Menyaksikan Kengerian Pandemi Wuhan: Setiap Hari Sekitar 3.000 Orang Meninggal Dunia

Sebagai akibat rezim Partai Komunis Tiongkok (PKT) dengan keras menutupi kenyataan yang sebenarnya, hingga kini dunia luar masih sulit mengetahui angka kematian sebenarnya akibat wabah COVID-19 (virus PKT) yang merebak di Wuhan pada akhir tahun 2019. Baru-baru ini, seorang mantan perawat rumah sakit kelas tiga di Wuhan, bernama Zhang Yu, mengungkapkan kepada media ini pengalaman langsungnya menyaksikan situasi mengerikan selama pandemi tersebut.

EtIndonesia. Pada 30 Desember 2019, Komisi Kesehatan Kota Wuhan mengeluarkan pemberitahuan darurat yang melarang keras penyebaran informasi tentang penanganan pasien. Sehari kemudian, mereka kembali mengumumkan bahwa “belum ditemukan bukti penularan antarmanusia”, serta “tidak ada tenaga medis yang tertular.”

Namun, bukti penularan dari manusia ke manusia mulai bermunculan. Rumah sakit dipenuhi pasien, sementara otoritas kesehatan Wuhan terus bersikeras bahwa “wabah ini dapat dicegah dan dikendalikan.” Mereka bahkan menindak para dokter yang mencoba memperingatkan publik, termasuk Dr. Li Wenliang, yang kemudian dikenal dunia sebagai pelapor pertama COVID-19.

Baru pada 20 Januari 2020, publik untuk pertama kalinya diberi tahu bahwa COVID-19 adalah penyakit menular berbahaya. Namun saat itu, keadaan sudah tak terkendali.

“Unit gawat darurat dan poliklinik seperti neraka di dunia. Rasanya seperti malaikat maut berdiri di sana, memetik nyawa satu per satu. Kami benar-benar kewalahan. Tidak ada mobil di jalan, hanya ambulans yang lalu-lalang semalaman. Suara sirene tak berhenti. Jalanan kosong seperti kota mati,” ujar Zhang Yu mengenang dalam wawancara dengan NTD yang disiarkan 24 Oktober 2025. 

“Banyak orang bahkan tak sempat melihat keluarga mereka untuk terakhir kali. Yang paling menyedihkan, ada seorang anak kecil yang keluarganya—kakek, nenek, ayah, ibu—semua meninggal karena COVID. Hanya dia yang selamat. Saya melihatnya dan hati saya benar-benar hancur,” lanjutnya. 

Pada akhir Januari, Zhang Yu dipindahkan untuk membantu di bangsal pasien COVID-19, menyaksikan secara langsung masa tergelap Wuhan. Karena kekurangan alat pelindung diri (APD), kadang mereka harus menggunakan kantong plastik sebagai pelindung darurat, dan banyak tenaga medis tertular.

Ia juga mengungkapkan bahwa rumah sakit mendapat instruksi untuk tidak melakukan resusitasi jantung paru (CPR) pada pasien yang henti napas, agar tenaga medis tidak tertular.

“Semua orang tahu, kalau pasien berhenti bernapas dan tidak dilakukan CPR, artinya sama saja dengan menyerah. Mereka hanya diberi obat dan dibiarkan berjuang sendiri. Saya sangat marah. Kenapa negara tidak mengumumkan wabah ini lebih awal? Kenapa tidak memperingatkan masyarakat sejak dini?”

Sementara wabah semakin parah, pemerintah provinsi Hubei tetap mengadakan acara besar-besaran, termasuk pesta “10.000 keluarga” di Distrik Jianghan pada 18 Januari.

Pada 23 Januari 2020, situasi memburuk drastis. Kota berpenduduk 11 juta jiwa itu akhirnya menjalani lockdown total untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Pada 4 April, saat peringatan Qingming (Hari Arwah), pemerintah PKT mengklaim bahwa hanya sekitar 80.000 orang terinfeksi dan 3.300 lebih meninggal di seluruh negeri.

Namun, Zhang Yu menegaskan bahwa dari Desember 2019 hingga Maret 2020, angka kematian sebenarnya jauh melampaui angka resmi.

“Saat puncak pandemi, saya memperkirakan lebih dari 3.000 orang meninggal setiap hari di Wuhan. Hampir setiap rumah sakit kehilangan lebih dari 100 pasien per hari. Tapi banyak sertifikat kematian tidak mencantumkan ‘pneumonia’ atau ‘COVID’, melainkan diagnosis lain seperti hipertensi atau pneumonia komunitas. Saya ingat, dalam dua minggu saja, satu lantai rumah sakit sudah menghabiskan satu buku penuh sertifikat kematian.”

Pada 12 Februari 2021, saat warga Wuhan melakukan ritual sembahyang Imlek untuk mendiang keluarga, bunga krisan di seluruh kota habis terjual. Pemilik toko bunga yang sudah 30 tahun berjualan mengatakan belum pernah melihat permintaan sebesar itu. Media pemerintah menyebutnya tanda “kehidupan normal kembali,” tetapi warga lokal tahu bahwa itu karena terlalu banyak orang yang meninggal tahun sebelumnya.

Zhang Yu berkata: “Tahun 2021, saat orang pergi menyalakan dupa di makam keluarga, jalanan Wuhan macet total. Itu artinya banyak sekali orang yang meninggal. Semua orang tahu jumlah kematian jauh lebih besar dari yang diumumkan. Sangat ironis.”

Pada Desember 2022, ketika PKT tiba-tiba mencabut kebijakan “nol COVID”, gelombang infeksi baru kembali melanda. Di berbagai kota, rumah sakit dan krematorium penuh sesak, antrian panjang jenazah terjadi di mana-mana, bahkan muncul kasus satu tungku membakar beberapa jenazah sekaligus. Namun, angka resmi korban tetap sangat rendah. (Hui/asr)

INSPIRASI ERABARU

Chemistry Tumbuh dari Kedekatan: Mengapa Kencan Tatap Muka Masih Tak Tergantikan di Era Digital

Di era ketika lebih dari setengah lajang berusia di bawah 30 tahun menggunakan aplikasi kencan, berbagai bukti menunjukkan bahwa pendekatan digital terhadap percintaan mungkin...

Mengapa Introvert dan Ekstrovert Sama-Sama Berperan Penting dengan Kekuatan Mereka yang Unik

Cara sistem saraf kita merespons lingkungan sosial mencerminkan lebih dari sekadar kepribadian. Oleh Sarah Campise Hallier Dua orang teman memasuki sebuah bar karaoke. Yang satu langsung...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine