EtIndonesia. Seorang tukang kebun suatu hari datang menemui seorang pengusaha Jepang terkenal, lalu bertanya dengan nada rendah diri: “Tuan Presiden, usaha Anda begitu maju dan sukses. Sedangkan saya seperti seekor semut belalang yang hanya merayap di tanah — tak punya masa depan, tak punya pencapaian. Kapan saya bisa sukses dan menghasilkan banyak uang seperti Anda?”
Pengusaha itu tersenyum ramah dan berkata: “Begini saja. Saya lihat kamu cukup ahli dalam urusan pertanian dan tanaman. Di samping pabrik saya, ada tanah kosong seluas dua hektare. Mari kita tanami bibit pohon di sana. Satu bibit harganya berapa?”
Tukang kebun menjawab : “Empat puluh yuan per bibit.”
Pengusaha itu langsung menghitung cepat: “Kalau satu meter persegi bisa ditanami dua bibit, setelah dikurangi area untuk jalan, kita bisa menanam sekitar 25.000 pohon. Biayanya pas — 1 juta yuan untuk bibit dan pupuk. Nah, kamu pikir, tiga tahun lagi satu pohon bisa dijual berapa?”
Tukang kebun menjawab, “Kira-kira 3.000 yuan per pohon.”
Pengusaha itu pun menepuk meja dan berkata dengan serius: “Baik. Biaya awal — 1 juta yuan untuk bibit dan pupuk — akan saya tanggung seluruhnya. Kamu hanya perlu merawatnya: menyiram, menyiangi, dan memupuk. Setelah tiga tahun, kalau semuanya tumbuh baik, keuntungan kita bisa mencapai 6 juta yuan. Saat itu, kita bagi dua — masing-masing setengah.”
Kesempatan yang Terlewat
Namun, betapa terkejutnya sang pengusaha ketika mendengar jawaban si tukang kebun: “Wah… saya tidak berani melakukan bisnis sebesar itu. Sepertinya lebih baik saya tidak ikut saja.”
Hanya satu kalimat sederhana — ‘lebih baik tidak’, dan kesempatan emas pun lenyap begitu saja.
Makna yang Dalam
Kita semua bermimpi untuk sukses, tetapi ketika peluang benar-benar datang, kita sering takut mengambil langkah pertama.
Kita terlalu sibuk mengkhawatirkan kegagalan, hingga lupa bahwa keberhasilan hanya datang kepada mereka yang berani mencoba.
Satu kalimat sederhana yang bisa mengubah hidup: Kesuksesan membutuhkan keberanian — keberanian untuk bertindak, bukan hanya berharap.(jhn/yn)


