Laporan oleh Ning Haizhong
EtIndonesia. Sidang Paripurna Keempat Partai Komunis Tiongkok (PKT) dibuka Senin (20/10/2025), di tengah meningkatnya pertarungan internal di kalangan elit partai. Sementara itu, kasus kematian aktor Tiongkok Yu Menglong, yang mana terus bergulir dari masyarakat hingga ke pusat kekuasaan Zhongnanhai, telah menimbulkan kemarahan publik yang diarahkan langsung kepada Xi Jinping dan Cai Qi.
Peristiwa ini juga memicu gelombang baru warga Tiongkok yang mundur dari organisasi PKT, termasuk partai, Liga Pemuda, dan Pionir Muda. Para pengamat menyatakan bahwa kasus ini secara tidak langsung mengguncang Sidang Paripurna Keempat dan menggoyahkan stabilitas politik.
Lebih dari 530.000 Orang Tandatangani Petisi Global “Tegakkan Keadilan bagi Yu Menglong”
Yu Menglong, aktor pria Tiongkok berusia 37 tahun dengan 20 juta follower, meninggal dunia secara misterius pada 11 September 2025 karena “jatuh dari gedung.” Polisi dengan cepat menyingkirkan kemungkinan tindak pidana dan segera menangkap serta menghapus komentar publik di internet, namun keraguan masyarakat tidak berkurang sedikit pun.
Pada 20 September, warganet di luar negeri meluncurkan petisi global melalui organisasi non-pemerintah “AVAAZ” berjudul Tegakkan Keadilan bagi Yu Menglong, menuding bahwa kematian sang aktor sangat mencurigakan dan diduga kuat akibat penyiksaan brutal.
Petisi itu menyerukan penyelidikan secara menyeluruh, independen, dan transparan. Hingga pukul 07.00 pagi waktu Beijing pada 20 Oktober, lebih dari 530.000 orang telah menandatangani petisi tersebut.
Pada 6 Oktober, penyanyi Tiongkok Jurat atau yang dikenal Julaiti merilis video musik (MV) berjudul Apakah Kau Mendengar? — lagu yang ia tulis sendiri untuk mengenang sahabatnya Yu Menglong. Dalam video itu, pesan terakhir antara keduanya berbunyi, “Tunggulah aku.”
Sejak saat itu, hampir setiap hari warganet meninggalkan pesan belasungkawa di bawah MV tersebut. Beberapa menulis: “Percayalah, kebenaran pasti akan terungkap,” “Kita tidak akan menyerah sebelum kebenaran terungkap,” dan “Ini perjuangan jangka panjang.” Pada 19 Oktober, seorang warganet menulis: “Hari ini, 19 Oktober, aku masih di sini. Akan bertahan sampai akhir. Kasihan sekali Yu (Menglong).”
Kasus Yu Menglong Picu Gelombang Pengunduran Diri dari PKT
Kematian misterius Yu Menglong, yang secara resmi disebut “kecelakaan akibat mabuk,” memicu keraguan luas. Skandal yang melibatkan elite merah—sarat dengan korupsi, penyimpangan moral, dan kekuasaan kotor—terus terbongkar. Kasus ini menyadarkan banyak rakyat Tiongkok di dalam negeri maupun diaspora yang sebelumnya masih memiliki harapan terhadap PKT.
Di situs Quit the CCP di luar negeri, dalam sebulan terakhir, semakin banyak pernyataan pengunduran diri dari partai, Liga Pemuda, dan Pionir Muda yang dikaitkan dengan kasus Yu Menglong. Berikut beberapa kutipan yang dihimpun Epoch Times:
- Lu Yuqing (18 Oktober):
“Setelah melihat kasus Yu Menglong, barulah aku mulai mencari tahu wajah asli PKT. Aku melihat bahwa rakyat hanyalah budak bagi para penguasa. Ironis sekali, selama ini banyak dari kita justru memuji mereka. Kini aku sadar, mereka bukan manusia. Mereka mencabut organ hidup-hidup, membunuh tanpa belas kasihan, dan menindas rakyat. PKT benar-benar menjijikkan.” - Fang Lei (15 Oktober):
“Kasus Yu Menglong membuatku benar-benar paham akan sifat jahat PKT. Mereka memperlakukan rakyat sebagai gudang organ hidup, menindas habis-habisan agar mereka dan anak-anak mereka hidup enak. Sebagai manusia yang masih punya hati nurani, aku mengundurkan diri dari Partai, Liga Pemuda, dan Pionir Muda.” - Zhan Miaoqin (15 Oktober):
“Dulu waktu SD aku dipaksa mengenakan dasi merah dan masuk Pionir Muda, lalu bergabung ke Liga Pemuda tanpa kehendak sendiri. Setelah tahu kasus Yu Menglong, pandanganku tentang PKT benar-benar berubah. Aku ingin mundur dari semua organisasi itu dan tak ingin punya hubungan dengan PKT lagi.” - Tian Tian (14 Oktober):
“Sejak kecil aku hidup bersembunyi karena kebijakan satu anak. Aku menyaksikan begitu banyak ketidakadilan. Kematian Yu Menglong membuatku kehilangan harapan. Jika orang terkenal saja bisa mati tanpa kejelasan, bagaimana dengan rakyat biasa? Aku mengundurkan diri dari Liga Pemuda dan Pionir Muda.” - Li Lin (14 Oktober):
“Sekarang aku tinggal di luar negeri. Dulu waktu kecil masuk Pionir Muda tanpa sadar. Setelah melihat kebenaran kasus Yu Menglong, aku sangat kecewa pada negara yang dikuasai PKT. Aku memutuskan keluar dari Pionir Muda.” - Zhang Qisheng (11 Oktober):
“Aku berusia 22 tahun. Setelah berhasil menembus tembok sensor internet, aku melihat banyak kejahatan yang ditutupi PKT. Kasus Yu Menglong membuat semua orang sadar bagaimana rezim ini menggunakan kekuasaan untuk melindungi pelaku kejahatan. Aku mencabut semua sumpah terhadap PKT dan keluar dari semua organisasi.” - Tuan Chen (11 Oktober), yang juga mewakili ayahnya yang sudah meninggal dunia, menyatakan keluar dari PKT:
“Kasus Yu Menglong membuatku sadar sepenuhnya—‘neraka kosong, iblis berkeliaran di dunia.’ Aku yakin jika ayahku masih hidup, ia juga tak ingin bersekutu dengan kejahatan.” - Xia Xuan (9 Oktober, Kanada):
“Aku keluar dari Liga Pemuda dan Pionir Muda, serta membatalkan semua sumpah yang pernah diucapkan karena aktivitas kolektif. Kasus Yu Menglong menyadarkanku. Organisasi seperti ini lebih jahat daripada sekte sesat.”
Banyak pernyataan serupa lainnya tak dapat disebutkan satu per satu.
Komentator politik Li Linyi mengatakan kepada Epoch Times bahwa gelombang “Tiga Pengunduran Diri” (San Tui) ini akan mengguncang PKT secara mendasar. Ia membandingkannya dengan getaran kecil yang dapat memicu longsoran salju besar di pegunungan. Menurutnya, dampak ini akan terasa dalam Sidang Paripurna Keempat: membangkitkan hati nurani bagi pejabat yang masih waras, namun membuat yang fanatik ketakutan dan mempercepat pertikaian internal.
Epoch Times sebelumnya, pada 15 Oktober, melaporkan bahwa kasus Yu Menglong telah memicu gelombang baru pengunduran diri dari partai di kalangan warga Tiongkok, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, bahkan menjadi bahan utama pemberitaan media Taiwan.
Xi Jinping dan Cai Qi Jadi Sasaran Kritik di Sidang Keempat — PKT Memasuki “Waktu Sampah”
Kabar beredar bahwa Yu Menglong dibunuh karena menolak aturan tidak senonoh para “penguasa dunia hiburan,” dan latar belakang pelaku terkait dengan keluarga elite PKT termasuk Xi Jinping dan Cai Qi.
Pada 22 September, Kantor Informasi Internet PKT mengumumkan kampanye dua bulan untuk menindak “isu penyebaran emosi negatif,” yang waktunya bertepatan dengan Sidang Paripurna Keempat. Cai Qi adalah pejabat utama yang bertanggung jawab atas sensor internet.
Pengamat independen Du Zheng menulis di media Taiwan Up Media (18 Oktober) bahwa kampanye belajar “Pemikiran Xi Jinping” yang dipromosikan Cai Qi sejak 2023 telah gagal total karena tidak mendapat dukungan rakyat. Komunisme sudah lama tak ada yang percaya, dan “Pemikiran Xi” hanyalah kemasan baru tanpa isi. Pejabat hanya berpura-pura mematuhi, sementara di dalam hati mereka sangat tidak puas. Menjelang Sidang Keempat, tidak terlihat lagi pujian berlebihan terhadap Xi sebagaimana menjelang Kongres ke-19 PKT dulu.
Tiga hari sebelum sidang dimulai, rezim tiba-tiba memecat sembilan jenderal berpangkat tinggi—termasuk He Weidong dan Miao Hua—dan menyerahkan mereka ke pengadilan militer. Padahal, mereka semua merupakan orang-orang yang pernah dipromosikan langsung oleh Xi Jinping.
Banyak analis menilai, meski belum tentu berarti Xi kehilangan kendali, setidaknya wibawanya telah hancur.
Du Zheng menilai bahwa kini baik di kalangan pejabat maupun rakyat, Xi Jinping dan Cai Qi sama-sama menjadi sasaran kemarahan.
Li Linyi menambahkan, krisis perebutan kekuasaan di dalam tubuh PKT semakin parah. Upaya menutup-nutupi kasus Yu Menglong justru bisa mendorong masyarakat untuk bergerak dari dunia maya ke dunia nyata. Ia menyinggung bahwa sebagaimana Gerakan Kertas Putih dulu mengakhiri kebijakan “nol-COVID” yang merusak, kasus Yu Menglong berpotensi menjadi pemicu runtuhnya tirani PKT.
Akun X “New Highland” menulis bahwa rezim Xi jelas meremehkan kedalaman kemarahan publik atas kematian Yu Menglong—dari gosip hiburan berkembang menjadi kecaman terhadap sistem hukum yang gelap. “Kematian Yu Menglong telah melampaui perkiraan pemerintah; kepergiannya bukanlah akhir, melainkan cermin yang memantulkan retaknya sistem sensor dan goyahnya sebuah imperium di tengah arus informasi.”
Analis politik Tiongkok di AS Tang Jingyuan sebelumnya menyatakan kepada Epoch Times bahwa kasus seperti ini dulu bisa dengan mudah ditutup oleh PKT, tetapi kali ini justru berkembang menjadi isu internasional.
“Kini setiap peristiwa bisa memicu reaksi berantai dan langsung mengguncang fondasi kekuasaan PKT. Rezim ini jelas telah memasuki masa ‘garbage time’ atau ‘waktu sampah’.”
Sumber : Epochtimes.com


