EtIndoensia. Begitu pesawat khusus Presiden AS Donald Trump mendarat di Kuala Lumpur, ia langsung menuju lokasi untuk menyaksikan penandatanganan perjanjian gencatan senjata antara Thailand dan Kamboja di Pusat Konvensi Kuala Lumpur. Dalam acara itu, hadir pula Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul, Perdana Menteri Kamboja Hun Manet, dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim.
Menurut laporan AFP, semula penandatanganan ini dijadwalkan berlangsung di Bangkok, namun setelah wafatnya Ratu Ibu Thailand pada 24 Oktober malam, acara dipindahkan secara darurat ke Kuala Lumpur. Thailand kini memasuki masa berkabung nasional selama setahun.
Perdana Menteri Thailand Anutin telah membatalkan keikutsertaannya dalam KTT para pemimpin ASEAN di Malaysia dan KTT APEC di Korea Selatan. Namun, ia tetap ingin secara pribadi menandatangani perjanjian damai, sehingga meminta agar upacara dilaksanakan Minggu (26 Oktober), lalu segera kembali ke Thailand setelah penandatanganan.
Trump menulis di platform media sosial miliknya, Truth Social, dari pesawat kepresidenan Air Force One: “Agar semua pihak dapat berpartisipasi dalam momen penting ini, kami akan langsung melaksanakan penandatanganan perjanjian damai begitu mendarat.”
Ia juga menyampaikan belasungkawa kepada rakyat Thailand atas wafatnya Ratu Ibu.
Dalam upacara yang disaksikan oleh Trump dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, Anutin dan Hun Manet menandatangani perjanjian damai tersebut. Kedua negara sebelumnya terlibat bentrokan mematikan di wilayah perbatasan selama lima hari pada Juli, sebelum gencatan senjata sementara dicapai melalui mediasi Trump.
Perjanjian baru ini dibangun di atas dasar kesepakatan gencatan senjata tiga bulan lalu. Saat itu, Trump menelepon para pemimpin Thailand dan Kamboja, mendesak mereka menghentikan aksi militer, dengan peringatan bahwa negosiasi dagang dengan AS bisa ditangguhkan jika permintaan itu diabaikan.
Kementerian Luar Negeri Kamboja menyatakan bahwa perjanjian kali ini juga mencakup pembebasan 18 tawanan perang Kamboja atas dasar kemanusiaan.
Dalam sambutannya, Trump menyebut kesepakatan ini sebagai “langkah bersejarah” dan memuji kedua pemimpin atas usaha mereka menuju perdamaian. Namun, sejumlah analis menilai kedua negara masih perlu menyepakati perjanjian damai yang lebih menyeluruh.
Sejak gencatan senjata awal pada 28 Juli lalu, sempat terjadi beberapa pelanggaran kecil. Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan, yang mewakili ASEAN dalam proses perundingan, mengatakan bahwa perjanjian kali ini menekankan pembentukan tim pemantau regional di wilayah konflik perbatasan.
“Kami berharap tidak akan ada lagi pelanggaran gencatan senjata. Kedua negara harus menarik senjata berat dari daerah perbatasan dan bekerja sama untuk menyingkirkan serta memusnahkan ranjau darat di kawasan tersebut,” ujarnya.
Menurut Reuters, Trump mengatakan: “Selama kedua negara hidup berdampingan dengan damai, Amerika Serikat akan terus menjalin hubungan dagang, kerja sama, dan transaksi besar dengan mereka.”
Perjalanan Trump kali ini merupakan bagian dari lawatannya ke Asia. Ia akan menghadiri KTT ASEAN di Malaysia, kemudian menuju Jepang, dan selanjutnya ke Korea Selatan untuk menghadiri KTT APEC — di mana ia diperkirakan akan melakukan pertemuan penting dengan pemimpin Partai Komunis Tiongkok, Xi Jinping. (Hui)
Sumber : NTDTV.com


