EtIndonesia. Presiden Madagaskar, Andry Rajoelina, meninggalkan negaranya pada Senin (13/10/2025) setelah sehari sebelumnya memperingatkan adanya ancaman kudeta militer.
Siteny Randrianasoloniaiko, anggota parlemen Madagaskar, membenarkan bahwa Rajoelina telah meninggalkan pulau tersebut, namun lokasi terkini presiden masih belum diketahui.
Rajoelina seharusnya menyampaikan pidato kepada bangsa pada pukul 19.00 waktu setempat, namun pidato tersebut tertunda setelah sebuah halaman resmi Facebook kantor presiden menyatakan bahwa militer sedang mengambil alih kendali media milik negara.
Madagaskar, yang terletak di lepas pantai tenggara Afrika, kini sedang dilanda protes politik yang dipimpin kaum muda selama beberapa minggu, dengan warga setempat menuntut mundurnya presiden Rajoelina.
Mamy Rabenirina, anggota Majelis Nasional Madagaskar, mengatakan aksi protes bermula dari inisiatif tiga anggota dewan kota yang mendorong warga untuk “menyuarakan pendapat” terkait gangguan pasokan air dan listrik
. “Ini merupakan akumulasi dari banyak masalah yang telah dihadapi negara selama bertahun-tahun,” ujar Rabenirina dalam wawancara dengan SABC News pada 12 Oktober.
Jika presiden mengundurkan diri, menurut konstitusi, kursi kepresidenan akan diambil alih oleh presiden Senat Madagaskar. .
Kerusuhan ini dimulai pada 25 September dan dipicu oleh akun media sosial yang menggunakan tagar #GenZMada. Para pengunjuk rasa memblokade jalan, membakar beberapa stasiun kereta gantung dan merampas toko-toko lokal.
Para demonstran membawa bendera hitam dengan logo tengkorak dari kartun Jepang populer “One Piece”, serupa dengan bendera yang terlihat dalam kerusuhan Gen Z di Nepal beberapa waktu lalu.
Pada 29 September, Rajoelina membubarkan pemerintahannya dan menunjuk Jenderal Ruphin Fortunat Zafisambo sebagai perdana menteri baru, dengan janji melakukan reformasi.
Dalam kekerasan yang terjadi, lebih dari 20 orang tewas dan banyak lainnya terluka, menurut Rabenirina.
Pada Sabtu lalu, pasukan elit militer CAPSAT berpihak pada pengunjuk rasa yang menamakan diri “Gen Z Madagaskar”, dan mengumumkan telah mengambil alih kendali militer, menunjuk Jenderal Demosthene Pikulas sebagai pemimpin baru. Sementara itu, faksi lain dari tentara, yaitu gendarmerie paramiliter, menentang presiden pada 12 Oktober setelah menolak membantu menertibkan pengunjuk rasa.
“Segala bentuk penggunaan kekerasan dan perilaku yang tidak pantas terhadap warga kami dilarang, karena gendarmerie adalah kekuatan yang bertugas melindungi masyarakat, bukan membela kepentingan beberapa individu,” demikian pernyataan Intervensi Pasukan Gendarmerie Nasional.
Rajoelina sebelumnya mengambil alih kekuasaan melalui kudeta pada 2009, namun mundur setelah pemilihan umum pertama digelar pada 2013. Ia kembali terpilih sebagai presiden pada 2018 dan terpilih kembali pada 2023.
Aksi protes di Madagaskar meledak bersamaan dengan kerusuhan Gen Z serupa di Nepal dan Sri Lanka. Di Nepal, aksi protes dipicu larangan media sosial oleh pemerintah, yang berujung pada pengunduran diri perdana menteri dan pembakaran gedung parlemen serta rumah sejumlah pejabat.
Laporan ini disusun dengan kontribusi dari Associated Press dan Reuters.


