EtIndonesia. Amerika Serikat akan menugaskan 200 personel militer dari Komando Pusat AS (CENTCOM) untuk bergabung dalam satuan tugas gabungan yang mengawasi stabilitas Gaza, tanpa mengerahkan pasukan ke wilayah kantong Palestina tersebut, demikian diumumkan pemerintahan Trump pada 9 Oktober.
Dua pejabat senior pemerintahan AS mengonfirmasi langkah itu kepada wartawan, sehari setelah Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa Israel dan kelompok Hamas telah menyetujui rencana perdamaian yang disusun oleh Amerika Serikat. Kesepakatan tersebut mencakup pembebasan seluruh sandera yang tersisa serta penerapan gencatan senjata antara kedua pihak.
Menurut Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt, pasukan itu akan bertugas memantau pelaksanaan perjanjian damai di Israel dan bekerja sama dengan pasukan internasional lainnya di lapangan.
Leavitt menjelaskan bahwa para prajurit tersebut sudah berada di bawah komando CENTCOM, salah satu komando tempur terpadu Departemen Pertahanan AS yang bertanggung jawab atas operasi militer di Timur Tengah, Afrika Utara, serta sebagian Asia Selatan dan Tengah.
Markas utama CENTCOM terletak di Pangkalan Angkatan Udara MacDill, Tampa, Florida.
Pejabat senior AS menambahkan, satuan tugas gabungan itu akan melibatkan perwakilan militer dari Mesir, Qatar, Turki, dan kemungkinan juga Uni Emirat Arab.
Seorang pejabat mengatakan, komandan CENTCOM akan bertugas mengawasi dan memastikan tidak terjadi pelanggaran atau serangan apa pun di lapangan.
“Tidak ada pasukan AS yang akan masuk ke Gaza,” tegas pejabat tersebut. “Peran mereka hanyalah membantu membentuk pusat kendali gabungan dan mengoordinasikan kehadiran pasukan keamanan internasional lainnya yang akan ditempatkan di sana untuk menghindari benturan dengan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) serta membangun struktur komando yang tepat untuk menjalankan misi sebagaimana ditetapkan.”
Lokasi pasti penempatan pasukan AS masih belum diputuskan, namun pejabat tersebut mengatakan informasi lebih lanjut akan diumumkan dalam waktu dekat.
Pejabat lainnya menjelaskan bahwa terobosan utama dalam negosiasi Israel–Hamas terjadi ketika kedua pihak sepakat membagi kesepakatan menjadi dua tahap, dengan pembebasan sandera sebagai langkah pertama.
“Kami menyadari bahwa Hamas tidak membutuhkan para sandera untuk mempertahankan posisi politiknya. Justru dengan membebaskan mereka, hal itu bisa membawa dampak positif dan membuka jalan bagi langkah berikutnya. Tapi proses ini memerlukan banyak pembangunan kepercayaan,” ujar salah satu pejabat.
“Saya kira kesepakatan ini sangat komprehensif—interaksi antar pihak sangat intens—sehingga akhirnya semua pihak bisa melihat garis akhir yang sama, dan mereka siap melangkah ke sana,” tambahnya.
Tak lama setelah pernyataan itu, kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan bahwa kabinetnya telah menyetujui kerangka kesepakatan dengan Hamas untuk pembebasan sandera serta pelaksanaan gencatan senjata di Gaza.
Sumber : The Epoch Times


