Masih Ada Banyak Orang di Dunia Ini yang Peduli dengan ‘Uang’ Recehan

EtIndonesia. Aku pernah melihat seorang nenek tua di dalam bus.  Dia salah memasukkan uang ke kotak tiket — seharusnya satu yuan, tapi yang terjatuh ke dalam kotak justru lima yuan. Sejak bus melaju, dia terus memohon kepada sopir agar uangnya dikembalikan. Namun karena bus penuh sesak, sang sopir hanya menjawab dingin: “Saya tidak lihat,” dan mengabaikannya sepanjang jalan.

Nenek itu terus memohon selama lebih dari sepuluh menit, tapi sopir tetap tak bergeming. Akhirnya, dia menutupi wajahnya dan menangis diam-diam di pojok kursi.

Seorang gadis muda yang duduk tak jauh darinya tampak tak tega. 

Dia lalu mengambil selembar uang lima yuan dari tasnya, dan berkata dengan lembut: “Nenek, uang nenek nggak hilang kok, ini tadi jatuh di lantai.”

Nenek itu menatap gadis itu sejenak, lalu menggenggam tangannya dan berucap lirih : “Terima kasih, Nak… tapi uangku tidak sebaru ini.”

Aku juga pernah melihat sepasang suami istri yang berjualan cakwe dan susu kedelai di pinggir jalan. Suatu pagi, ketika pelanggan sedang ramai, mereka salah memberikan uang kembalian — entah kelebihan sepuluh yuan atau dua puluh.

Mereka panik dan berlari mengejar pelanggan yang sudah pergi naik motor. Namun, entah orang itu pura-pura tidak dengar atau memang tidak peduli,  dia malah menambah gas dan menghilang di tikungan.

Sang istri tersungkur di jalan, lututnya berdarah. Sambil menangis, dia memaki suaminya: “Kamu buta, ya?! Lihat uang saja salah!”

Suaminya hanya terdiam dengan wajah merah padam. Dia berjalan mendekat, membantu istrinya berdiri, lalu menampar dirinya sendiri dengan keras.

Pernah juga aku bertemu seorang gadis kecil. Dia membawa tas sekolah yang sudah robek dan mengenakan celana jeans lusuh.  Malam itu sudah sangat dingin — udara musim dingin menusuk tulang, dan dia berjalan bolak-balik di jalan yang gelap tanpa lampu.

Kami menghentikan mobil di dekatnya.

 Pacarku menurunkan kaca dan bertanya: “Adik, kamu ngapain malam-malam di sini?”

Gadis itu menunduk, matanya memerah : “Uangku hilang…”

Pacarku berkata lembut: “Pulanglah, Nak. Sudah malam, nanti orangtua kamu khawatir.”

Tapi gadis kecil itu menjawab dengan suara bergetar : “Kak, kamu nggak tahu… uang itu buat beli buku pelajaran. Nenekku ngumpulin uang itu sebulan penuh dari hasil memungut botol bekas…”

Bagi sebagian orang, mungkin mereka akan bertanya :  “Demi uang segitu kecil, memangnya pantas menangis begitu?”

Lima yuan hanya cukup untuk segelas minuman ringan. Sepuluh yuan cuma bisa bayar dua jam di warnet. Tiga puluh yuan hanyalah harga sebungkus rokok.

Namun bagi sebagian orang lain, uang itu adalah harapan hidup. Dalam tekanan dan kesempitan hidup yang berat,  uang sekecil itu bisa menjadi tangkai jerami terakhir yang mereka genggam di tengah lautan kehidupan yang menenggelamkan.

Dunia ini terlalu sering menilai segalanya dari sudut pandang sendiri. Kita yang terbiasa melihat gemerlap kehidupan selebritas, berjalan di jalanan kota yang penuh cahaya dan gedung tinggi, berbelanja di toko-toko mahal, kadang lupa bahwa di sudut lain dunia ini, masih banyak orang yang hidup dengan sangat sederhana.

Kita sering mengira kemiskinan itu cuma kisah menyedihkan di berita, atau sekadar bahan lelucon untuk menarik simpati.  Padahal, itu nyata.

Kita memang harus belajar menatap langit,  namun juga harus belajar menunduk memandang debu di bawah kaki kita.

Orang yang berkata bahwa uang itu tidak penting, biasanya adalah orang yang belum benar-benar mengenal hidup.

Aku pun pernah begitu. Waktu SMA, aku sangat boros — uang jajan bulanan lebih dari seribu yuan, dan sebagian besar kuhabiskan untuk beli baju dan isi saldo game. Ketika uang habis, aku meminjam sana-sini. Kalau tak ada yang mau meminjamkan, aku pulang diam-diam ke rumah dan mengambil uang dari lemari ayahku.

Suatu hari, aku kembali ke rumah untuk mencuri seribu yuan lagi, dan ketika sedang bersemangat memasukkannya ke saku, ayah tiba-tiba masuk ke kamar. Aku benar-benar tak sempat beralasan — wajahnya datar, tapi matanya tajam.

Dia hanya bertanya pelan : “Uangmu sudah habis, ya?”

Aku menunduk, wajahku panas, siap menerima kemarahan.

Tapi tak kuduga, dia hanya berkata :“Di sekolah, belajarlah yang benar. Jangan main terus.”

Aku melihat dia sedang membawa kantong plastik — isinya hanya empat buah roti kukus. Di meja makan cuma ada dua piring sayur hijau sederhana. Itulah makan siangnya hari itu.

Di saat itu, aku merasa malu luar biasa. Aku baru sadar, kenyamanan hidupku ada karena ada seseorang yang menanggung beratnya untukku.

Aku bertanya pelan : “Ayah… makan siangnya cuma ini?”

Dia tersenyum kecil : “Nggak apa-apa. Rumah cuma kita berdua, seadanya saja cukup.”

Aku terdiam, tidak tahu harus berkata apa. 

Lalu ayah menepuk bahuku, dan dengan suara tenang dia berkata sesuatu yang membuat air mataku tak bisa dibendung: “Oh iya, kamu belum makan kan? Ayo, kita makan di luar saja.”

Makna di Balik Uang “Kecil” Receh

Sejak hari itu, aku mengerti — setiap uang kecil punya cerita besar. Bagi sebagian orang, lima atau sepuluh yuan mungkin tak berarti apa-apa, tapi bagi yang hidup dari jerih payahnya, uang itu adalah hasil keringat, air mata, dan perjuangan.

Kita tak pernah tahu, berapa banyak pengorbanan yang tersembunyi di balik setiap lembar uang lusuh di tangan seseorang.

Jadi sebelum menertawakan orang yang “terlalu peduli pada uang kecil,” ingatlah:
bagi mereka, itulah bukti bahwa mereka masih berjuang untuk hidup dengan bermartabat. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine