EtIndonesia. Uni Eropa pada Rabu (22/10/2025) resmi mengesahkan putaran ke-19 sanksi terhadap Rusia. Pada saat yang sama, Amerika Serikat juga menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan minyak besar Rusia. Ini merupakan sanksi besar pertama yang dijatuhkan Presiden Donald Trump terhadap Rusia sejak memulai masa jabatan keduanya, dengan tujuan menekan Presiden Vladimir Putin agar menghentikan perang. Uni Eropa menyambut langkah ini dengan sangat antusias.
“Saya sangat senang kami berhasil meluncurkan putaran ke-19 sanksi ini, karena kita harus terus memberi tekanan pada Rusia untuk mewujudkan perdamaian,” kata Komisioner Urusan Ekspansi Uni Eropa, Martha Kos.
Putaran sanksi terbaru ini mencakup larangan total pembelian gas alam cair (LNG) asal Rusia.
Sanksi disetujui setelah Slovakia — yang sebelumnya menolak — akhirnya menyatakan dukungan dalam sidang Uni Eropa yang digelar malam itu.
Ketua partai oposisi Slovakia, Michal Šimečka, menyatakan: “Slovakia berharap dapat menjadi negara Eropa yang berdiri di atas hukum dan demokrasi.”
Larangan impor LNG Rusia akan diberlakukan dalam dua tahap:
- Kontrak jangka pendek antara Uni Eropa dan Rusia akan dihentikan dalam enam bulan.
- Kontrak jangka panjang akan berakhir pada 1 Januari 2027.
Sanksi juga membatasi aktivitas diplomat Rusia di wilayah Uni Eropa.
Negara yang kini memegang presidensi bergilir Uni Eropa, Denmark, menegaskan bahwa “langkah sanksi penting ini akan memukul sumber pendapatan utama Rusia melalui tekanan di sektor energi, perdagangan, dan keuangan.”
Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan, Kaja Kallas, menulis di media sosial X: “Sanksi ini menargetkan bank-bank Rusia, bursa kripto, serta sejumlah entitas di India dan Tiongkok. Uni Eropa juga membatasi pergerakan diplomat Rusia untuk menanggapi upaya mereka merusak stabilitas. Putin kini semakin kesulitan menggalang dana untuk perang ini.”
Selain itu, dana Rusia sebesar 180 miliar euro yang disimpan di Euroclear Bank di Belgia sedang dipertimbangkan untuk digunakan dalam membantu Ukraina. Namun, pemerintah Belgia meminta agar risiko penggunaannya dibagi bersama negara lain.
Kanselir Jerman Friedrich Merz mengatakan: “Dalam beberapa hari dan minggu terakhir, saya telah berulang kali berdiskusi dengan Perdana Menteri Belgia mengenai hal ini. Saya memahami kekhawatirannya, tetapi ia juga ingin menemukan solusi bersama. Jadi, saya berharap hari ini kita akan melihat kemajuan lebih lanjut.”
Bersamaan dengan langkah Uni Eropa, Amerika Serikat juga menjatuhkan sanksi besar pada hari yang sama, dengan membekukan aset dua raksasa minyak Rusia — Rosneft dan Lukoil — beserta sejumlah anak perusahaannya. Langkah ini disambut gembira oleh para pejabat Eropa.
Ketua Partai Rakyat Eropa (EPP), Manfred Weber, menyatakan: “Kami mendengar kabar baik dari Amerika Serikat. Trump mulai menjatuhkan sanksi terhadap Rusia. Ini menunjukkan bahwa Trump memahami sifat agresif Putin dan bahwa kerja sama dengannya tidak mungkin dilakukan.”
Perwakilan Tinggi Uni Eropa Kaja Kallas juga menambahkan: “Kami sangat senang mendengar langkah Amerika untuk menjatuhkan sanksi terhadap Rusia. Ini adalah sinyal penting bahwa kita tetap bersatu dalam posisi yang sama.”
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada Kamis turut menyampaikan terima kasih kepada Uni Eropa dan Amerika Serikat. Ia mengatakan bahwa Amerika telah mengirimkan pesan yang jelas.
“Siapa pun yang memperpanjang perang dan menebar teror harus membayar harganya,” katanya. (Hui/asr)
Laporan oleh: Anqi dan Wang Yanqiao | Stasiun Televisi New Tang Dynasty (NTD)


