Perjanjian gencatan senjata di wilayah Gaza kembali menghadapi tantangan. Pada 18 Oktober 2025, Amerika Serikat memperingatkan bahwa Hamas berencana melancarkan serangan terhadap warga sipil Gaza. Sehari kemudian, pada 19 Oktober, Israel kembali melancarkan serangan udara ke Gaza, dengan tuduhan bahwa Hamas telah melanggar kesepakatan gencatan senjata.
EtIndonesia. Pemerintah AS pada 18 Oktober telah memberitahu negara-negara penjamin gencatan senjata Gaza bahwa berdasarkan intelijen yang kredibel, Hamas tengah merencanakan serangan terhadap warga sipil Gaza, yang akan menjadi pelanggaran serius terhadap perjanjian gencatan senjata.
Pihak AS menegaskan bahwa jika Hamas tetap melaksanakan rencana tersebut, Washington akan mengambil langkah-langkah untuk melindungi warga Gaza dan menjaga keutuhan perjanjian tersebut.
Pejabat senior Hamas, Khalil al-Rishq, pada 19 Oktober menulis di Telegram, menegaskan kembali komitmen Hamas terhadap gencatan senjata, sambil menuduh Israel terus-menerus melanggar perjanjian.
Media Israel melaporkan bahwa militer Israel pada tanggal 19 Oktober melancarkan serangan udara ke Gaza, dengan alasan bahwa Hamas berulang kali menyerang tentara Israel, termasuk menggunakan peluncur granat roket (RPG) dan penembak jitu.
Pada 19 Oktober pagi, sebuah konvoi yang mengangkut dua jenazah sandera yang diserahkan pada 18 Oktober malam, tiba di Institut Kedokteran Forensik Nasional di Tel Aviv. Israel menyatakan bahwa hingga kini telah menerima 12 dari total 28 jenazah yang dijanjikan.
Sementara itu, perbatasan Rafah antara Gaza dan Mesir masih ditutup, dan pembukaannya kembali bergantung pada kemajuan penyerahan jenazah para sandera oleh Hamas.
Laporan oleh jurnalis NTDTV Xu Zhe dan Zhao Jialin.


