Dubes AS untuk Tiongkok Tegaskan Amerika Tak Akan Menyerah pada Beijing Tentang Kebijakan Taiwan

Rezim Tiongkok secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk merebut Taiwan dengan kekuatan militer bila dianggap perlu.

EtIndonesia. Duta Besar Amerika Serikat untuk Tiongkok, David Perdue, menegaskan kembali bahwa kebijakan Washington terhadap Taiwan tidak berubah, menyusul laporan yang menyebutkan bahwa pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) Xi Jinping telah mendesak Presiden AS Donald Trump agar menolak kemerdekaan Taiwan.

“Kami sudah menyampaikan dengan sangat jelas bahwa kami tidak akan mengubah kebijakan ‘Satu Tiongkok’,” ujar Perdue dalam wawancaranya di program Squawk Box CNBC pada 1 Oktober. 

“Kami akan tetap berpegang pada Undang-Undang Hubungan Taiwan (Taiwan Relations Act), tiga komunike bersama, dan enam jaminan yang ditetapkan di era Presiden Ronald Reagan. Kebijakan ini sudah berjalan baik selama ini. Kami tidak menginginkan paksaan—kami ingin semua diselesaikan secara damai.”

Kebijakan “Satu Tiongkok” berarti Amerika Serikat mengakui Partai Komunis Tiongkok sebagai pemerintah resmi Tiongkok, menggantikan pengakuannya pada tahun 1979 terhadap Republik Tiongkok (Taiwan) yang telah mundur ke pulau tersebut sejak 1949. Namun, PKT menggunakan istilah yang sama untuk menegaskan klaim bahwa Taiwan adalah bagian dari wilayahnya—pandangan yang selama ini ditekan agar diadopsi oleh negara-negara lain.

Sementara itu, pendekatan Washington terhadap Taiwan dikenal sebagai “strategic ambiguity” atau ambiguitas strategis—yakni tidak secara resmi mengakui kedaulatan Tiongkok atas Taiwan, namun juga tidak memutuskan hubungan dengan pulau yang memiliki pemerintahan demokratis tersebut.

Menurut laporan The Wall Street Journal pada 27 September, Beijing baru-baru ini meminta Washington untuk mengubah retorikanya soal Taiwan, dengan menegaskan bahwa AS seharusnya “menentang kemerdekaan Taiwan.” Namun, Departemen Luar Negeri AS menegaskan kebijakan Amerika tidak berubah, pernyataan yang kemudian ditegaskan kembali oleh Perdue beberapa hari kemudian.

Xi Jinping diketahui berulang kali menyatakan tekadnya untuk merebut Taiwan, bahkan dengan kekuatan militer jika perlu, dan telah memerintahkan militer Tiongkok agar siap melakukannya sebelum tahun 2027.

Isu Taiwan ini disebut-sebut akan dibahas dalam pembicaraan dagang tingkat tinggi antara AS dan Tiongkok yang akan datang. Trump telah mengonfirmasi bahwa dirinya akan bertemu Xi Jinping dalam pertemuan APEC mendatang, setelah sebelumnya melakukan panggilan telepon panjang yang menghasilkan kesepakatan penjualan TikTok ke Amerika Serikat.

Dalam unggahan di media sosial pada 1 Oktober, Trump mengatakan akan menekan Tiongkok terkait penurunan pembelian kedelai dari AS selama pertemuan APEC.

Tiongkok merupakan pembeli terbesar kedelai Amerika, sementara para petani AS melaporkan hasil panen terbesar tahun ini. Namun di tengah perang dagang, Beijing belum membeli satu pun kedelai dari AS, melainkan beralih membeli dalam jumlah besar dari Brasil dan Argentina.

Langkah serupa pernah diambil Tiongkok pada tahun 2018, ketika menghentikan pembelian kedelai dari AS. Meskipun pembelian sempat dilanjutkan, jumlahnya tak pernah kembali ke tingkat sebelumnya karena Beijing berupaya mendiversifikasi sumber pasokan.

Pada Agustus lalu, perwakilan Tiongkok sempat bertemu dengan pelaku industri kedelai AS, namun alih-alih berjanji untuk membeli, mereka justru mendesak agar petani melobi pemerintah AS untuk mengakhiri perang dagang.

Selama pemerintahan Trump pertama, Gedung Putih memberikan subsidi kepada petani kedelai untuk menutupi kerugian akibat perang dagang dengan Tiongkok. Trump mengisyaratkan akan kembali melakukan hal serupa menggunakan pendapatan rekor dari tarif impor yang diterapkan AS. Menteri Perdagangan AS Scott Bessent mengatakan kebijakan itu kemungkinan akan diumumkan pada 7 Oktober.

Perdue menilai Trump telah berhasil besar dalam menghadapi Tiongkok, mencontohkan kesepakatan TikTok dan kemajuan dalam negosiasi dengan Boeing.

“Trump adalah satu-satunya presiden yang saya lihat mampu ‘memukul di wajah’ lawannya, namun tetap bisa berbalik dan merangkul untuk memulai negosiasi,” ujarnya.

Terkait keluhan Beijing terhadap kebijakan AS, Perdue menegaskan, “Saya selalu mengatakan kepada mereka, ini kesalahan kalian sendiri.”

“Mereka telah mendorong Amerika terlalu jauh. Rakyat Amerika tidak suka melihat industrinya dikuras habis, atau jaringan listrik dan pelabuhan mereka diintervensi oleh Tiongkok,” katanya.

Perdue juga menyebutkan bahwa komunikasi antara Washington dan Beijing kini meningkat, dengan pertemuan sejumlah pejabat kabinet AS dan kunjungan delegasi DPR AS ke Tiongkok baru-baru ini.

“Jika Tiongkok benar-benar ingin menjadi mitra dalam membentuk masa depan tatanan dunia, kami berharap mereka bisa bertindak lebih bertanggung jawab,” ujar Perdue.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine