EtIndonesia. Ketegangan geopolitik global kembali bergerak cepat menjelang KTT APEC 2025 yang akan diselenggarakan di Korea Selatan pada 30 Oktober hingga 1 November 2025. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dikabarkan akan terbang ke Seoul pada 31 Oktober, dan berencana mengadakan pertemuan bilateral tingkat tertinggi dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, untuk membahas secara langsung kemungkinan penghentian perang Rusia–Ukraina.
Beijing Konfirmasi Xi Hadir di APEC — Tapi Pertemuan dengan Trump Masih “Menunggu Finalisasi”
Pada 24 Oktober 2025, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, mengonfirmasi bahwa Xi Jinping akan menghadiri APEC di Seoul. Namun ketika ditanya apakah pertemuan Xi–Trump sudah pasti, ia hanya menjawab diplomatis: “Komunikasi intensif sedang berlangsung. Jika ada kabar, akan segera kami umumkan.”
Pernyataan tersebut menguatkan dugaan bahwa pembicaraan soal Ukraina dan stabilitas energi global menjadi agenda utama.
Manuver Kilat Kremlin — Putin Kirim Negosiator Tertinggi ke AS
Di saat yang hampir bersamaan, negosiator utama Kremlin, Kirill Dmitryev, mendadak terbang ke Miami, Amerika Serikat, dan dijadwalkan bertemu utusan khusus Trump, Robert Whitcoff, pada 25 Oktober — sebuah sinyal kuat bahwa Putin kini diam-diam membuka jalur diplomasi darurat.
Namun Trump sebelumnya pada 22 Oktober di Oval Office, usai bertemu Sekjen NATO Mark Rutte, menegaskan: “Pertemuan saya dengan Putin resmi dibatalkan. Ini bukan waktu yang tepat — sanksi harus dijalankan terlebih dahulu.”
Dua Papan Strategi Trump: Tiongkok dan Rusia Sekaligus
Trump secara terbuka mengatakan bahwa Xi Jinping kini mulai ‘membuka pintu’ untuk membicarakan akhir perang — dan menilai Tiongkok adalah kunci menekan Rusia, terutama dari sektor energi.
Pada saat yang sama, Trump menegaskan: “India kemungkinan hampir sepenuhnya menghentikan impor minyak Rusia pada akhir tahun ini.”
Empat perusahaan minyak negara Tiongkok dikabarkan juga menunda pembelian minyak Rusia via laut — hanya 24 jam setelah Washington menjatuhkan sanksi penuh terhadap Rosneft dan Lukoil pada 22 Oktober 2025.
Putin dan Pengamat Rusia Mulai Menunjukkan Kekhawatiran
Meski Putin pada 23 Oktober melalui media Rusia menyatakan bahwa “sanksi AS tidak akan mengguncang ekonomi Rusia,” namun Trump membalas pada 24 Oktober dengan peringatan keras: “Kalau dia yakin begitu, bagus — enam bulan lagi kita lihat hasilnya.”
Lebih menarik, pada 24 Oktober, analis politik Rusia Kabejeva secara mengejutkan menyatakan: “Zelenskyy menyerang kilang minyak. Trump menjatuhkan sanksi. Dana perang mulai menipis.”
Pengakuan terbuka ini jarang terjadi di media Rusia — menandakan arah opini elite politik Moskow mulai retak.
Ukraina Mengklaim Kini Punya Rudal Jelajah 3.000 km
Pada 23 Oktober, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa Ukraina kini telah mampu memproduksi rudal strategis jarak 3.000 km, termasuk rudal jelajah Flamingo, dan “siap digunakan untuk serangan skala besar.”
Putin langsung membalas: “Kami akan membalas dengan kekuatan yang jauh lebih besar.”
Apakah Pertemuan Xi–Trump Akan Menentukan Masa Depan Perang?
Pertemuan Xi–Trump di APEC Korea Selatan kini dipandang sebagai momen geopolitik paling krusial tahun ini. Jika disepakati jalur kompromi energi dan rekonstruksi, gencatan senjata Rusia–Ukraina dapat dimulai lebih cepat dari perkiraan.
Namun jika kedua pihak gagal mencapai titik temu — maka eskalasi militer Rusia–Ukraina justru bisa memasuki babak paling berbahaya sejak 2022.


