EtIndonesia. Dahulu kala, pada suatu musim dingin yang sangat dingin di sebuah negeri, seekor anjing betina melahirkan tujuh ekor anak anjing. Sang pemilik berniat memilih satu ekor dari mereka untuk dijadikan anjing penjaga rumah di masa depan.
Seekor “anjing penjaga” yang baik harus memiliki sifat: setia dan patuh kepada tuannya, berani dan garang menghadapi musuh, serta tak gentar bahkan rela berkorban dalam menghadapi bahaya.
Namun, bagaimana cara menentukan mana yang paling layak? Pemilik pun menemukan sebuah cara yang kejam. Dia mengurung induk anjing bersama tujuh anaknya di dalam ruang bawah tanah, lalu memutus suplai makanan dan air.
Tiga hari kemudian, induk anjing itu sudah tidak lagi memiliki air susu untuk memberi makan ketujuh anaknya. Dalam kondisi lapar dan putus asa, dia akhirnya memilih anak yang paling lemah untuk dimakan, agar bisa tetap menghasilkan susu untuk yang lain.
Tetapi susu itu tidak bertahan lama. Hari-hari berikutnya, keputusan mengerikan itu berulang: satu demi satu anak yang lemah dikorbankan… hingga akhirnya hanya tersisa satu ekor saja.
Namun, ketika tinggal anak terakhir, induk anjing itu berubah. Dia lebih rela mati kelaparan daripada memakan anaknya yang terakhir.
Pada saat itulah, sang pemilik datang. Dia “menyelamatkan” induk anjing bersama satu-satunya anak yang tersisa. Anak anjing yang selamat ini tumbuh dengan penuh rasa syukur kepada tuannya yang dianggap sebagai penyelamat. Kelak, dia benar-benar menjadi anjing penjaga terbaik dan paling setia.
Pertanyaan untuk Para Pemimpin
Bayangkan suatu hari, dalam situasi luar biasa, perusahaanmu menghadapi ancaman hidup dan mati. Persaingan bisnis yang brutal mungkin memaksa bosmu—sadar atau tidak—melakukan pilihan yang mirip seperti induk anjing tadi.
Sebagai mitra strategis, apa yang akan kamu lakukan?(jhn/yn)


