EtIndonesia. Pada Hari Raya Pertengahan Musim Gugur, surat kabar resmi militer Partai Komunis Tiongkok (PKT), Harian Militer, menurunkan tajuk utama yang menyerukan agar para perwira dan prajurit “memastikan kesiapan tempur setiap saat dan siap berperang kapan saja.”
Para pengamat menilai, seruan “siaga tempur” ini muncul di tengah gejolak di tubuh militer — dengan banyak jenderal yang diberhentikan dan belum ada penggantinya — sehingga dinilai sebagai upaya menutupi krisis kekuasaan di Zhongnanhai.
Untuk diketahui, Zhongnanhai adalah kantor pusat dan kediaman resmi para pemimpin tertinggi Partai Komunis Tiongkok (PKT).
Seruan Siaga Tempur di Tengah Hari Raya
Dalam rubrik utama “Komentar Tajam 1 Agustus” di halaman depan Harian Militer, diterbitkan artikel berjudul “Selalu Tegang dalam Kesiagaan Tempur”.
Artikel tersebut menyatakan bahwa “ketidakstabilan dan ketidakpastian dalam situasi keamanan Tiongkok meningkat,” dan menuntut agar tentara “selalu dalam keadaan siap tempur, dengan panah sudah di busur,” serta “memastikan kesiapan penuh setiap saat dan kemampuan untuk bertempur kapan saja.”
Namun, mengapa seruan ini muncul justru di tengah perayaan tradisional seperti Festival Pertengahan Musim Gugur? Menurut Mark, pembawa acara saluran YouTube Mark’s Time Space yang fokus pada isu militer, PKT cenderung “berteriak tentang apa yang paling kurang dimilikinya.”
Mark menjelaskan: “Semakin tidak solid mereka, semakin keras mereka menyerukan persatuan. Saat ini, kita melihat banyak perwira tinggi militer yang dicopot tanpa ada penggantinya. Ini menunjukkan adanya kekacauan internal. Jadi mereka menekankan kesiapan tempur agar tentara sibuk dan tidak sempat berpikir, padahal sebenarnya itu untuk menutupi masalah di tingkat atas.”
Kekacauan di Tubuh Militer Menjelang Sidang Pleno Keempat
Menjelang Sidang Pleno Keempat Komite Sentral ke-20 yang akan digelar pada 20 Oktober, militer PKT disebut sedang berada dalam kondisi “kacau seperti belum pernah terjadi sebelumnya.”
Banyak jenderal yang dipromosikan langsung oleh Xi Jinping tersandung kasus, termasuk dua mantan Menteri Pertahanan — Wei Fenghe dan Li Shangfu. Dari 79 jenderal bintang tiga (shang jiang) yang diangkat Xi selama 13 tahun berkuasa, lebih dari 20 persen kini telah tersingkir.
Selain itu, struktur komando tertinggi militer PKT mengalami “dua kekosongan besar”:
- Kepala Departemen Pekerjaan Politik Komisi Militer Pusat (CMC), Miao Hua, telah diberhentikan dan posisinya kosong cukup lama.
- Wakil Ketua CMC, He Weidong, menghilang dari publik sejak Maret lalu, dan hingga kini tidak ada penjelasan resmi.
Dari tujuh anggota asli CMC, kini hanya tersisa empat orang aktif.
Parade Militer yang Aneh dan Gelombang Pemberhentian
Parade besar 3 September yang biasanya menjadi ajang unjuk kekuatan militer PKT juga diwarnai kejanggalan. Sesuai tradisi, komandan parade biasanya dijabat oleh Panglima Komando Wilayah Tengah, Jenderal Wang Qiang. Namun kali ini ia menghilang tanpa penjelasan, dan posisi itu diberikan kepada Letjen Han Shengyan, Panglima Angkatan Udara di wilayah tersebut — sebuah “penurunan level” yang tidak lazim.
Setelah parade, pada 12 September, Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional Tiongkok mengumumkan pemberhentian empat jenderal dari jabatan wakil rakyat, termasuk:
- Panglima Pasukan Polisi Bersenjata, Jenderal Wang Chunning
- Sekretaris Komisi Disiplin Pasukan Roket, Letjen Wang Zhibin
- Kepala Departemen Logistik Komisi Militer Pusat, Letjen Zhang Lin
- Komisaris Politik Pasukan Dukungan Logistik Gabungan, Letjen Gao Daguang
Hal ini menunjukkan bahwa gelombang pembersihan militer masih terus berlanjut.
Krisis Kepercayaan dan Kekosongan Kepemimpinan
Untuk menutup semua kekosongan akibat pemecatan dan hilangnya para perwira tinggi itu, dibutuhkan waktu yang lama. Kondisi ini jelas bertolak belakang dengan seruan “siap tempur setiap saat” yang dikampanyekan oleh Harian Militer.
Apakah ini menunjukkan bahwa Xi Jinping sendiri sedang melakukan pembersihan, atau justru menjadi korban serangan balik dari faksi lain di partai? Pendapat para pengamat terbelah.
Mark berpendapat: “Xi tampaknya tidak mempercayai siapa pun. Ia terus mencari orang yang benar-benar loyal, tapi sampai sekarang belum menemukannya. Banyak posisi dibiarkan menggantung, mungkin karena konflik internal di antara orang-orang yang ia promosikan sendiri. Selain itu, kondisi fisiknya juga disebut-sebut membuatnya sulit mengendalikan situasi sepenuhnya.”
Dampak terhadap Moral Tentara
Kekacauan dan ketidakpastian di kalangan elit militer membuat moral pasukan menurun.
“Masalah utamanya bukan hanya karena posisi strategis kosong, tapi karena kursi itu dibiarkan kosong terlalu lama, atau sering diganti tanpa pengumuman resmi. Publik dibiarkan menebak-nebak siapa yang naik,” ujar analis politik Zheng Haochang.
“Atmosfer seperti ini mencerminkan krisis kekuasaan di Zhongnanhai. Ketika para petinggi di puncak piramida saling curiga dan ragu mempromosikan siapa pun, wajar kalau semangat di kalangan bawah pun goyah,” lanjutnya.
Menurut laporan Caixin, hingga September tahun ini, sudah ada 20 perwira tinggi militer PKT yang dicopot dari status sebagai anggota Kongres Rakyat Nasional, termasuk 6 jenderal bintang tiga (上將), 12 jenderal bintang dua (中將), dan 2 brigadir jenderal (少將).
Menjelang Sidang Pleno Keempat yang dijadwalkan pada 20 Oktober, banyak pihak memperkirakan nasib akhir para pejabat dan jenderal yang hilang atau diselidiki akan diumumkan pada pertemuan tersebut. (Hui/asr)
Sumber ; NTDTV.com


