Di media sosial Tiongkok, topik “rakyat biasa tidak merasakan apa-apa tentang Sidang Pleno Keempat” menjadi perbincangan luas.
EtIndonesia. Sidang Pleno Keempat Komite Sentral ke-20 Partai Komunis Tiongkok (PKT) dibuka di Beijing pada Senin (20/10/2025), dengan pengamanan ketat di seluruh ibu kota dan munculnya kembali kekecewaan publik mengenai apakah pertemuan politik tingkat tinggi ini—yang dipandang sebagai ujian penting bagi kendali rezim—akan membahas persoalan ekonomi dan sosial rakyat jelata.
Pertemuan empat hari itu, yang berlangsung dari 20 hingga 23 Oktober di Hotel Jingxi—tempat tradisional penyelenggaraan sidang-sidang penting PKT—digelar lebih dari setahun dari jadwal semula tanpa penjelasan resmi.
Sidang ini mempertemukan sekitar 200 anggota penuh Komite Sentral dan 170 anggota pengganti untuk meninjau laporan kerja Politbiro PKT serta membahas rancangan “Rencana Lima Tahun” ke-15 bagi pembangunan ekonomi dan sosial nasional.
Di luar lokasi yang dijaga ketat, kendaraan polisi dan personel keamanan ditempatkan di seluruh area.
“Ada mobil polisi dan kendaraan khusus penuh antena yang diparkir di depan hotel,” kata Zhao, seorang warga Beijing yang hanya bersedia disebut nama marganya, kepada The Epoch Times.
“Polisi lalu lintas menyuruh orang-orang berjalan cepat. Suasananya sangat tegang.”
Ia mengatakan polisi memeriksa tas para pejalan kaki dan mengecek kartu identitas mereka. “Saya melihat mereka memeriksa kartu identitas seorang wanita—kelihatannya dia seorang pengadu,” katanya.
Pengadu adalah orang-orang di Tiongkok yang mengajukan keluhan kepada pemerintah untuk mencari keadilan atas permasalahan mereka, yang mana secara teori merupakan hak menurut hukum Tiongkok. Namun dalam praktiknya, para pengadu sering menjadi sasaran penindasan oleh PKT. Banyak dari mereka yang ditahan secara sewenang-wenang dan dianiaya karena berani bersuara.
Reaksi Warga
Sementara Sidang Pleno berfokus pada perencanaan ekonomi dan disiplin Partai, banyak warga di seluruh Tiongkok tampak tidak peduli. Wawancara di beberapa provinsi menunjukkan bahwa sebagian besar orang lebih khawatir tentang meningkatnya biaya hidup, pengangguran, dan berkurangnya tunjangan sosial.
Hu Jiangsheng, seorang pensiunan pekerja dari Taizhou, Provinsi Jiangsu, mengatakan kepada The Epoch Times:
“Partai mengadakan rapat setiap tahun, tapi kami tidak mengerti isi dokumen-dokumen itu. Saya hanya berharap biaya pengobatan tidak terus naik dan lebih banyak obat bisa diganti asuransi. Belakangan ini, sistem asuransi berhenti menanggung banyak obat. Hidup makin sulit.”
Di Tianjin, seorang pengemudi pengantar barang bernama Liu, yang juga meminta hanya disebut marganya, menyampaikan keluhan serupa:
“Rapat-rapat ini tidak ada hubungannya dengan kami. Saya hanya berharap harga bensin tidak naik dan platform [perdagangan daring] berhenti mengambil komisi yang begitu besar. Mereka selalu bicara soal meningkatkan kesejahteraan sosial, tapi semakin banyak bicara, keadaan malah makin buruk. Harus dibaca terbalik ucapan mereka itu.”
Para Pengadu Bersembunyi Saat Polisi Mengetatkan Penindakan
Di Yanjiao, sebuah kawasan industri di timur Beijing dengan sewa yang lebih murah, banyak pengadu sementara bersembunyi di sana untuk menghindari razia polisi.
Li dari Provinsi Liaoning, yang juga hanya ingin disebut marganya, mengatakan bahwa ia telah bersembunyi di sana selama sebulan.
“Polisi ada di mana-mana menangkap orang,” ujarnya kepada The Epoch Times. “Saya tidak bisa ke Beijing atau pulang ke rumah, jadi saya tinggal di sini sampai Sidang Pleno selesai. Di gedung ini saja ada setidaknya belasan pengadu.”
Ketika ditanya tentang sidang tersebut, ia menjawab: “Itu ada hubungannya apa dengan kami? Rapat-rapat mereka hanya untuk kepentingan mereka sendiri. Pemerintah tidak pernah menolong rakyat biasa. Mereka hanya menindas kami. Apa yang dikatakan di berita terdengar bagus, tapi semuanya palsu.”
Janji Ekonomi Versus Realitas Sehari-hari
Media pemerintah dalam beberapa minggu terakhir menekankan slogan-slogan seperti “memperluas permintaan dalam negeri”, “menstabilkan lapangan kerja”, dan “melindungi kehidupan rakyat.” Namun data menunjukkan bahwa kepercayaan konsumen tetap lemah, pengangguran pemuda tinggi, dan pemerintah daerah menghadapi tekanan fiskal yang berat.
Sebuah laporan yang dirilis bulan ini oleh Biro Statistik Nasional PKT sendiri menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan rumah tangga melambat dan sentimen konsumen tetap lesu.
Wang Juan, seorang pekerja pabrik dari Xiangyang, Provinsi Hubei, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa ia tidak melihat adanya perbaikan dalam biaya hidup, terutama di bidang kesehatan.
“Biaya medis terus naik, dan obat-obatan semakin mahal,” katanya. “Pemerintah mengadakan begitu banyak rapat, tapi pelayanan kesehatan malah makin buruk.”
Zhang dari Beijing, yang tidak ingin disebut nama lengkapnya, telah berjuang bertahun-tahun dalam sengketa properti.
“Mereka bicara tentang ‘kemakmuran bersama’, tapi rakyat biasa bahkan tidak bisa membela haknya sendiri. Siapa yang punya waktu untuk menonton Sidang Pleno?” ujarnya.
Seorang pekerja restoran di Tianjin juga mengatakan kepada The Epoch Times: “Kami hanya berharap harga rumah tidak turun lebih jauh dan gaji kami tidak dipotong lagi. Pemerintah bilang sedang menstabilkan ekonomi, tapi kami justru khawatir kehilangan pelanggan setiap hari.”
Di media sosial Tiongkok, topik “rakyat biasa tidak merasakan apa-apa tentang Sidang Pleno Keempat” memicu diskusi luas. Banyak warganet mengungkapkan kekhawatiran tentang harga bahan bakar dan program asuransi sosial.
Secara resmi, Sidang Pleno Keempat terutama berfokus pada perencanaan jangka panjang bagi ekonomi nasional, agenda sosial, dan penguatan kendali Partai.
Xing Du turut berkontribusi dalam laporan ini.


