Siswa 14 Tahun di Shenzhen, Tiongkok Tikam Mati Teman Perempuan Sekelasnya — Baru Berlutut Memohon Ampun Setelah Mendengar Akan Dihukum Mati

Etindonesia. Seorang siswi berusia 14 tahun di Shenzhen, Provinsi Guangdong, Tiongkok, pada 8 April 2025 dibunuh oleh teman sekelasnya yang juga berusia 14 tahun. Dalam persidangan baru-baru ini, ibu korban mengungkapkan bahwa pelaku sama sekali tidak pernah meminta maaf — sampai ia mendengar kemungkinan dijatuhi hukuman mati, barulah ia berlutut memohon ampun.

Kasus pembunuhan di sekolah Shenzhen itu telah mulai disidangkan. Menurut surat dakwaan, korban bernama Pan dan pelaku bernama Zhong, keduanya adalah siswa kelas 3 SMP di sebuah sekolah di Shenzhen. 

Mereka tinggal di kompleks apartemen yang sama bersama seorang siswa lain bermarga Chen. Sejak kelas 1 SMP, ketiga anak itu diantar jemput bergantian oleh ayah Pan dan ayah Chen.

Peristiwa tragis itu terjadi pada 8 April 2025. Sore hari setelah pulang sekolah, ketiganya naik mobil bersama hingga tiba di depan gerbang kompleks. 

Menurut dakwaan, Zhong merasa tidak senang terhadap Pan karena hal-hal sepele. Ia lebih dulu kembali ke gedung tempat tinggalnya, lalu setelah melihat Pan berjalan sendirian pulang, ia membawa pisau lipat hitam yang telah dibelinya secara online dan menghampiri Pan untuk bertanya. Tidak lama kemudian, ia menikam Pan beberapa kali lalu pergi. Ketika mendengar Pan berteriak minta tolong, Zhong malah kembali lagi dan menikamnya beberapa kali lagi.

Zhong kemudian pulang dan berbohong kepada keluarganya dengan mengatakan bahwa “ia terluka karena berusaha menolong orang.” Petugas keamanan kompleks yang menemukan korban segera melapor ke polisi. Saat polisi tiba di lokasi, Pan langsung dibawa ke rumah sakit, tetapi nyawanya tidak tertolong.

Pada 9 April 2025, Zhong ditahan secara kriminal. Kemudian, pada 22 April ia resmi ditangkap. Kasus tersebut disidangkan pada 15 Oktober di Pengadilan Menengah Kota Shenzhen. Pihak keluarga korban dan pengacara menuntut agar pelaku dijatuhi hukuman mati.

Sidang hari itu berlangsung sekitar empat jam. Ibu korban, Nyonya Zeng, mengatakan, “Dia sangat kejam, dia menikam putri saya sebanyak 26 kali.” Nyonya Zeng mengungkapkan bahwa dari berkas kasus dan dokumen tambahan pengacara, mereka mengetahui bahwa Zhong telah merencanakan pembunuhan tersebut. “

Terungkap juga, pelaku bukan hanya membeli pisau secara sengaja di internet, tapi juga menggunakan komputer untuk mencari tahu apa konsekuensi hukum bagi anak berusia 14 tahun jika membunuh orang. Dia bahkan sudah mencoba menelusuri rute yang biasa dilalui putri Nyonya Zheng. Dia juga pernah mencoba membeli racun secara online, tetapi gagal karena itu obat terlarang. Bagi keluarga, pelaku adalah pembunuh yang lebih kejam daripada orang dewasa.

Menurut laporan Xiaoxiang Morning Post, polisi menemukan bahwa sebelum beraksi, Zhong sempat mencari kata kunci seperti “hukuman bagi anak 14 tahun yang membunuh” di internet. Nyonya Zeng mengatakan, ia sangat sulit menerima kebrutalan dan rencana dingin seperti itu.

Ia menambahkan, keluarganya biasanya mengantar-jemput anak-anak dengan mobil, dan telah membantu menjemput Zhong hampir tiga tahun, bahkan juga pernah mengantar kakak perempuan Zhong selama setahun. Tak disangka, akhirnya putrinya dibunuh oleh anak yang sering mereka bantu itu.

Kasus ini menimbulkan perdebatan luas di kalangan masyarakat Tiongkok. Banyak warganet menyerukan agar Zhong dijatuhi hukuman mati, dengan alasan bahwa pelaku kejahatan seberat ini tidak seharusnya lolos hanya karena masih di bawah umur.

Beberapa komentar di internet berbunyi: “Dalam aturan ‘anak di bawah umur tidak bisa dijatuhi hukuman mati’, seharusnya ada pengecualian untuk kasus pembunuhan dengan niat jahat.”

“Kalau dibiarkan hidup, di masa depan akan muncul sepuluh atau seratus kasus seperti ini lagi; tapi kalau dieksekusi, akan jadi peringatan keras dan mencegah puluhan atau ratusan kasus serupa terjadi.”

Namun ada juga warganet yang berpendapat, jika seorang anak mampu merencanakan pembunuhan dengan tenang dan bahkan memanfaatkan celah hukum agar selamat dari hukuman mati, maka masyarakat harus bertanya pada diri sendiri:

“Di mana letak kesalahan pendidikan kita? Apakah karena kurangnya kasih sayang di rumah, kelalaian sekolah, atau karena masyarakat sudah terlalu memaklumi kejahatan sehingga bahkan anak-anak pun belajar untuk memanipulasi hukum?” (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Menelusuri Jejak Biksu Xuanzang Melintasi Lanskap Suci Dunia Buddhis yang Telah Hilang

Oleh Eusebia (Venus Upadhayaya) Salah satu catatan perjalanan paling penting dan paling rinci mengenai Jalur Sutra kuno berasal dari perjalanan biksu Tiongkok Xuanzang (玄奘), yang...

Menurunkan Berat Badan dan Mengubah Penampilan adalah Dua Proyek yang Berbeda

 Chen Jing - Visiontimes.com Kebanyakan orang hanya menjalankan proyek yang pertama. Itulah sebabnya angka di timbangan turun, tetapi bayangan di cermin tampak tidak banyak berubah. Anda...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine