EtIndonesia. Perasaan manusia memang berubah-ubah — namun sesungguhnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, semua emosi negatif berakar dari keegoisan, yaitu keterikatan pada “aku”.
Coba renungkan:
- Jika sebuah peristiwa terjadi, dan kamu merasa sangat marah — tanyakan pada dirimu: “Kalau kejadian ini tidak ada hubungannya denganku, masihkah aku semarah ini?”
- Ada orang mengucapkan sesuatu — mungkin tanpa maksud apa pun. Tapi jika kamu berpikir: “Dia jelas menyerangku!” — saat itu juga, emosi perlawanan langsung muncul.
- Ada orang mengambil keuntungan dari dirimu. Kalau kamu memilih tidak mempermasalahkan, masalah selesai begitu saja.
Tapi jika kamu berkata: “Dia kira aku gampang dimanfaatkan!” — saat itulah amaramu mulai membesar. - Ketika kekasihmu berjanji lalu membatalkannya, dan kamu berkata: “Kamu sama sekali tidak peduli padaku!” — maka konflik bisa terus melebar tanpa ujung.
Selama masih ada “AKU” di dalam emosi kita, kedamaian akan sangat sulit hadir.
Namun jika kita mampu memandang suatu persoalan tanpa menyertakan ego, hanya menilai dari sudut fakta — hati akan jauh lebih cepat tenang.
Sebaliknya — jika emosi lahir dari ego, dari “AKU”, dari rasa kepemilikan — kita akan terus memutar dalam pikiran, membesar-besarkan luka yang sebenarnya kecil, dan sulit sekali melepaskannya.
Semakin tinggi tingkat keegoisan seseorang, semakin parah pula masalah emosinya.
Coba perhatikan semua emosi negatif: rasa benci, marah, iri, cemburu, dendam — bukankah semua dimulai karena kita merasa tersakiti atau dirugikan?
Ketika kita merasa gagal, cemas, atau takut — bukankah itu karena kita takut tidak mendapatkan atau kehilangan sesuatu yang kita mau?
Sesungguhnya, hampir setiap hari kita memikirkan sang “AKU”:
- “Apakah aku bahagia?”
- “Bisakah aku mendapatkan lebih?”
- “Untungnya buatku apa?”
- “Kenapa dia memperlakukanku seperti ini?”
Begitu banyak “aku” dalam hidup kita.
Walaupun kadang kita bersikap baik, penuh kasih, bahkan rela berkorban — tetapi “aku” itu hampir tidak pernah benar-benar hilang dari pikiran.
Padahal, semakin kita hanya memikirkan diri sendiri — semakin jauh pula kebahagiaan meninggalkan kita.
Bahagia adalah saat kita lupa pada diri sendiri. Menderita adalah saat kita terus menerus mengingat ‘aku’.
Ketika seluruh perhatian hanya diarahkan pada “aku”, kita menjadi sempit, tertutup — mudah terjebak dalam lingkaran:
- kecewa
- marah
- cemburu
- gelisah
- depresi
- dendam
- kekosongan batin
Sebaliknya — saat kita mampu melupakan diri sendiri, banyak sekali beban ikut tertinggal dan lenyap.
Ketika kamu merasa benar-benar bahagia — bukankah pada saat itu kamu sedang “lupa diri”?
Itulah sebabnya mengapa cinta sejati dan pengabdian tanpa pamrih — selalu menghadirkan kebahagiaan terdalam. (jhn/yn)


