Militer AS Kembali Serang Kapal Pengangkut Narkoba, Kirim Pesawat Pembom B-52 untuk Tekan Venezuela

Hubungan antara Amerika Serikat dan Venezuela terus memanas akibat masalah narkoba. Pada Kamis (16 Oktober), militer AS kembali melancarkan serangan terhadap sebuah kapal pengangkut narkoba di Laut Karibia.

Menurut laporan media asing, Gedung Putih telah menolak proposal Presiden Nicolás Maduro untuk mundur dalam tiga tahun, dengan menegaskan bahwa pemerintahannya tidak sah.

Presiden Donald Trump juga mengkonfirmasi bahwa ia telah memberi wewenang kepada CIA untuk melancarkan operasi rahasia di Venezuela dan sedang mempertimbangkan operasi darat.

EtIndonesia.com. Militer AS pada Kamis (16/10/2025) kembali menyerang kapal yang dicurigai membawa narkoba di Laut Karibia. Untuk pertama kalinya, dilaporkan ada korban selamat dalam operasi tersebut. Pentagon menyebut kapal-kapal pengangkut narkoba itu sebagai “teroris narkotika.”

Sejak September, militer AS telah beberapa kali melakukan serangan mematikan terhadap kapal penyelundup narkoba di wilayah Karibia. Sebelum operasi terbaru ini, AS telah menenggelamkan lima kapal pengangkut narkoba—empat di antaranya berasal dari Venezuela—yang menewaskan sedikitnya 27 orang.

Operasi militer AS di kawasan itu terus meningkat. Pada Rabu (15 Oktober), sedikitnya dua pesawat pembom strategis B-52 terlihat menuju perairan lepas pantai Venezuela untuk menjalankan misi. Selain itu, militer AS juga telah menempatkan tiga kapal perusak bersenjata sistem tempur Aegis di wilayah tersebut.

Di tengah meningkatnya tekanan dari AS, media asing melaporkan bahwa pemerintah Venezuela mengajukan proposal kepada Washington berupa “rencana pengunduran diri bertahap Maduro.” 

Dalam proposal itu disebutkan bahwa Presiden Nicolás Maduro akan turun dari jabatan dalam tiga tahun, menyerahkan kekuasaan kepada Wakil Presiden Delcy Rodríguez untuk menyelesaikan masa jabatan hingga Januari 2031, serta berjanji tidak akan mencalonkan diri lagi.

Namun Gedung Putih menolak usulan tersebut, menegaskan bahwa AS tidak mengakui pemerintahan Maduro dan menuduhnya memimpin negara yang terlibat dalam terorisme narkotika.

“Presiden Trump memandang Maduro sebagai presiden ilegal yang memimpin rezim ilegal. Rezim itu telah lama menyelundupkan narkoba ke Amerika Serikat, dan kami tidak akan mentoleransi hal itu lagi,” ujar juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt. 

Presiden Trump juga mengkonfirmasi pada Rabu bahwa ia telah memberi otorisasi kepada CIA untuk menjalankan operasi rahasia di Venezuela, serta mempertimbangkan kemungkinan operasi darat di negara tersebut.

Trump menjelaskan: “Saya memberikan izin itu karena dua alasan. Pertama, mereka telah mengosongkan penjara; dan kedua, karena masalah narkoba — sejumlah besar narkoba masuk dari Venezuela, sebagian besar melalui jalur laut.”

Dengan terungkapnya otorisasi operasi CIA ini, tekanan AS terhadap pemerintahan Maduro kini memasuki fase baru. Namun, Trump menolak menjawab apakah CIA telah diberi izin untuk menargetkan Maduro secara langsung, hanya mengatakan bahwa “Venezuela kini sudah merasakan tekanannya.” (Hui/asr)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine