Baru-baru ini, beberapa provinsi penghasil pangan utama di Tiongkok mengalami cuaca hujan dan salju yang menghambat panen. Di Provinsi Shandong dan Henan, hujan terus-menerus selama lebih dari sebulan ditambah pelepasan air dari waduk menyebabkan lahan pertanian tergenang; banyak tanaman yang gagal panen atau sulit dipanen.
Di timur laut, Provinsi Heilongjiang mengalami salju mendadak yang memperlambat panen musim gugur. Para petani khawatir akan kehilangan waktu terbaik untuk menanam gandum musim dingin.
EtIndonesia. Di Henan, cuaca hujan terus berlangsung. Pada 17 Oktober, hujan deras kembali melanda secara luas, menyebabkan genangan air di kota-kota seperti Shangqiu dan Nanyang, serta banjir parah di daerah pedesaan. Banyak lahan pertanian masih tergenang air hingga kini.
Seorang petani di Henan bermarga Wang mengungkapkan bahwa pada paruh pertama tahun ini, tanaman jagung di Henan mengalami kekeringan selama masa pertumbuhan, sementara saat masa panen di paruh kedua tahun ini justru dilanda banjir.
Sejak September hingga sekarang, hujan telah turun lebih dari sepuluh kali, dan pelepasan air dari waduk memperburuk situasi. Sungai Diao yang melintasi Desa Longyan biasanya selebar 10 meter, kini melebar menjadi 100 meter, dan seluruh tanaman di tepi sungai gagal panen.
“Airnya besar sekali, semua ladang jagung terendam, tanaman di sawah mati semuanya. Hujan terus turun, panen gagal total. Petani kerja keras menanam tapi sulit sekali. Gandum belum bisa ditanam, entah masih sempat atau tidak. Mungkin setelah seminggu air baru surut, kemungkinan baru bisa tanam gandum bulan depan,” kata Petani Wang dari Longyan, Kota Dengzhou, Nanyang, Henan.
Provinsi Shandong juga mengalami cuaca mendung dan hujan selama musim panen. Lahan pertanian tergenang air dan berlumpur sehingga hanya bisa dipanen secara manual. Petani khawatir tidak sempat menanam gandum musim dingin sebelum akhir Oktober, yang merupakan waktu terbaik untuk menanam.
Seorang petani dari Heze, Shandong, bermarga Li mengatakan bahwa para pemuda telah pergi bekerja ke luar daerah, hanya para lansia yang tersisa untuk memanen jagung. Ia masih memiliki sekitar 30 mu (sekitar 2 hektare) lahan belum dipanen. Empat orang lansia memerlukan sekitar 10 hari untuk menyelesaikannya, sementara jagung di ladang mulai berjamur.
“Tahun ini terjadi banjir besar, air memenuhi ladang. Mesin pemanen tidak bisa masuk, kalau masuk malah terjebak lumpur. Ladang sangat becek, panen jagung memang sulit sekali. Jagung sudah mulai berjamur, dan harganya sekarang sangat murah, hanya 0,6–0,8 yuan per jin. Tahun ini tidak bisa dapat untung,” jelasnya.
Dua waduk besar di Sungai Kuning, yaitu “Sanmenxia” dan “Xiaolangdi”, terus melakukan pelepasan air selama beberapa hari, menyebabkan Sungai Kuning dan anak sungainya, Sungai Wei, berada di atas tingkat siaga banjir. Para petani di tepi Sungai Wei bingung bagaimana memanen tanaman yang tergenang air.
“Ladang tergenang air selama sekitar sepuluh hari. Tahun ini bagaimana mau panen jagung? Benar-benar pusing. Saya ini petani lahan kering, sudah 30 tahun menanam tanpa pernah kebanjiran. Untungnya belum tumbuh kecambah di tongkol jagung, tapi sebagian orang yang panen lebih awal sudah mengalami jagung bertunas,” ujar seorang petani dari Kota Weinan, Provinsi Shaanxi, bermarga Pi.
Minggu lalu, suhu di Heilongjiang turun drastis, dan daerah itu mulai diguyur salju.
Seorang petani di Kota Daqing mengatakan bahwa salju di sana cukup tebal. Meskipun sebagian sudah mencair, ladang padi masih tertutup salju sehingga sulit dipanen. Akibatnya, harga varietas padi “Zhongkefa No. 5” meningkat.
Petani Zhang dari Daqing, Heilongjiang, mengatakan: “Beberapa hari terakhir, harga padi Zhongkefa No. 5 naik di berbagai daerah. Karena cuaca buruk — hujan dan salju — panen besar-besaran terhenti. Pabrik beras kekurangan bahan baku, jadi menaikkan harga pembelian. Sekarang kami menjual di harga tinggi, sekitar 1,5 hingga 1,6 yuan per jin.” (Hui/asr)
Laporan oleh Xiong Bin dan Banni – NTD News


