Pabrik Gas Utama Rusia Rusak Parah Hingga Trump Serukan Pembekuan di Garis Depan Demi Mengakhiri Perang

Pada 19 Oktober 2025, drone Ukraina melancarkan serangan terhadap salah satu pabrik pengolahan gas alam terbesar di dunia — Pabrik Gas Orenburg di Rusia. Serangan itu memaksa Kazakhstan untuk mengurangi impor gas alamnya hampir 30%. Sementara itu, Amerika Serikat berencana menyediakan 25 sistem pertahanan udara Patriot untuk Ukraina, dan Presiden Donald Trump menyerukan agar kedua pihak segera melakukan gencatan senjata dan mempertahankan garis depan sebagaimana adanya.

EtIndonesia. Drone Ukraina terbang langsung menuju target. Meskipun dari darat terdengar tembakan gencar untuk mencegatnya, serangan tersebut tetap berhasil. Ketika ledakan terjadi, langit malam seolah berubah menjadi siang hari.

Itulah cuplikan serangan drone Ukraina terhadap Pabrik Gas Orenburg di Rusia. Fasilitas energi ini terletak sekitar 1.700 kilometer di timur perbatasan Rusia–Ukraina dan merupakan salah satu pabrik pengolahan gas terbesar di dunia. Negara tetangga Rusia, Kazakhstan, mengkonfirmasi bahwa setelah serangan tersebut, Orenburg terpaksa menghentikan impor gas dari Kazakhstan.

Menurut sumber industri yang dikutip Reuters pada Senin (20 Oktober), akibat serangan itu, ladang kondensat gas Kazakhstan mengalami penurunan produksi sebesar 25% hingga 30%.

Pada saat yang sama, kilang minyak Novokuibyshevsk — yang dikelola oleh perusahaan minyak negara Rusia Rosneft — juga menjadi sasaran serangan drone Ukraina, sehingga pengolahan minyak mentah di sana harus dihentikan.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan, “Faktanya, setiap hari atau dua hari sekali, kilang minyak Rusia menjadi sasaran serangan.”

Sembari menyerang fasilitas energi Rusia, Ukraina juga terus berupaya memperoleh dukungan dari Amerika Serikat dan sekutu Eropa.

Meskipun Presiden Trump belum membuat keputusan akhir terkait kemungkinan pengiriman rudal Tomahawk ke Kyiv, Zelensky mengkonfirmasi bahwa setelah pertemuan di Washington, Ukraina dan AS berencana menandatangani kontrak pengadaan 25 sistem pertahanan udara Patriot, yang akan dilaksanakan dalam beberapa tahun ke depan.

Selain itu, Presiden Trump secara terbuka mendesak agar Rusia dan Ukraina segera melakukan gencatan senjata dan membagi wilayah sesuai garis depan yang ada saat ini — dan Zelensky menyatakan persetujuan terhadap gagasan itu.

“Saya katakan, mereka harus segera menghentikan pertempuran di garis depan, pulang ke rumah, berhenti saling membunuh, dan akhiri (konflik) ini,” kata Trump. 

Seorang wartawan bertanya:

“Lalu bagaimana dengan wilayah Donbas?”

Trump menjawab:

“Biarkan saja seperti itu. Sekarang wilayah itu sudah terbagi.”

Zelensky menambahkan:

“Ya, saya setuju. Jika kita ingin mengakhiri perang ini dan memulai perundingan damai, kita perlu segera mempertahankan status quo melalui cara diplomatik — bukan menyerah pada apapun yang diinginkan Putin.”

Kremlin menanggapi bahwa posisi Rusia tidak berubah. Moskow sebelumnya telah menyatakan penolakannya terhadap pembekuan garis depan saat ini, dan menegaskan bahwa mereka akan merebut seluruh wilayah Donbas.

Pada hari Senin, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio berbicara lewat telepon dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov. Keduanya diperkirakan akan mengadakan pertemuan tatap muka pada 23 Oktober sebagai persiapan untuk pertemuan mendatang antara Trump dan Putin. (Hui/asr)

 oleh Yi Jing, NTD News

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine