Warga Korsel Melarikan Diri dari Kompleks Penipuan Online di Kamboja, Tercengang Melihat Penculik Tiongkok Mengobrol dengan Kepala Polisi

Kelompok penipuan asal Tiongkok yang beroperasi di Asia Tenggara bertindak sewenang-wenang dengan dukungan rezim partai Komunis Tiongkok. Seorang warga Korea Selatan yang berhasil melarikan diri dari kompleks penipuan online di Kamboja bersaksi bahwa setelah diselamatkan, ia melihat para penculiknya yang bersenjata sedang bercengkerama dengan kepala polisi — dan ia mengaku “gemetar ketakutan.”

EtIndonesia. Baru-baru ini, seorang mahasiswa Korea Selatan tewas setelah ditipu dan dipaksa bekerja di kompleks penipuan daring di Kamboja. Kasus ini memicu kemarahan besar di Korea Selatan. 

Pemerintah Korea Selatan kemudian menghubungi pihak berwenang Kamboja dan berhasil menyelamatkan puluhan warga Korea yang terjebak di jaringan penipuan tersebut. Media Korea pun terus memberitakan kasus ini selama berhari-hari.

Menurut laporan Chosun Ilbo pada Kamis (16 Oktober), seorang pria Korea Selatan bermarga A yang memiliki bisnis suku cadang mobil di Gyeongsang Selatan, tahun lalu ditipu oleh sindikat kriminal asal Tiongkok dengan dalih negosiasi bisnis, lalu diculik dan dibawa ke kompleks penipuan di Kamboja. Ia disiksa dan diancam selama berhari-hari, serta dipaksa meminta uang tebusan kepada keluarganya di Korea.

Kemudian, berkat bantuan warga Korea setempat dan Kedutaan Besar Korea di Kamboja, ia berhasil diselamatkan. Namun ketika ia tiba di kantor polisi Phnom Penh dan sedang menunggu staf kedutaan, para anggota kelompok penculiknya malah muncul di tempat itu.

“Mereka — para anggota geng Tiongkok yang seharusnya sedang diselidiki polisi — justru membawa senjata, bercanda dan merokok bersama kepala polisi,” kata A. “Saat itu saya benar-benar gemetar ketakutan.”

Menurut laporan tersebut, tidak jauh di selatan ibu kota Phnom Penh terdapat sebuah kompleks villa beratap biru yang menjadi markas Grup Prince (Taizi Group) — sebuah organisasi kriminal asal Tiongkok. Sekitar 4.000 orang dari Korea Selatan, Vietnam, Indonesia, dan negara lain telah ditipu dan dijebak di tempat itu, dipaksa untuk melakukan penipuan daring.

Karena kematian mahasiswa Korea akibat penyiksaan oleh kelompok kriminal Kamboja memicu kegemparan besar, pemerintah Kamboja terpaksa meningkatkan penindakan terhadap kejahatan penipuan daring. 

Para pelaku yang sebelumnya beroperasi di kompleks Prince Group kini sudah berpindah lokasi, namun polisi Kamboja masih berjaga di area tersebut dan melarang wartawan mendekat atau mengambil foto.

Penduduk komunitas Korea di sekitar lokasi mengatakan kepada wartawan bahwa mereka mencurigai kepolisian setempat melindungi kelompok kriminal itu. Warga Kamboja juga berkomentar bahwa tidak lama lagi sindikat-sindikat tersebut “akan muncul lagi seperti tikus tanah, melanjutkan aksi mereka.”

Media Korea melaporkan bahwa kompleks-kompleks penipuan daring di Kamboja sebagian besar dioperasikan oleh warga Tiongkok. Di dalamnya, para korban yang gagal mencapai target penipuan sering dipukuli, disiksa, bahkan dibunuh. Ada pula laporan mengenai pengambilan organ secara paksa.

Grup Prince yang disebut dalam laporan ini baru-baru ini telah dikenai sanksi oleh pemerintah Amerika Serikat. Pemiliknya, seorang pengusaha keturunan Tionghoa bernama Chen Zhi, juga telah didakwa oleh AS. 

Aktivitas kriminal lintas negara kelompok ini menyebabkan kerugian besar bagi warga AS. Pemerintah AS juga menuduh Prince Group terlibat dalam pencucian uang dan berbagai kejahatan lintas negara lainnya, serta menyebut bahwa kelompok tersebut memiliki kaitan dengan organisasi front persatuan Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Seorang mantan agen rahasia PKT bernama Rick (Eric), yang pernah “bekerja” di Prince Group, menulis di platform X bahwa organisasi itu sebenarnya merupakan agen utama PKT di Kamboja dan Asia Tenggara untuk menjalankan operasi rahasia. Salah satu kontaknya di grup tersebut, bermarga Li, disebut sebagai pejabat di bawah Divisi Keamanan Politik Chongqing, yang berhubungan langsung dengan Chen Zhi.

Eric mengaku pernah menjadi agen intelijen di Kementerian Keamanan Publik PKT sebelum membelot ke Australia. Ia mengungkapkan bahwa saat bekerja di Prince Group, identitasnya sebagai pegawai di sana hanyalah kedok bagi kegiatan intelijen. Salah satu tugas utamanya adalah bekerja sama dengan Prince Group untuk menjebak dan menangkap para pembangkang Tiongkok di luar negeri.

Sebelumnya, banyak laporan yang telah mengungkap bahwa berbagai kompleks penipuan daring di Asia Tenggara memiliki hubungan erat dengan aparat intelijen PKT dan proyek “Belt and Road” milik rezim tersebut. (hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine