EtIndonesia. Pada abad ke-17 di Inggris, ada seorang pemuda yang terobsesi pada kekuasaan. Dia melakukan segala cara untuk naik jabatan dalam pemerintahan. Meskipun pernah mengalami masa-masa diabaikan oleh raja, dia tetap mencintai kekuasaan dengan penuh gairah.
Demi meraih posisi tinggi, pemuda itu menghadiahkan bukunya kepada Raja baru saat itu, James VI. Dalam surat dan kata pengantarnya, dia menyanjung sang raja dengan segala bentuk pujian, bahkan tak segan mengucapkan janji manis dan rayuan demi mendapatkan satu jabatan kecil sekalipun. Setelah perjuangan panjang, dia akhrinya berhasil menjadi Jaksa Agung Inggris, dan beberapa tahun kemudian diangkat sebagai Hakim Agung Inggris, bahkan dianugerahi gelar bangsawan.
Namun tak lama kemudian, pemuda itu justru menjadi korban dari pertarungan politik antara raja dan parlemen. Dia kehilangan seluruh jabatannya dan dilarang kembali menduduki posisi pemerintahan. Meski telah jatuh sedalam itu, dia tetap tidak bisa melepaskan dirinya dari pesona kekuasaan. Dia berusaha keras untuk kembali ke dunia politik, hingga akhirnya menyadari bahwa semua usahanya sia-sia.
Barulah setelah itu, dia benar-benar menyesal. Dia menyesali tahun-tahun mudanya yang terbuang demi mengejar kekuasaan yang fana. Setelah melalui rasa sakit yang mendalam, dia mulai berbalik hati dan menekuni bidang yang sebenarnya dia cintai sejak awal — filsafat. Dari sinilah dia memulai perjalanan hidup yang paling berharga dalam hidupnya.
Pemuda itu tak lain adalah Francis Bacon, filsuf besar yang kelak mengguncang dunia dengan pemikiran-pemikirannya.
Bacon akhirnya “terbangun”. Dia meninggalkan bagi umat manusia sebuah kalimat bijak yang abadi: “Ketika menghadapi keberuntungan, kebajikan yang dibutuhkan adalah pengendalian diri; sedangkan ketika menghadapi kesulitan, kebajikan yang dibutuhkan adalah ketabahan. Dan ketabahan jauh lebih berharga daripada sekadar pengendalian diri.”
Kerap kali, cacat manusia justru tampak saat dia berada di puncak kejayaan, sedangkan kebajikan sejati seseorang justru terlihat saat dia berada di titik paling sulit dalam hidupnya.(jhn/yn)


