EtIndonesia. Berbagai sumber diplomatik di Washington, Tel Aviv, Abu Dhabi, dan Riyadh mengonfirmasi bahwa Amerika Serikat kini tengah memfinalisasi model tata kelola baru untuk Gaza pasca fase perang “pembersihan penuh” terhadap Hamas.
Model ini secara eksplisit dirancang bukan untuk mengembalikan kekuasaan Hamas, tetapi juga tidak akan mengizinkan Israel menguasai penuh Gaza secara langsung.
Inilah posisi strategis yang kini disebut di kalangan Gedung Putih dan Pentagon sebagai: “Gaza tanpa Hamas, tapi juga tanpa Israel.”
Inti Rancangan “GAZA 2.0” — Blueprint AS
- Hamas dibubarkan, bukan dihancurkan total lewat perang, melainkan lewat negosiasi dan tekanan internasional (agar tidak melahirkan narasi syahid atau dendam generasi)
- Pasukan penjaga perdamaian internasional, tetapi tidak melalui PBB — melainkan 100% aliansi kemitraan keamanan yang diseleksi langsung oleh AS bersama UEA & Arab Saudi
- Pemerintahan teknokrat model “Singapura”, bukan Hamas, bukan Fatah — figur sipil, teknokrat ekonomi, dan diaspora Palestina yang dianggap netral serta anti-ideologi
- Perjanjian keamanan jangka panjang yang dikunci AS–Israel–UEA–Saudi, berjenis military access agreement mirip pangkalan Diego Garcia
- Ekonomi Gaza dibuka untuk investasi global, tetapi arsitektur keamanan finansial dikunci total (Gaza tidak boleh lagi menjadi basis roket, terowongan senjata, atau negara bayangan Iran)
Tujuan Utama Washington
Menurut pejabat Gedung Putih yang dikutip Wall Street Journal dan Axios pada 24 Oktober 2025, blueprint Gaza 2.0 ini dirancang untuk sekaligus:
• Mengakhiri legitimasi militer Hamas tanpa menciptakan “trauma kolektif” atau narasi korban
• Mempercepat konsolidasi aliansi keamanan baru AS–Arab–Israel menjelang Pemilihan Presiden AS 2026
• Membangun etalase demonstrasi bahwa Trump mampu menciptakan perdamaian model ekonomi — bukan perang panjang ala era Bush–Obama
Model ini disebut sebagai “Singapore of the Levant”, atau “Dubai versi Palestina” — ekonomi terbuka, politik terkunci, keamanan dikendalikan multinasional.
Kesimpulan Strategis
Washington sedang membuat Gaza menjadi:
– Bebas dari Hamas secara politik dan militer
– Tidak menjadi protektorat Israel secara langsung
– Dipagari oleh aliansi keamanan multilateral, bukan dianggap konflik bilateral Israel–Palestina
– Disulap menjadi proyek ekonomi besar untuk mendongkrak legitimasi perdamaian jangka panjang dan citra Trump internasional
Inilah fondasi geopolitik baru yang akan menentukan masa depan Timur Tengah — dan Gaza untuk pertama kalinya dalam sejarah tidak ditentukan oleh perang, melainkan oleh rekayasa sistemik ekonomi–keamanan global.


