“Saya mungkin akan ke sana pada akhir pekan, mungkin Minggu … negosiasi berjalan sangat baik,” kata Trump.
EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 8 Oktober mengatakan bahwa ia mungkin akan melakukan perjalanan ke Timur Tengah pada hari Minggu untuk mengikuti pembicaraan perdamaian guna mengakhiri perang antara Israel dan Hamas di Gaza serta memastikan pemulangan sandera yang tersisa.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam rapat meja bundar dengan sejumlah anggota kabinet pada Rabu waktu setempat, hanya beberapa jam sebelum Trump mengumumkan bahwa Israel dan kelompok Hamas telah menandatangani kesepakatan pembebasan sandera yang dirancang oleh Amerika Serikat, sementara pembicaraan damai tahap akhir untuk mengakhiri perang masih berlangsung.
Dalam rapat tersebut, Trump mengatakan bahwa ia baru saja kembali setelah membahas potensi kesepakatan damai Gaza dengan beberapa delegasi Timur Tengah, anggota timnya, dan pihak terkait lainnya. Ia mengisyaratkan bahwa dirinya mungkin akan terbang ke Timur Tengah akhir pekan ini untuk melakukan perundingan langsung guna memantapkan kesepakatan yang diharapkan dapat mengakhiri perang tersebut.
“Kesepakatan ini sudah sangat dekat, dan semuanya berjalan dengan baik. Kami memiliki tim hebat di sana, para negosiator yang luar biasa … dan di pihak lain juga ada negosiator yang hebat. Saya rasa hal ini punya peluang besar untuk terjadi,” ujar Trump.
“Saya mungkin akan ke sana pada akhir pekan, mungkin Minggu. Kita lihat nanti, tapi peluangnya sangat baik … negosiasi berjalan dengan sangat baik.”
Trump menambahkan bahwa banyak pihak terlibat dalam pembicaraan tersebut, termasuk Hamas serta negara-negara Muslim dan Arab lainnya.
“Negosiasi terakhir kami, seperti yang Anda tahu, adalah dengan Hamas, dan sepertinya berjalan baik,” katanya. “Kami mungkin akan berangkat pada hari Minggu, atau Sabtu, mungkin agak malam sedikit, tapi itu jadwal kami.”
Sekitar satu jam setelah pertemuan tersebut dimulai, Menteri Luar Negeri Marco Rubio memberikan secarik catatan kepada Trump. “Kami sudah sangat dekat dengan kesepakatan di Timur Tengah,” kata Trump, mengutip isi catatan itu, “dan mereka mungkin segera membutuhkan saya.”
Bulan lalu, pemerintahan Trump mengumumkan rencana perdamaian multi-tahap untuk Timur Tengah guna mengakhiri perang tersebut.
Rencana dari Washington itu mencakup:
- Pemulangan semua sandera, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal;
- Penghentian serangan Israel terhadap Qatar;
- Gencatan senjata segera;
- Peningkatan besar bantuan kemanusiaan ke Gaza;
- Program rekonstruksi berskala besar;
- Serta dialog baru antara Palestina dan Israel untuk mencapai “koeksistensi damai.”
Pada 29 September, Trump menjamu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih, di mana Netanyahu menyetujui rencana perdamaian Gaza yang diusulkan AS.
Sementara itu, pada 8 Oktober, Hamas mengatakan telah menukar daftar sandera Palestina dan Israel yang akan dibebaskan dalam kesepakatan pertukaran.
Perkembangan ini terjadi pada hari ketiga negosiasi antara Hamas dan Israel, dengan delegasi Mesir, Amerika Serikat, dan Qatar bertindak sebagai mediator untuk mengakhiri perang dan memantapkan rencana perdamaian rancangan AS.
“Para mediator berupaya keras untuk menghapus segala hambatan menuju pelaksanaan gencatan senjata, dan semua pihak merasa optimistis,” kata Hamas, seperti dikutip oleh Al Aqsa TV, media yang berafiliasi dengan kelompok tersebut.
Laporan ini turut disusun oleh Emel Akan, Evgenia Filimianova, dan Reuters.


