Hidup dalam jarak dekat dengan hewan peliharaan berisiko tinggi menularkan penyakit antara hewan dan anggota keluarga, menurut studi.
EtIndonesia. Banyak produk makanan kucing mentah yang dijual di Amerika Serikat mengandung patogen yang dapat menular, beberapa di antaranya resisten terhadap antibiotik, bahkan bisa mematikan bagi hewan peliharaan maupun pemiliknya. Hal ini terungkap dalam studi peer-reviewed yang diterbitkan pada 24 September di jurnal Communications Biology.
Studi ini meneliti 112 produk makanan kucing komersial yang dibeli dari jaringan supermarket besar dan penjual online. Dari jumlah tersebut, 85 produk berupa makanan mentah, sedangkan 27 produk dimasak secara konvensional.
“Gen parasit hanya terdeteksi pada makanan mentah,” ujar studi tersebut.
“Adanya spesies patogen dan tingginya jumlah gen resistensi pada produk makanan komersial mentah, terutama yang dijual di rak pada suhu ruang, menunjukkan risiko kesehatan yang signifikan bagi kucing dan keluarga yang merawatnya.”
Hidup dalam jarak dekat dengan hewan peliharaan meningkatkan risiko penularan antara hewan dan manusia, serta hewan lainnya, tambah studi tersebut.
Studi ini juga mencatat, “tidak satu pun produk freeze-dried yang kami beli dimasak sepenuhnya sebelum dikeringkan,” sesuatu yang tidak terduga mengingat jumlah sampel yang cukup besar.
“Dari 49 produk freeze-dried yang dibeli, semuanya mengandung daging mentah dalam bentuk camilan atau kibble berlapis, hanya sebagian kecil yang mencantumkan pada kemasan bahwa produk tersebut mentah,” lanjut studi.
Karena produk dijual di toko pada suhu ruang, pembeli mungkin tidak menyadari bahwa produk tersebut mentah dan mengandung mikroba yang masih hidup.
“Peringatan label yang jelas pada kemasan berpotensi mengurangi angka kesakitan dan kematian pada manusia maupun hewan,” tulis studi tersebut.
Menurut laporan Cornell University pada 24 September, yang penelitiannya melakukan studi ini, penelitian tersebut mengidentifikasi lima strain bakteri salmonella pada makanan kucing mentah.
Para peneliti mengunggah hasilnya ke database federal yang digunakan untuk mencocokkan kejadian salmonellosis pada manusia, penyakit yang disebabkan oleh salmonella.
“Memang ada beberapa kasus pada manusia yang secara genetik sangat mirip dengan isolat kami,” ujar Laura Goodman, penulis senior makalah tersebut, menambahkan bahwa hal ini menunjukkan orang sakit karena terpapar produk yang sama yang dianalisis dalam studi.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), salmonella merupakan salah satu penyebab utama kematian akibat penyakit yang ditularkan melalui makanan di AS.
Mikroba lain yang ditemukan adalah pseudomonas, bakteri yang dapat menyebabkan infeksi parah pada paru-paru, saluran kemih, dan darah.
Patogen yang Berpotensi Mematikan
Bakteri Clostridium perfringens, penyebab gastroenteritis, ditemukan pada camilan kucing freeze-dried dan kibble berlapis. CDC memperkirakan bakteri ini menyebabkan hampir satu juta kasus keracunan makanan tiap tahun di AS.
Klebsiella, bakteri yang berpotensi menyebabkan infeksi saluran kemih dan pneumonia, juga ditemukan dalam sampel mentah. Cronobacter dan E. coli merupakan mikroba lain yang teridentifikasi dalam makanan kucing tersebut, menurut laporan Cornell.
Selain itu, beberapa produk ternyata mengandung ayam meski label tidak menyebutkan bahan tersebut. Pemilik kucing kadang menghindari memberi ayam karena kekhawatiran terhadap flu burung, penyakit yang bisa berakibat fatal bagi kucing.
Karena patogen dalam produk bisa menular dari hewan ke manusia, hal ini menjadi perhatian serius, terutama bagi kelompok rentan seperti individu dengan sistem kekebalan lemah, lansia, ibu hamil, dan anak-anak.
“Kebanyakan produk ini tidak memiliki label peringatan yang menunjukkan bahwa bahan daging tidak dimasak sepenuhnya, yang berarti bisa mengandung bakteri hidup dan kemungkinan virus serta parasit yang dapat membuat keluarga sakit parah,” kata Goodman.
“Terutama untuk produk freeze-dried yang dijual di rak, konsumen kemungkinan besar tidak menyadari risiko yang mereka ambil.”
Proyek ini didanai oleh Cornell Feline Health Center Natural Nutrition Award. Salah satu peneliti menyatakan adanya kepentingan bersaing karena memiliki kontrak sebagai saksi ahli dengan Food and Drug Administration saat eksperimen dilakukan.
Beberapa produk makanan kucing telah ditarik dari pasaran selama setahun terakhir karena kekhawatiran kontaminasi mikroba.
Dalam pengumuman 27 Agustus oleh FDA, Viva Raw LLC yang berbasis di North Carolina menarik dua lot makanan kucing dan anjing karena kontaminasi bakteri salmonella dan listeria monocytogenes.
“Salmonella dan Listeria dapat memengaruhi hewan yang mengonsumsi produk, dan ada risiko bagi manusia dari penanganan produk hewan yang terkontaminasi, terutama jika tangan tidak dicuci dengan bersih setelah kontak dengan produk atau permukaan yang terpapar produk tersebut,” tulis pengumuman.
Pada 1 Maret, Wild Coast LLC di Washington menarik beberapa lot makanan kucing mentah Boneless Free Range Chicken Formula karena kekhawatiran kontaminasi flu burung.
Sementara itu, sekelompok anggota legislatif memperkenalkan Pet Food Uniform Regulatory Reform (PURR) Act of 2025 atua “Undang-Undang Reformasi Regulasi Seragam Makanan Hewan Peliharaan” di Dewan Perwakilan AS pada Januari untuk menetapkan standar seragam bagi makanan hewan peliharaan.
“PURR Act akan memberikan pengawasan federal yang lebih konsisten, efisien, dan transparan untuk makanan aman dan bergizi yang kita berikan pada hewan peliharaan,” kata Vic Mason, presiden World Pet Association.
Sumber : The Epoch Times


