EtIndonesia. Banyak orang tua merasa bingung dan frustasi ketika anak mereka didiagnosis menderita gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD). Namun, sebuah keluarga di Amerika Serikat secara tak sengaja menemukan perubahan mengejutkan pada anak mereka setelah mengubah pola makan di rumah.
Perubahan Tak Terduga Setelah Mengubah Pola Makan
Menurut laporan The Epoch Times edisi Inggris, dari tiga anak Jenny Dunlap, anak sulungnya John adalah yang paling sulit diatur. Ia sering membuat masalah, sulit bergaul dengan teman, bahkan dikeluarkan dari tim olahraga, dan guru-gurunya sering mengeluh tentang perilakunya. John didiagnosis menderita ADHD. Berbagai metode terapi dan obat telah dicoba, tetapi perilakunya tidak juga membaik.
Ketika anak bungsu keluarga Dunlap didiagnosa mengidap diabetes tipe 1, seluruh keluarga kemudian berhenti mengonsumsi gula dan biji-bijian. Setelah perubahan itu, John tiba-tiba berubah drastis — baik perilaku maupun interaksi sosialnya menjadi jauh lebih baik.
“Nilai-nilainya meningkat — dia mendapat nilai A. Semua gurunya senang. Dia jadi lebih teratur. Sembelitnya hilang. Masalah tidur pun lenyap. Bahkan kesulitan bergaul juga hilang. Perubahannya benar-benar seperti menyalakan saklar lampu,” ujar Dunlap.
Dampak Pengobatan ADHD
Pengobatan ADHD pada anak biasanya dilakukan melalui dua pendekatan:
- Terapi perilaku, biasanya dimulai sejak usia prasekolah.
- Terapi obat-obatan.
Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan di jurnal JAMA Network Open menemukan bahwa di delapan sistem perawatan kesehatan di Amerika Serikat, 68,2% anak usia prasekolah yang didiagnosis ADHD menerima resep obat dari dokter umum, dan 42,2% di antaranya mendapat resep dalam waktu 30 hari setelah diagnosis.
Saat John masih kecil, Dunlap sebenarnya berusaha menghindari penggunaan obat-obatan sejauh mungkin. Namun setelah mencoba berbagai cara seperti suplemen vitamin, terapi kognitif-perilaku, teknik pengendalian diri, hingga meditasi tanpa hasil, ia akhirnya mulai memberikan obat kepada John saat putranya duduk di kelas empat.
John mencoba beberapa jenis obat stimulan dan akhirnya menggunakan Concerta, yang oleh ibunya disebut sebagai “yang terbaik di antara obat yang buruk”. Meski begitu, efeknya tidak ideal. John mengalami suasana hati menurun, gangguan tidur, dan masalah buang air besar.
Dunlap mengaku kecewa karena selama bertahun-tahun menjalani perawatan medis, tidak satu pun dokter yang membicarakan tentang pengaruh pola makan terhadap kondisi anaknya.
“Terlalu mudah bagi mereka untuk memberi label dan langsung meresepkan obat,” katanya. “Tidak ada yang pernah mengatakan, ‘Hei, mari kita cari tahu dulu penyebab perilaku anakmu. Mungkin ada hal lain yang mempengaruhinya.’”
Pengaruh Pola Makan
Menurut Karen A. Dwyer-Tesoriero, seorang psikoterapis, pola makan yang buruk dan tinggi gula dapat menimbulkan atau memperburuk gejala ADHD.
Ia menjelaskan bahwa anak-anak yang sarapan dengan sereal tinggi gula sering mengalami lonjakan gula darah di pagi hari, lalu penurunan drastis beberapa jam kemudian. Akibatnya, mereka menjadi gelisah, sulit fokus, atau bahkan mengantuk di sekolah.
Dua peneliti, Bonnie J. Kaplan dan Julia J. Rucklidge, dalam buku mereka “The Better Brain” (Otak yang Lebih Baik), menyarankan agar klinik kesehatan mental memberikan pendidikan gizi dan cara memilih makanan alami kepada setiap pasien baru. Mereka memperkirakan bahwa sepertiga pasien kesehatan mental, termasuk penderita ADHD, tidak lagi memerlukan terapi tambahan setelah memperbaiki pola makan mereka.
Sementara itu, Julie Matthews, konsultan gizi bersertifikat dan penulis “Personalized Autism Nutrition Plan” (Rencana Nutrisi Autisme yang Dipersonalisasi), mengatakan bahwa langkah awal yang baik adalah menghilangkan pewarna, perasa, dan bahan tambahan buatan dari makanan anak.
Orang tua juga bisa mempertimbangkan diet bebas gluten dan bebas produk susu, atau mengikuti diet Feingold — yaitu pola makan berbasis bahan alami tanpa pewarna, perasa, dan pengawet buatan, serta rendah salisilat alami (zat kimia dari tumbuhan yang dapat memicu reaksi pada sebagian anak).
Dalam penelitiannya terhadap anak-anak autisme dengan berbagai pola makan sehat, Matthews menemukan bahwa diet Feingold secara signifikan mengurangi gejala hiperaktivitas dan gangguan perilaku.
Artikel ini diadaptasi dari tulisan berjudul “Can Changing Diet Really Heal ADHD? A Family’s Astonishing Discovery” (Apakah Mengubah Pola Makan Benar-benar Bisa Menyembuhkan ADHD? Sebuah Penemuan Mengejutkan dari Sebuah Keluarga), diterbitkan oleh The Epoch Times.
Jin Jing / Diterjemahkan oleh Lin Qing


