Pada Selasa (21/10/2025), Gedung Putih mengumumkan bahwa pertemuan puncak antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin, yang semula dijadwalkan berlangsung dalam dua minggu mendatang di Budapest, ditunda.
EtIndonesia. Seorang pejabat senior Gedung Putih mengatakan bahwa setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov melakukan “pembicaraan yang konstruktif”, kedua pihak memutuskan untuk membatalkan pertemuan tatap muka. “Presiden Trump untuk saat ini tidak memiliki rencana untuk bertemu dengan Presiden Putin,” ujarnya.
Sebelumnya, setelah berbicara melalui telepon dengan Putin pekan lalu, Trump menyatakan niatnya untuk bertemu Putin di ibu kota Hongaria, Budapest, dalam upaya mencari solusi diplomatik untuk mengakhiri perang Rusia–Ukraina.
Setelah itu, Trump juga bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Gedung Putih, dan meminta kedua pihak untuk segera melakukan gencatan senjata serta memulai perundingan damai di garis depan saat ini. Namun, Putin tampaknya tidak bersedia berkompromi.
Menurut laporan Reuters, pada akhir pekan lalu Rusia mengirimkan dokumen pribadi yang disebut “nota tidak resmi” kepada Amerika Serikat. Dalam dokumen tersebut, Moskow kembali menegaskan syarat lamanya untuk perjanjian damai, yaitu menuntut penguasaan penuh atas wilayah Donbas di timur Ukraina. Permintaan ini pada dasarnya menolak usulan Trump agar garis depan dibekukan dan negosiasi dimulai dari posisi saat ini.
Saat ini, Rusia telah menguasai seluruh wilayah provinsi Luhansk dan sekitar 75% wilayah Donetsk, dua wilayah yang bersama-sama membentuk kawasan Donbas. Presiden Zelenskyy menegaskan bahwa Ukraina tidak dapat menyerahkan bagian Donbas yang masih dikuasainya, karena Rusia bisa menggunakan wilayah itu sebagai batu loncatan untuk serangan berikutnya.
Ketika ditanya wartawan tentang prospek KTT Budapest, Trump mengatakan ia tidak ingin mengadakan “pertemuan yang membuang-buang waktu”, namun menyiratkan bahwa masih ada kemungkinan perkembangan baru, seraya menambahkan, “Dalam dua hari ke depan kami akan memberi tahu kalian.”
Sementara itu, Kirill Dmitriev, utusan khusus investasi Rusia, menulis di media sosial bahwa persiapan untuk KTT tersebut “masih terus berlanjut.”
Baik pihak AS maupun Rusia belum secara resmi membatalkan pertemuan “Trump–Putin”. Menteri Luar Negeri Hongaria Peter Szijjarto menyatakan optimismenya terhadap pertemuan itu. Ia tiba di Washington pada Selasa dan menulis di Facebook: “Beberapa hari ke depan akan menjadi hari-hari penting.”
Namun, dua diplomat senior Eropa menyatakan pandangan yang pesimistis. Mereka menilai bahwa penundaan pertemuan antara Rubio dan Lavrov menunjukkan bahwa Amerika tidak mau melanjutkan KTT Trump–Putin kecuali Moskow mengendurkan tuntutannya.
Salah satu diplomat itu mengatakan, “Saya rasa orang-orang Rusia menuntut terlalu banyak, dan pihak Amerika jelas berpikir tidak akan ada kesepakatan yang tercapai di Budapest.”
Dikabarkan bahwa pekan ini Rubio masih mungkin melakukan panggilan telepon lanjutan dengan Lavrov. Keduanya juga dijadwalkan melakukan perjalanan ke Malaysia — Rubio akan terbang ke sana pada Jumat — dan kemungkinan bisa bertemu di sana, meskipun belum ada jadwal resmi yang ditetapkan. (hui/asr)


