Pakistan dan Afghanistan Berdamai—Tapi Akankah Janji Ini Bertahan?

EtIndonesia. Setelah lebih dari sepekan berada di ambang eskalasi militer, Pakistan dan Afghanistan akhirnya mencapai kesepakatan gencatan senjata dalam pertemuan darurat tingkat tinggi yang difasilitasi oleh Qatar di Doha.

Pertemuan ini digelar menyusul meningkatnya ketegangan perbatasan sejak awal Oktober, yang mengakibatkan puluhan korban jiwa baik dari militer maupun warga sipil. Ketegangan memuncak pada 15 Oktober 2025, ketika serangan udara Pakistan menghantam wilayah Kabul dan Spin Boldak — menewaskan sedikitnya 10 warga sipil Afghanistan, serta melukai sejumlah lainnya. Insiden tersebut sempat menggagalkan gencatan senjata singkat yang disepakati tiga hari sebelumnya.

 Poin-poin Utama Kesepakatan Doha – 19 Oktober 2025

• Penghentian Total Aksi Militer Lintas Batas
Pakistan menyatakan menghentikan seluruh operasi udara maupun serangan artileri terhadap wilayah Afghanistan, dan menegaskan kembali komitmennya untuk menghormati kedaulatan penuh negara tetangganya.

• Afghanistan Tegaskan Tidak Melindungi Kelompok Militan
Pemerintah Kabul berjanji tidak akan memberi perlindungan kepada kelompok bersenjata — termasuk Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP) — yang melakukan serangan terhadap Pakistan dari wilayah Afghanistan.

• Pembentukan Mekanisme Pengawasan Bersama (Joint Stability Mechanism)
Sebuah komite bersama yang melibatkan perwira militer tingkat tinggi dan diplomat kedua negara resmi dibentuk untuk memastikan klaim pergerakan kelompok bersenjata dapat diverifikasi dalam waktu kurang dari 24 jam.

• Pertemuan Lanjutan Direncanakan dalam Beberapa Hari ke Depan
Sesi teknis lanjutan akan digelar kembali di Doha untuk menyepakati jalur koordinasi intelijen, hotline krisis militer, serta aturan keterlibatan jika insiden provokatif kembali terjadi.

Latar Belakang Konflik

Konflik ini bermula dari tuduhan Pakistan bahwa kelompok militan berbasis di Afghanistan kembali melancarkan serangan terhadap pos militer di perbatasan Khyber Pakhtunkhwa. Afghanistan menolak tuduhan tersebut dan menilai Pakistan menggunakan narasi “kontra-terorisme” untuk membenarkan serangan pre-emptive.

Dalam beberapa hari terakhir, bentrokan artileri dan serangan drone menghantam permukiman sipil di kedua sisi perbatasan, memicu kekhawatiran intervensi eksternal dari kekuatan global maupun regional.

Respons Internasional

Amerika Serikat, Qatar, dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) menyambut positif keberhasilan kesepakatan di Doha. Washington secara terbuka mendesak kedua negara untuk menjadikan mekanisme baru ini sebagai “fondasi permanen untuk stabilitas kawasan Asia Selatan.”

 Kesimpulan

Kesepakatan Doha pada 19 Oktober 2025 tidak hanya menghentikan eskalasi militer yang berbahaya dalam jangka pendek, tetapi juga membuka jalan bagi struktur keamanan regional yang lebih formal dan terukur. Pertemuan lanjutan dalam beberapa hari ke depan akan menjadi penentu apakah kesepakatan ini benar-benar menghasilkan stabilitas jangka panjang — atau hanya menjadi jeda sementara sebelum konflik kembali pecah.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine