Pada tahun 2025, jumlah lulusan universitas di Tiongkok mencapai rekor tertinggi dalam sejarah, membuat situasi ketenagakerjaan bagi kaum muda semakin sulit. Dua warga Tiongkok yang telah bermigrasi ke luar negeri membocorkan lebih banyak fakta tersembunyi tentang sulitnya mencari pekerjaan di Tiongkok saat ini.
EtIndonesia. Pada pertengahan September lalu, juru bicara Biro Statistik Nasional Tiongkok dalam konferensi pers mengklaim bahwa ekonomi Tiongkok secara umum berjalan stabil.
Pejabat itu mengklaim bahwa tingkat pengangguran perkotaan nasional pada Agustus adalah 5,3%, dengan usia 30–59 tahun sebesar 3,9%, dan pekerja migran perkotaan sebesar 4,7%.
Sekilas, angka-angka ini tampak stabil. Namun, jika diteliti lebih jauh, ternyata tingkat pengangguran usia 16–24 tahun mencapai 18,9%, kembali mencetak rekor tertinggi. Banyak pihak di luar negeri menilai angka sesungguhnya kemungkinan jauh lebih tinggi.
“Sebelum saya keluar (dari Tiongkok), di industri kami sudah penuh dengan keluhan. Banyak proyek investasi pemerintah menyusut, banyak proyek terbengkalai. Banyak insinyur dan tenaga teknis berpengalaman kehilangan pekerjaan,” kata seorang manajer teknik dari sebuah perusahaan konstruksi di Changsha, Hunan, bernama Zhou Heng.
“Bagi lulusan baru di bidang teknik, sangat sulit menemukan pekerjaan. Banyak di antara mereka baru lulus langsung menganggur,” tambahnya.
Seorang perawat rumah sakit kelas atas di Wuhan, Hubei, bernama Zhang Yu, mengatakan: “Adik laki-laki saya sudah dua-tiga tahun tidak mendapat pekerjaan sejak lulus kuliah, setelah pandemi berakhir. Dia kuliah di jurusan otomotif di Wuhan, tapi bahkan di kota itu pun tidak bisa mendapat pekerjaan di bidangnya.”
Menurut data Kementerian Pendidikan Partai Komunis Tiongkok (PKT), jumlah lulusan universitas tahun 2025 mencapai 12,22 juta orang, tertinggi dalam sejarah, meningkat 430.000 orang dibanding tahun 2024.
Zhou Heng menambahkan: “Ada jutaan buruh migran yang sudah tidak bekerja sejak tahun lalu atau bahkan dua tahun lalu. Setelah Tahun Baru Imlek dan Festival Lentera, banyak dari mereka masih menganggur di rumah karena proyek-proyek konstruksi berhenti, banyak yang terbengkalai, atau tidak ada proyek sama sekali.”
Zhang Yu menuturkan kisah lain: “Saya punya seorang teman, dua tahun lebih tua dari saya, berusia 36 tahun. Dia sudah menjadi eksekutif di Huawei, tapi dipecat karena hamil anak kedua. Saat cuti untuk menjaga kehamilan, dia dipindahkan ke posisi lain dengan gaji yang dipotong besar-besaran, sehingga akhirnya tidak sanggup bertahan dan terpaksa mengundurkan diri.”
Pada 15 September, Universitas Heilongjiang mengadakan bursa kerja yang diikuti oleh lebih dari 110.000 pelamar, namun hanya tersedia sekitar 9.000 lowongan — menunjukkan betapa ketatnya persaingan kerja.
Zhou Heng mengungkapkan tentang masalah nepotisme: “Sekarang, semua posisi bagus di Tiongkok sudah dikuasai oleh pejabat Partai Komunis dan kerabat mereka. Rekrutmen hanya diumumkan secara terbatas. Tidak peduli seberapa berbakat kamu, akhirnya posisi itu tetap jatuh ke orang dalam. Mereka sebut ini ‘lowongan lobak’ — wawancara hanya formalitas, kamu cuma ‘pendamping’ agar terlihat adil, tapi pemenangnya sudah ditentukan sejak awal.”
Dalam berbagai video online terlihat kerumunan besar di bursa kerja kampus, namun jumlah pekerjaan sangat sedikit, menyebabkan ribuan lulusan berebut posisi yang sama.
Zhang Yu menggambarkan tekanan hidup: “Anak muda yang baru lulus tidak dapat pekerjaan, yang lebih tua dipecat. Kami yang masih bekerja pun tertekan oleh biaya sekolah anak dan cicilan rumah. Singkatnya, semua uang yang kamu hasilkan akhirnya harus diserahkan ke negara.”
Kesempatan kerja semakin sedikit dari tahun ke tahun. Ironisnya, kini banyak lulusan universitas berpendidikan tinggi berakhir di pekerjaan tingkat rendah, seperti mengemudi taksi online atau mengantar makanan.
Zhou Heng menambahkan: “Banyak mahasiswa yang demi mendapatkan ijazah, dipaksa universitas untuk menandatangani kontrak kerja palsu. Misalnya, mereka pura-pura bekerja di toko fotokopi, toko sayur, atau restoran pengantar makanan. Sekolah menganggap mereka sudah ‘bekerja’, jadi data tingkat penyerapan kerja mencapai 90% lebih — padahal itu semua palsu.”
Musim panas tahun ini, pemerintah pusat Partai Komunis Tiongkok menerapkan sejumlah kebijakan baru untuk mengatasi pengangguran kaum muda, seperti memberikan subsidi bagi perusahaan yang mempekerjakan lulusan baru. Namun, hingga kini hasilnya masih belum terlihat secara signifikan. (Hui/asr)
Sumber : NTDTV.com


