Setia Hingga Akhir: Pasangan Lansia yang Telah Bersama 70 Tahun Memilih Eutanasia Bersama

EtIndonesia. Cinta sejati tidak selalu berawal dengan cerita yang panjang, tetapi kadang dimulai hanya dengan sebuah tatapan yang tak bisa dilupakan. Di Kanada, sepasang suami istri — George dan Shirley Brickenden — membuktikan arti sejati dari kalimat “hingga maut memisahkan.”

Mereka bertemu pada tahun 1944, jatuh cinta dalam enam hari, menikah, dan hidup berdampingan selama 73 tahun penuh cinta dan kebersamaan. 

Ketika usia mereka telah mencapai sembilan puluh tahun dan tubuh mulai rapuh oleh penyakit, pasangan ini mengambil keputusan yang mengguncang banyak hati:  mereka memilih untuk meninggalkan dunia ini bersama, melalui eutanasia sukarela.

Cinta yang Berawal dari Takdir

Menurut laporan media, pertemuan mereka benar-benar seperti takdir yang telah diatur. George, seorang perwira angkatan laut yang tampan dan karismatik, kala itu dikelilingi banyak pengagum. Namun, atas permintaan ibunya, dia tetap menghadiri sebuah perjodohan yang semula dia anggap membosankan.

Di pertemuan itulah dia bertemu Shirley, seorang wanita berusia 21 tahun yang saat itu bertugas di angkatan udara. Begitu melihatnya, George langsung terpesona. Dia tahu, di hadapannya berdiri wanita yang ingin dia cintai seumur hidupnya.

Hanya enam hari setelah pertemuan pertama, George melamar Shirley — dan tanpa ragu, Shirley berkata: “Ya.”

Cinta pada pandangan pertama ternyata bukan hanya milik film, karena sejak hari itu, mereka benar-benar berjalan bersama dari rambut hitam hingga memutih.

Tujuh Puluh Tiga Tahun Cinta Tanpa Jarak

Selama lebih dari tujuh dekade, rumah tangga mereka penuh kasih dan saling pengertian.

Mereka membesarkan empat orang anak, dan dalam setiap tahap kehidupan, mereka selalu berjalan beriringan.

Shirley mencintai seni lukis — George akan menemaninya ke pameran. George menyukai musik — Shirley akan ikut duduk di sisinya menikmati konser.

Anak kedua mereka pernah berkata dalam wawancara: “Ayah dan Ibu benar-benar saling mencintai. Selama bertahun-tahun, mereka hampir tak pernah terpisah. Bahkan ketika Ibu hanya ingin membeli sepasang kaus kaki, Ayah akan ikut menemaninya. Mereka selalu berjalan bersama — kemana pun, kapan pun.”

Janji yang Tak Pernah Terucap Palsu

Namun, waktu tidak bisa dibendung. Memasuki usia lanjut, keduanya mulai menderita berbagai penyakit. Pada tahun 2016, Shirley sempat dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantung. George menunggu di luar ruang operasi dengan wajah tegang dan mata yang tak berhenti berkaca-kaca.

Ketika operasi selesai dan Dia diizinkan menjenguk istrinya, George memegang tangan Shirley erat-erat dan berkata dengan suara bergetar: “Jangan pergi, ya. Kalau AKU kehilangan kamu… aku tak tahu bagaimana harus hidup.”

Shirley menatapnya lembut dan menjawab: “Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian.”

Keputusan yang Menggetarkan Banyak Hati

Ketika kondisi fisik mereka semakin melemah dan rasa sakit makin tak tertahankan, pasangan ini menyadari bahwa cepat atau lambat, salah satu dari mereka akan lebih dulu pergi — meninggalkan yang lain dalam kesepian panjang.

Mereka tidak ingin itu terjadi. Mereka ingin mengakhiri hidup bersama, seperti halnya mereka menjalani hidup bersama.

Ketika mengungkapkan keputusan itu kepada anak-anak mereka, pada awalnya keluarga merasa sulit untuk menerima. Namun setelah berdiskusi panjang, anak-anak mereka akhirnya memilih menghormati keinginan kedua orangtuanya.

Hari Terakhir Bersama

Tanggal 27 Maret 2018, seluruh keluarga berkumpul di rumah George dan Shirley. Mereka mengadakan perjamuan terakhir yang penuh kehangatan — makan malam bersama, tertawa, bernostalgia, dan berfoto keluarga.

Setelah malam yang indah itu, George dan Shirley masuk ke kamar mereka, berbaring berdampingan di ranjang, saling menggenggam tangan dan saling menatap dengan senyum.

Dengan suara lembut, mereka berkata kepada anak-anak yang berdiri di sisi ranjang: “Kami mencintai kalian semua.”

Beberapa menit kemudian, di bawah pengawasan dua dokter, pasangan ini pergi bersama dengan tenang.

Tentang Eutanasia di Kanada

Kanada melegalkan eutanasia pada tahun 2016. Namun hukum ini sangat ketat: hanya diperbolehkan jika kematian pasien sudah “dapat diperkirakan secara wajar”, dan jika pasien menderita rasa sakit yang tak tertahankan serta penurunan fungsi tubuh yang tak bisa dipulihkan.

George dan Shirley memenuhi semua syarat itu, tetapi lebih dari sekadar kondisi medis, mereka menunjukkan bahwa keputusan mereka adalah tentang cinta yang setia hingga akhir.

Cinta yang Tidak Mati

Kisah mereka menyebar ke seluruh dunia, menjadi simbol dari kesetiaan yang melampaui waktu dan tubuh.  Mereka telah mengajarkan bahwa cinta sejati bukan hanya tentang bertahan hidup bersama, tetapi juga berani menghadapi kematian bersama, tanpa ketakutan, tanpa penyesalan.

Mereka datang ke dunia ini sebagai dua orang asing, bertemu, saling jatuh cinta, membangun keluarga, dan akhirnya meninggalkan dunia dengan tangan masih saling menggenggam.

“Cinta sejati bukanlah tentang seberapa lama kamu bisa bertahan hidup tanpa kehilangan seseorang, tetapi tentang bagaimana kamu memilih untuk tidak pernah berpisah — bahkan dalam kematian.”

George & Shirley Brickenden (1910s–2018)
Setia hingga akhir, cinta mereka tak lekang oleh waktu.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine