EtIndonesia. Apa itu cinta? Apa itu keluarga? Apa sebenarnya makna kebahagiaan? Semakin seseorang mendekati kematian, semakin dia memahami arti kehidupan.
Tokoh dalam kisah ini dikenal sebagai “Dashi Xiong”, seorang generasi 90-an yang bekerja sebagai pengelola ruang pendingin (cold storage) di rumah duka. Setiap jenazah yang masuk ke rumah duka wajib diperiksa dan dicatat olehnya sebelum disimpan dalam freezer. Jika ada kasus tanpa keluarga atau tidak ada rumah duka yang mau menangani — seperti bunuh diri, kecelakaan, tunawisma, atau lansia yang meninggal sendirian — dia dan timnya akan turun langsung mengambil jenazah ke lokasi.
Dalam 2–3 tahun bekerja, ia sudah “bertemu” dengan lebih dari seribu jenazah.
Menurutnya: “Yang gantung diri kami sebut ‘main ayunan’, yang lompat gedung disebut ‘Peter Pan’, jenazah membusuk disebut ‘Hulk’, bunuh diri bakar arang disebut ‘Si Hitam Kecil’. Orang yang terlalu gemuk saat dikremasi kadang bikin api ‘meledak’. Dan ‘舍利子-Śarīra (relik Buddha)’ itu? Sering kali cuma batu ginjal.”
Pada Desember 2018, dia menerbitkan buku berjudul 《你好,我是接體員》 (Halo, Saya Petugas Pengangkut Jenazah) — sebuah catatan dunia kematian yang dituturkan dengan humor yang pahit.
Di mata mereka yang bersentuhan langsung dengan kematian, setiap lemari freezer adalah satu kisah kehidupan. Nama panggilan jenazah terdengar menyeramkan — tapi justru yang lebih dingin dari kematian adalah sikap manusia. Bekerja di rumah duka membuat seseorang belajar mengatur kematian mereka sendiri jauh sebelum waktunya tiba.
“Keluarga bukan tentang darah yang sama — melainkan tentang siapa yang masih mengingatmu setelah kamu tiada.”
Penulis Rusia Leo Tolstoy pernah berkata: “Semua keluarga bahagia itu mirip satu sama lain, tetapi setiap keluarga yang tidak bahagia — memiliki luka yang berbeda-beda.”
Di rumah duka, kalimat ini terbukti berkali-kali, : “Kalau nggak nikah dan nggak punya anak, nanti kalau mati nggak ada yang urus jenazah.”
Dashi menjawab dalam hati: “Kalian salah. Di rumah duka, sangat banyak orang yang punya banyak anak — tapi tidak ada satu pun yang mau mengambil abu jenazahnya.”
Setelah upacara kremasi massal, banyak keluarga menolak mengambil abu jenazah karena masalah perebutan warisan atau konflik lama yang belum selesai. Abu-abu tak bertuan itu menumpuk bertahun-tahun — dan akhirnya hanya bisa ditabur sembarangan di tanah makam, atau… dibuang seperti sampah.
Dia sudah melihat banyak jenazah mengerikan — tetapi menurutnya, yang paling menakutkan bukanlah kematian, melainkan keluarga yang tidak peduli.
Contoh nyata:
- Ada anak yang memasukkan abu ayah-ibunya ke kaleng cemilan anak-anak — atau malah membuangnya begitu saja.
- Ada lansia yang koma lalu dianggap mati, dimasukkan ke kantong jenazah padahal masih bernapas.
Ketika petugas berkata: “Pak, beliau masih bernapas,” sang anak menjawab: “Kalau gitu tetap dimasukin freezer nggak?” - Ada mayat yang hanya ditemukan setelah menjadi tulang belulang. Saat polisi menemukan keluarganya — alamatnya sangat familiar… Kakaknya tinggal di unit sebelah. Mereka bertengkar soal warisan — dan tak pernah bicara selama bertahun-tahun.
Saat diberitahu adiknya meninggal, sang kakak malah menjawab santai: “Akhirnya mati juga.”
- Ada ayah tewas dalam kecelakaan.
Satu-satunya yang datang adalah putranya, seorang narapidana. - Ia menatap mayat ayahnya dan berkata:“Gue cuma mau lihat lo mati kayak apa. Emang pantas.”
“Itu pun darah daging. Tapi lihatlah — betapa mengerikannya dendam dalam keluarga.”
Namun rumah duka juga menyimpan haru — kisah cinta paling sunyi.
Seorang wanita datang setiap hari untuk melihat jenazah kekasih perempuannya — namun ditolak keluarga karena ‘bukan keluarga sedarah’ secara hukum. Dia hanya bisa berdiri di depan freezer, menangis setiap hari, sampai hari kremasi.
Akhirnya, setelah melihat kesetiaannya… keluarga almarhumah berkata kepada petugas: “Tolong berikan sebagian abunya untuk dia.”
Kadang cinta dan keluarga tidak butuh surat hukum — cukup pengakuan hati.
Kekayaan? Tidak menjamin kebahagiaan.
“Setiap kali saya ambil jenazah dari rumah mewah, hampir semuanya bukan karena meninggal wajar — tapi karena narkoba atau bunuh diri.”
Bahkan ada pasangan kaya raya yang bakar diri dalam mobil karena terlilit utang judi. Rumah terjual, tabungan habis — keluarga bahkan tak mampu membiayai pemakaman.
Satu-satunya yang membantu hanyalah sepupu, yang berkata: “Saya cuma punya 30 ribu. Tapi saya nggak tega.”
Uang menguak sisi tergelap manusia.
Dashi pernah menyaksikan anak perempuan menendang pamannya di tengah upacara kremasi karena berebut warisan. Ada keluarga yang membakar perhiasan untuk dikirim ke almarhum — tapi begitu mereka pergi, petugas nakal mengambil semuanya.
Ada makeup artist rumah duka yang menukar cincin asli dengan cincin palsu sebelum upacara. Kasih sayang anak — masuk ke kantong orang asing.
Padahal uang itu tidak bisa dibawa mati. Bahkan setelah kremasi, kadang ditemukan emas yang tidak ikut meleleh. Para petugas menyebutnya “uang adat” — tapi bukan untuk diri mereka. Mereka kumpulkan — ditukar jadi makan bersama, lalu disumbangkan ke panti sosial.
Jadi — bahagia itu apa?
Dashi berkata pelan: “Sekarang, selama saya masih bisa makan… dan setiap bangun pagi saya masih bisa bernapas… itu sudah sangat bahagia.”
Komentar: Hidup sungguh singkat — dan kematian tidak pernah bisa kita jadwalkan. Jangan tunggu menyesal di depan ruang pendingin. Bahagia bukan soal kaya — tetapi tentang tidak terlambat untuk mencintai. (jhn/yn)


