tuhan tersenyum. Dia membuka pintu neraka, lalu menunjuk ke arah satu roh: “Lihatlah, orang itu hidupnya jauh lebih beruntung darimu. Hampir sepanjang hidupnya berjalan lancar tanpa hambatan. Namun, pada akhirnya, sama sepertimu, dia juga kehilangan semua harta bendanya karena banjir. Bedanya, dia memilih bunuh diri. Sedangkan kamu… kamu tetap memilih untuk hidup.” (jhn/yn)


