EtIndonesia. Pada 21 September 2025, dalam acara “Festival Budaya Tiongkok” yang diselenggarakan oleh konsulat Tiongkok di Duisburg, Jerman, terjadi insiden tak terduga ketika seorang ibu dan putrinya melakukan aksi protes dan tuduhan keras terhadap rezim partai Komunis Tiongkok (PKT).
Mereka mengangkat poster berisi keluhan tentang nasib tragis yang mereka alami, sambil menuduh bahwa praktik transplantasi organ ilegal oleh PKT membuat “tidak ada seorang pun yang benar-benar aman.” Di tempat acara, mereka berteriak lantang: “Xi Jinping, kembalikan paru-paru kiriku!” Seruan itu mengejutkan banyak orang yang hadir.
Sang ibu, Du Tingxiang, berasal dari provinsi Henan, sementara putrinya, Zhang Qi, adalah korban pengambilan organ hidup. Mereka menuduh bahwa Cui Guanghui, kepala Departemen Bedah Dada di Rumah Sakit Afiliasi Pertama Universitas Zhengzhou, telah menipu dan secara paksa mengambil paru-paru kiri Zhang Qi secara hidup-hidup.
Kisah Zhang Qi bukanlah kasus yang terisolasi. Baru-baru ini, Zhang Yu, seorang perawat di sebuah rumah sakit tingkat tiga di Wuhan, mengungkapkan kepada Epoch Times bahwa di rumah sakit Tiongkok, pengambilan organ pasien secara paksa sudah menjadi rahasia umum—semua orang sudah mengetahuinya.
Ia mengatakan, tindakan itu bukan hasil dari perilaku dokter tertentu saja, melainkan bagian dari “rantai industri tingkat tinggi yang lengkap,” yang melibatkan banyak pihak — dari direktur rumah sakit, sekretaris partai, kepala departemen, dokter bedah utama, hingga staf pelaksana di lapangan.
Bermula Terkena Flu, Musibah Besar Menimpa Zhang Qi — Penderitaan Fisik dan Mental yang Tak Terbayangkan
Pada Juni 2018, Zhang Qi, yang saat itu berusia 23 tahun, mengalami musibah besar akibat penyakit flu biasa, yang kemudian menghancurkan seluruh hidupnya.



Melalui rekaman video, Zhang Qi membuka bajunya di depan kamera untuk menunjukkan luka-luka di tubuhnya. Terlihat bekas sayatan panjang dari tenggorokan hingga perutnya, serta bekas luka dari dada kiri ke punggung—bukti bahwa paru-paru kirinya diambil secara hidup-hidup oleh dokter tanpa sepengetahuannya.
Selain itu, di bawah ketiaknya terdapat sebuah lubang besar yang harus dibersihkan dan diganti perbannya setiap hari.
Sang ibu, Du Tingxiang, menjelaskan bahwa awalnya lubang di ketiak Zhang Qi sebesar kepalan tangan, dan penjepit medis bisa dimasukkan sedalam 10 sentimeter. Setelah menjalani berkali-kali operasi, barulah rongga di paru-parunya sedikit mengecil.


Sebagai korban pengambilan organ hidup, Zhang Qi menjelaskan bahwa trakeanya tidak dijahit dengan benar, sehingga terjadi infeksi di dalam rongga dada, yang kemudian terisi nanah.

Tujuh tahun lalu, tanpa sepengetahuan ibu dan anak ini, dokter telah mengangkat seluruh paru-paru kiri Zhang Qi. Saat menjahit kembali trakeanya (trakea : saluran pernapasan utama yang menghubungkan laring (kotak suara) dengan bronkus (saluran menuju paru-paru), mereka hanya menggunakan staples medis seadanya.
“Mereka memasang beberapa staples, tapi asal-asalan. Di dalamnya masih bisa terlihat sisa staples itu. Pernah waktu saya batuk, satu staples keluar dari tenggorokan…” kata Zhang Qi.
Du Tingxiang, yang terus merawat putrinya, juga memperlihatkan jarum medis yang digunakan oleh dokter di Rumah Sakit Universitas Zhengzhou.
Ketika paru-paru kiri Zhang Qi diangkat, sayatan operasi membentang dari dada kiri hingga ke punggung, sepanjang lebih dari sepuluh sentimeter.
Untuk mengeluarkan nanah dari rongga dada, kemudian dokter melubangi punggung Zhang Qi dan memasang selang drainase. Namun, saat penggantian selang, kerongkongannya (esofagus) tertusuk dan robek.
Karena kerongkongan rusak, makanan bisa masuk ke paru-paru, sehingga dokter harus memasang selang langsung ke usus. Sejak itu, Du Tingxiang setiap hari menyuntikkan makanan sedikit demi sedikit melalui selang ke usus Zhang Qi, atau menyalurkan nutrisi cair melalui infus—hingga kemudian kerongkongannya berhasil diperbaiki.
Ibu dan Anak Melarikan Diri ke Jerman — Dokter: “Bisa bertahan hidup adalah keajaiban”
Du Tingxiang melarikan diri ke Jerman pada Oktober tahun lalu, sementara Zhang Qi menyusul pada Februari tahun ini.
Saat mereka tiba di Jerman, dokter yang memeriksa Zhang Qi mengatakan bahwa ia bisa bertahan hidup adalah sebuah keajaiban.
Dokter memperingatkan bahwa Zhang Qi tidak boleh melakukan penerbangan jarak jauh, karena jika terjadi pendarahan besar di rongga dada, mustahil diselamatkan di udara. Namun, Zhang Qi tetap menempuh penerbangan selama 15 jam, dengan risiko nyaris pasti mati, demi satu tujuan: “Saya harus melarikan diri. Saya ingin hidup.”
Dokter di Zhengzhou Menipu Secara Terang-terangan — Mengambil Paru-Paru Kiri Pasien
Pada Juni 2018, seminggu setelah terkena flu, Zhang Qi khawatir bahwa dirinya mungkin terserang influenza. Ia pun pergi ke Rumah Sakit Afiliasi Pertama Universitas Zhengzhou untuk memeriksakan diri di bagian penyakit dalam, karena rumah sakit itu dikenal sebagai yang terbaik di wilayah tersebut.
Saat itu, dokter memberitahu mereka bahwa biaya rawat jalan tidak bisa diganti asuransi, tetapi biaya rawat inap bisa diganti, dan bahwa biayanya tidak mahal serta mereka akan “bertanggung jawab penuh” terhadap pasien.





Mereka percaya pada perkataan dokter. Setelah dirawat inap, dokter mengatakan bahwa paru-paru Zhang Qi terinfeksi jamur dan perlu dilakukan perawatan dengan torakoskopi (kamera dada). Zhang Qi kemudian dipindahkan ke bagian bedah toraks, dan kepala departemen, dokter Cui Guanghui, meyakinkan mereka bahwa itu hanya operasi kecil berupa sayatan ringan
Namun, saat operasi sedang berlangsung, perawat keluar dan mengatakan bahwa rongga dada sudah dibuka, dan dokter mengubah rencana operasi. Perawat mendesak Ibu Du untuk segera menandatangani formulir persetujuan, dengan alasan tidak boleh menunda waktu. Du Tingxiang akhirnya menandatangani tanpa benar-benar memahami apa yang terjadi.
Tak lama kemudian, perawat kembali keluar dan berkata bahwa paru-paru anaknya telah dipotong, dengan alasan untuk mencegah infeksi lebih lanjut. Perawat menjelaskan bahwa bagian bawah paru-paru yang terinfeksi sudah diangkat, lalu bagian atas juga ikut diangkat — seluruh paru-paru kiri diambil. Du Tingxiang terkejut dan kebingungan.
Dokter Cui Guanghui: “Untuk Kebaikan Anda”
Dokter Cui Guanghui mengatakan bahwa tindakan itu dilakukan demi kebaikan pasien, agar tidak terjadi komplikasi di masa depan. Ia juga menambahkan, “Paru-paru manusia ada lima lobus, kalau diambil dua, masih bisa hidup dengan tiga, tidak akan apa-apa.”
Namun, alasan seperti ini adalah taktik umum yang digunakan dokter di Tiongkok untuk menipu pasien dan mengambil organ mereka, dan hal itu sudah menjadi rahasia umum di dunia medis Tiongkok.
Seorang perawat bernama Zhang Yu, yang pernah bekerja lebih dari 10 tahun di rumah sakit besar Tiongkok, mengungkap kepada Epoch Times bahwa pengambilan organ dari pasien merupakan rahasia terbuka. Ia menjelaskan bahwa darah pasien sering diambil untuk uji kecocokan organ, dan jika hasilnya cocok dengan orang yang bersedia membayar, maka dokter akan menggunakan alasan medis untuk menipu pasien dan mengambil organnya.
Ia mencontohkan: dokter sering menakut-nakuti pasien dengan mengatakan bahwa “ginjalnya bermasalah” atau “terjadi penyumbatan pada ginjal”, lalu mengambil ginjal yang sebenarnya masih sehat dengan dalih tidak memengaruhi kehidupan.
Tidak Ada Infeksi Jamur, Diagnosis Rumah Sakit Zhengzhou Salah
Setelah paru-paru Zhang Qi diangkat, ia mengalami infeksi pasca operasi dan pergi ke rumah sakit lain untuk pemeriksaan. Tidak ditemukan infeksi jamur apa pun. Bahkan dokter di Beijing mengatakan, infeksi jamur seharusnya bisa diobati dengan obat, bukan dengan mengangkat seluruh paru-paru.
Laporan dari Laboratorium Medis Aidikang Zhengzhou menunjukkan bahwa paru-paru Zhang Qi tidak mengandung infeksi jamur, bertentangan dengan diagnosis dari Rumah Sakit Afiliasi Pertama Universitas Zhengzhou.
Perbedaan Perlakuan antara Organ Sehat dan Organ Rusak
Du Tingxiang menuturkan satu detail penting: setelah paru-paru anaknya diangkat, dokter tidak memperlihatkan organ yang diangkat tersebut, hanya menulis dalam catatan operasi bahwa paru-paru telah diambil.
Perawat Zhang Yu menjelaskan bahwa ini melanggar prosedur medis standar.
Jika organ yang diangkat rusak, dokter wajib menunjukkannya kepada keluarga pasien dan mengirimkannya untuk pemeriksaan laboratorium.
Namun, jika organ yang diangkat masih sehat, organ itu biasanya langsung disimpan di kotak pendingin khusus untuk transplantasi — dan keluarga tidak akan pernah melihatnya lagi.
Luka Zhang Qi Mirip dengan Korban Lain Pengambilan Organ Hidup
Bekas sayatan di tubuh Zhang Qi memanjang lebih dari 10 sentimeter, mirip dengan bekas luka di tubuh korban pengambilan organ hidup lainnya, yaitu praktisi Falun Gong Cheng Peiming, yang selamat dari pengambilan organ di tahun 2004.
Cheng dijatuhi hukuman penjara 8 tahun karena keyakinannya, dan ketika di penjara Daqing, ia dikirim ke rumah sakit tanpa pemberitahuan dan organnya diambil. Ia kemudian berhasil melarikan diri ke luar negeri pada 2015, dan setelah menjalani 9 kali pemeriksaan medis di AS, diketahui bahwa sebagian hati dan paru-paru kirinya telah diangkat.
Dokter Menawarkan Paru-Paru Baru untuk Dijual
Zhang Qi berkata: “Mereka tidak hanya mencuri paru-paruku, mereka juga ingin memaksaku membeli paru-paru orang lain.”
Dokter Cui Guanghui bahkan mengatakan bahwa jika mereka membayar 500.000 yuan, maka dalam waktu 3 bulan mereka bisa mendapatkan paru-paru pengganti yang cocok.
Namun, setelah keluar dari rumah sakit, Zhang Qi terus demam dan batuk mengeluarkan cairan dari rongga dada. Saat kembali menemui dokter Cui, ia hanya dipasangkan stent trakea atau tabung kecil yang dipasang di dalam trakea (saluran napas utama), yang ternyata tidak berfungsi sama sekali.
Mereka akhirnya mencari pertolongan ke Beijing, Shanghai, dan Xi’an, namun para dokter di sana mengatakan bahwa selama trakea rusak, stent tidak akan berfungsi. Stent itu kemudian diangkat.
Lebih dari 20 Operasi, Hidup dalam Siksaan
Zhang Qi kemudian menjalani berkali-kali operasi, untuk menjahit kedua ujung trakea agar udara tidak lagi masuk ke rongga dada.
Dokter juga membuat lubang di bawah ketiaknya dan mencabut beberapa tulang rusuk, untuk mengecilkan rongga paru yang kosong.


Penderitaan Tiada Akhir — Hanya Ibu dan Anak Saling Bertahan
Du Tingxiang telah merawat putrinya selama lebih dari 7 tahun, setiap hari mengganti perban, membersihkan luka, dan mengurus semua kebutuhannya.
Sekarang, Zhang Qi hanya bisa makan sedikit-sedikit, cepat merasa lapar, dan sejak tahun 2022 tidak bisa tidur telentang karena rongga di dadanya bocor. Ia harus tidur dalam posisi duduk, hingga tulang punggungnya membengkok.
Du Tingxiang sambil menangis berkata: “Inilah tempat tidur kami selama bertahun-tahun. Kami tidur sambil duduk. Saya tidak bisa berbaring. Dia (Zhang Qi) tidak bisa mandi sendiri, tidak bisa melakukan apa pun tanpa bantuan. Dia seperti bayi, saya tidak bisa meninggalkannya sedetik pun.”
Zhang Qi yang kini berusia 30 tahun berkata sambil menahan tangis: “Beberapa tahun ini seharusnya masa paling indah dan bahagia dalam hidupku, tapi semuanya kuhabiskan di rumah sakit dan perjalanan antar rumah sakit.”
Suara Zhang Qi kini serak dan lemah; setiap kali berbicara, sering disertai batuk hingga harus berhenti.
Ia sudah menjalani lebih dari 20 operasi dada untuk menjahit trakeanya dan memperbaiki rongga dada.

Melapor Malah Ditekan Aparat
Pada tahun 2021, Du Tingxiang mencoba melapor ke Komisi Kesehatan Provinsi Henan, namun hanya disuruh menunggu di rumah setelah didata. Tak lama kemudian, ia baru tahu bahwa direktur rumah sakit yang mencelakai putrinya juga merangkap jabatan sebagai ketua partai dan direktur Komisi Kesehatan Provinsi Henan — sehingga tidak ada tempat untuk mencari keadilan.
Seorang temannya yang juga mencoba melapor ditangkap dan dijatuhi hukuman 2 tahun 9 bulan, sementara pemerintah desa memperingatkannya bahwa ia juga akan ditangkap dan dipenjara jika terus menuntut.
Pada 2022, ia menyadari bahwa kebebasannya dibatasi: “Saya bahkan tidak diizinkan naik mobil atau kereta untuk menemani anak saya operasi. Mereka menolak membuat kode tes COVID untuk saya, semua gerak saya dibatasi.”
Akhirnya, demi keselamatan putrinya, ia memutuskan untuk melarikan diri dari Tiongkok.
“Melahirkan Anak, Bisa-Bisa Jadi Sumber Organ Orang Lain”
“Tragedi seperti ini di Tiongkok tidak bisa disuarakan oleh rakyat biasa, karena sumbernya adalah Partai Komunis Tiongkok sendiri. Praktik pengambilan organ hidup telah menghancurkan moralitas dan menjadikan lembaga medis sebagai mesin pembunuh,” kata Ketua WOIPFG (World Organization to Investigate the Persecution of Falun Gong) atau Organisasi Dunia untuk Menyelidiki Penganiayaan terhadap Falun Gong, Wang Zhiyuan.
Du Tingxiang berkata: “Sekarang di Tiongkok, banyak remaja dan mahasiswa yang hilang. Saya merasa ini berkaitan dengan rumah-rumah sakit itu. Ada 188 rumah sakit transplantasi di seluruh negeri, dan setiap hari ada anak-anak yang hilang.”
Ia menambahkan dengan getir:“Anak muda sekarang takut menikah dan punya anak. Karena bisa saja, tanpa sengaja, anak yang kamu lahirkan menjadi sumber organ bagi orang lain. Bagaimana mungkin kita bisa terus mengawasi anak 24 jam? (Pemimpin Tiongkok) Xi Jinping bilang ingin hidup sampai 150 tahun — berapa banyak organ yang harus diambil untuk itu?!”
“Transplantasi organ di bawah rezim komunis adalah pembunuhan sesuai permintaan — begitu ada yang cocok dan membayar, orang itu akan ‘menghilang’, diciptakan kecelakaan, lalu organnya diambil,” tambahnya.
Zhang Qi menegaskan dengan marah: “Tidak ada seorang pun yang aman. Demi uang, mereka bisa membunuh siapa saja. Kalau seseorang butuh organ, mereka akan membunuh orang lain untuk mendapatkannya. Siapa pun yang punya uang, dia yang akan mendapat organ itu.”
Du Tingxiang menambahkan: “Pada 2016, lebih dari 3,9 juta orang hilang di Tiongkok; pada 2023 ada 3 juta, dan 3,09 juta pada 2024. Setiap hari ada anak yang hilang. Semua orang hidup dalam ketakutan. Transplantasi organ harus dihentikan.”
Wang Shoufeng, wakil ketua Aliansi Gerakan Sipil Eropa di Jerman berkata : “Zhang Qi bisa melarikan diri ke luar negeri adalah keberuntungan besar. Namun di balik kisahnya, ada ratusan ribu korban yang dibunuh dan dibungkam. Banyak yang organnya diambil, dan hanya sedikit yang bisa selamat.”
“Pengambilan organ hidup telah menghancurkan moral dan sistem hukum. Rezim komunis mengubah manusia menjadi iblis, dokter menjadi algojo. Dalam pandangan mereka, manusia hanyalah tambang emas hidup — sumber uang yang bisa diambil kapan saja,” ujar Wang Zhiyuan menutup dengan pernyataan pedih. (Hui/asr)


