Korea Utara Luncurkan Rudal Balistik Menjelang Kunjungan Trump ke Asia

Presiden AS dijadwalkan berangkat ke Asia pada akhir pekan ini.

EtIndonesia. Korea Utara menembakkan beberapa rudal balistik jarak pendek pada 22 Oktober, menurut laporan militer Korea Selatan. Peluncuran ini merupakan yang pertama sejak Mei lalu dan terjadi seminggu sebelum Presiden Amerika Serikat Donald Trump serta sejumlah pemimpin dunia dijadwalkan menghadiri KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Gyeongju, Korea Selatan, pada 31 Oktober hingga 1 November.

Dalam pernyataannya, Staf Gabungan Korea Selatan menyebutkan bahwa proyektil tersebut ditembakkan dari wilayah dekat Pyongyang pada 22 Oktober dini hari dan meluncur sejauh sekitar 350 kilometer ke arah timur laut. Seorang pejabat militer menyatakan bahwa rudal-rudal itu tampaknya jatuh di daratan.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menegaskan bahwa peluncuran tersebut tidak menimbulkan ancaman langsung bagi keamanan Jepang, sembari menambahkan bahwa Tokyo berbagi informasi secara waktu nyata dengan Washington dan Seoul.

Uji coba rudal itu melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB yang melarang Pyongyang menggunakan teknologi balistik. Ini juga merupakan peluncuran pertama sejak Lee Jae-myung menjabat sebagai Presiden Korea Selatan pada Juni lalu, setelah berjanji akan membuka kembali dialog dengan Korea Utara.


Kunjungan Trump ke Asia

Trump dijadwalkan berangkat ke Asia pada akhir pekan ini, yang akan menjadi perjalanan perdananya ke kawasan tersebut selama masa jabatan keduanya.

 Ia akan memulai lawatan di Malaysia untuk menghadiri sebuah KTT regional, kemudian melanjutkan perjalanan ke Jepang, dan akhirnya ke Korea Selatan untuk menghadiri KTT APEC.

“Saya akan ke Malaysia, kemudian ke Jepang, dan beberapa negara lainnya. Bisa dibilang ini semacam tur kecil,” ujar Trump kepada wartawan pada 20 Oktober.

Pejabat Korea Selatan menyatakan pada 20 Oktober bahwa mereka berharap dapat menyelesaikan perjanjian perdagangan baru dengan Amerika Serikat selama perundingan langsung yang akan datang.

Pada 30 Juli lalu, Trump mengumumkan bahwa telah tercapai kesepakatan awal untuk menurunkan tarif barang-barang asal Korea Selatan menjadi 15 persen, serta mendorong investasi Korea Selatan sebesar 350 miliar dolar AS di Amerika Serikat.

Namun, Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick kemudian menjelaskan bahwa meski kesepakatan itu telah disetujui secara prinsip, belum ada dokumen resmi yang ditandatangani.


Dinamika Kawasan

Pada Agustus lalu, Trump memberi sinyal bahwa pertemuan puncak dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un bisa saja terjadi.

“Saya ingin bertemu dengannya tahun ini… Saya menantikan kesempatan bertemu Kim Jong Un di waktu yang tepat,” kata Trump.

Selama masa jabatan pertamanya, Trump telah bertemu tiga kali dengan pemimpin komunis tersebut, bahkan menjadi presiden AS pertama yang menginjakkan kaki di Korea Utara.

Pada September, Kim mengatakan bahwa ia memiliki kenangan baik tentang Trump dan tidak menutup pintu untuk berdialog dengan Washington, asalkan Amerika Serikat menghapus tuntutan agar Pyongyang menyerahkan senjata nuklirnya.

Kim kembali menegaskan bahwa Korea Utara tidak akan pernah menyerahkan senjata nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi.
Ia juga mengaku telah menolak tawaran terbaru dari Seoul dan Washington, termasuk proposal Korea Selatan untuk membongkar program nuklir Pyongyang secara bertahap.

Sebelum berangkat ke New York pada 22 September untuk menghadiri Sidang Umum PBB, Presiden Lee menyebut pembekuan program nuklir Korea Utara sebagai langkah darurat sementara dan alternatif realistis terhadap denuklirisasi penuh.

“Selama kita tidak meninggalkan tujuan jangka panjang denuklirisasi, saya yakin ada manfaat jelas jika Korea Utara menghentikan pengembangan senjata nuklir dan misilnya,” ujar Lee kepada BBC bulan lalu.

 “Pertanyaannya adalah, apakah kita terus mengejar tujuan akhir yang mustahil, atau menetapkan target yang lebih realistis dan benar-benar mencapainya.”


Unjuk Kekuatan Militer

Awal bulan ini, Kim Jong Un menampilkan rudal balistik antarbenua terbaru Korea Utara dalam parade militer memperingati 80 tahun Partai Pekerja, yang dihadiri pejabat tinggi dari Tiongkok dan Rusia.

Korea Utara telah menyatakan diri sebagai negara nuklir sejak 2022, dan mengesahkan undang-undang yang memungkinkan serangan nuklir otomatis terhadap “kekuatan musuh” yang dianggap menimbulkan ancaman langsung terhadap negara tersebut, demikian dilaporkan oleh Kantor Berita Pusat Korea (KCNA).


Laporan ini disusun oleh Catherine Yang, Associated Press, dan Reuters

Sumber : Theepochtimes.com

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine